Memanipulasi Nalar Agar Sesuai dengan Pilihan

Selama masa kampanye Pilpres kita dapat melihat bahwa gemerlap dukung mendukung capres lebih terasa di media sosial seperti Facebook, Twitter, blog, dan sebagainya. Di media sosial, para pendukung saling klaim mengklaim bahwa jagoannyalah yang paling bagus dan paling pantas untuk dipilih, lengkap dengan berbagai argumen untuk menguatkan alasannya. Kadang-kadang dukungan kepada capres jagoannya sampai dilakukan secara membabi buta dan sangat fanatik sekali. Sampai-sampai pertemanan di media sosial pun putus gara-gara berbeda pilihan tersebut.

Pilpres kali ini, yang diikuti hanya dua pasang calon, memang telah membelah bangsa ini. Padahal para pendukung capres di media sosial bukan siapa-siapa, mereka tidak punya hubungan personal dengan capres pilihannya. Mereka bukan pula tim sukses capres. Setelah capres jagoan mereka menang, mereka tidak akan mendapat apa-apa, paling-paling bubar sendiri. Yang akan menjadi menteri atau pejabat ya tim sukses capres tersebut.

Para pendukung capres di media sosial sangat keukeuh (bahasa Sunda, artinya ngotot) untuk bertahan dengan pilihan capresnya. Berbagai informasi negatif tentang capresnya tidak dapat mengubah pilihannya. Kalau sudah A ya A, tidak akan pindah ke capres lainnya. Mereka membangun berbagai argumen dan nalar untuk membenarkan pilihannya. Jadi bukan sebaliknya, melakukan nalar dulu baru menentukan pilihan capres.

Saya jadi teringat kutipan seorang rekan di milis ketika mengamati fenomena ini. Saya kutip di sini:

“Saya pernah membaca tulisan seorang peneliti “neuroscience”, yaitu bahwa terdapat kenyataan menyedihkan tentang nalar manusia. Sangat sering manusia memilih dulu, setelah itu nalarnya (yang terlihat seolah sangat cerdas itu) akan membentuk argumen-argumen yang sangat kuat agar sesuai dengan pilihan tsb. Jadi, kata peneliti itu, orang tersebut sebetulnya tidak sungguh-sungguh menggunakan nalarnya, tapi sebaliknya memanipulasi nalarnya agar sesuai dengan pilihannya.”

Kebanyakan dari kita mungkin tergolong manusia seperti ini, termasuk para pendukung capres di media sosial. Pilih dulu capresnya, baru membuat argumen untuk membenarkan pilihan tersebut.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Memanipulasi Nalar Agar Sesuai dengan Pilihan

  1. Fiq berkata:

    Semoga hasil dari pemilu pilpres ini sepadan dengan suasana kampanyenya

    http://www.alatuuji.com

  2. alex berkata:

    Mungkin bisa juga seperti antrian, first in first out. Informasi yang kita terima di awal lebih sesuai dengan asumsi kita, dan lebih kita terima; kita anggap ‘true’. Informasi yang datang belakangan tidak bisa masuk/ditolak karena tdk sesuai informasi pertama. Jadi impresi/kesan awal sangat menentukan. Kalau ga salah ada buku, ‘how to make good impression’.

  3. LITHA berkata:

    SEBAGIAN ORANG NDONESIA SUDAH BANYAK KEHILANGAN NALARNYA KARENA JADI KORBAN MEDIA CETAK DAN ELEKTRONIK YANG MENGGEMBAR-GEMBORKAN JOKOWI DENGAN BERITA-BERITA PALSUNYA. KENYATAANNYA JOKOWI ADALAH CAPRES YANG DIDUKUNG PARTAI PREMAN DAN JUGA PALING KORUP (SUMBER:http://indoline-indonesia.com/2014/03/26/pdip-partai-paling-korup-di-indonesia-bukannya-partai-demokrat/, http://forum.detik.com/kwik-pdip-partai-yang-paling-korup-t919723.html, http://politik.kompasiana.com/2014/02/04/pdip-ngaku-partai-oposisi-indeks-korupsi-paling-tinggi-631175.html). SEMENTARA PARTAI LAIN SEPERTI DEMOKRAT JAUH LEBIH SEDIKIT, NAMUN DIBESAR2KAN SEOLAH2 PARTAI YANG PALING KORUP, APALAGI PKS YANG CUMA KALI TERSANGKUT KASUS YANG SAMPAI SAAT INI MASIH BELUM PASTI KEBENARANNYA, TAPI PEMBERITAANNYA BEGITU HEBOH. INILAH POTRET MASYARAKAT NEGARAKU SAAT INI, SEPERTI KERBAU YANG SANGAT GAMPANG DICUCUK HIDUNGNYA, WAKAKAKA…

  4. firmansick berkata:

    mungkin lebih tepat disebut dengan ”POLITIS ALLAY”

  5. alrisblog berkata:

    Pak Rin, nulis yang ringan-ringan yang enak. Tentang capres bikin puyeng aja.
    Nan di ati ndak bisa sakandak ati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s