Setelah Jokowi Terpilih

KPU semalam menetapkan Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih Pilpres 2014. Setelah dua minggu rakyat menunggu rekapitulasi berjenjang di KPU, nyatalah sudah pasangan Jokowi-JK memperoleh suara 53% dan Prabowo-Hatta 47%. Perolehan suara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebanyak 62.576.444 suara, sedangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla memperoleh 70.997.833 suara. Selisihnya tipis, hanya sekitar 6 persen, yaitu sekitar 8 jutaan suara. Hasil selengkapya dapat anda baca pada berita ini. Untuk adu head-to-head, angka 47% itu adalah jumlah suara yang sangat besar dan tidak bisa dianggap remeh begitu saja, sebab ada 62 juta lebih rakyat Indonesia tidak menyukai Jokowi menjadi Presiden. Dengan raihan “hanya” 53% itu berarti Jokowi-JK tidak memperoleh kemenangan mutlak.

Saya memang tidak memilih Jokowi-JK dalam Pilpres kemarin, alasannya sudah saya kemukakan pada tulisan-tulisan terdahulu. Prabowo-Hatta menang di TPS saya, menang di kelurahan saya, menang di kecamatan saya, menang di kota saya, dan menang pula di propinsi saya, namun dia kalah di tingkat nasional. Meskipun pilihan saya buka Jokowi-JK, namun, sebagai seorang yang menjunjung demokrasi, saya mengucapkan selamat kepada Jokowi-JK, karena inilah Presiden pilihan rakyat Indonesia. Sekarang tinggal saatnya bagi kita bangsa Indonesia menunggu realisasi janji-janji pasangan Capres-Cawapres ini.

Menjelang pengumuman KPU kemarin terjadi peristiwa antiklimaks. Prabowo menyatakan mundur dari proses Pilpres, serta menolak hasil Pilpres dengan alasan banyak kecurangan yang masif (baca alasan selengkapnya pada berita ini). Tentu saja pernyataan keras Prabowo ini mengejutkan banyak orang. Tak pelak dia dihujat di media sosial, para pengamat pun mengecam sikapnya yang dianggap tidak siap kalah, bertolak belakang dengan pernyataanya sebelumnya yang siap menerima apapun hasil Pilpres.

Saya pun menyayangkan sikap Prabowo yang kurang elegan, namun saya tidak ikutan menghujat atau mengecamnya seperti yang dilakukan banyak netter di media sosial. Bukan, bukan karena saya memilihnya waktu Pilpres kemarin, tetapi menurut saya itu adalah hak politiknya untuk menolak hasil Pemilu. Satu hal yang kurang dipahami para pengecam adalah bahwa di negara kita ada saluran hukum yang legal. Ketidakpuasan terhadap hasil Pemilu dapat ditindaklanjuti dengan melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Saya meyakini bahwa ujung dari Pilpres ini akan berakhir di Mahkamah Konstitusi, Prabowo dan timnya pasti akan menggugat ke sana. Selama Prabowo menempuh jalur-jalur hukum yang legal formal, dan menghindari tindakan anarki, maka saya pikir kenapa kita harus mengecamnya.

Biarkan proses hukum berjalan. Mahkamah Konstitusi harus dapat membuktikan apakah tuduhan Prabowo tersebut benar atau tidak terbukti. Nanti setelah MK memutuskan hasil sengketa, maka itulah hasil final yang membuat Presiden dan Wakil Presiden terpilih memiliki legitimasi. Siapapun Presiden dan Wakil Presiden yang sudah diputuskan oleh MK, maka itulah Presiden-Wapres yang menjadi pemimpin bangsa Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Setelah Jokowi Terpilih

  1. trian berkata:

    Tulisan dengan perspektif lain ada disini🙂

    https://www.selasar.com/politik/prabowo-melakukan-hal-yang-benar

  2. Ghea berkata:

    Mungkin karena orang-orang sudah capek dengan pemberitaan soal pemilu melulu, jadi maunya cepat selesai. Tadinya kan mereka pikir tanggal 6 Juli pembicaraan pemilu berakhir, eh, masih lanjut. Berharap tanggal 22 selesai, eh tetep lanjut masalahnya. Akhirnya malah banyak yang nyinyir atas sikap politik Pak Prabowo. Hehe.

    Kemarin dapat cerita, orang tua teman saya bertengkar hebat hanya karena adu pendapat soal presiden. Semoga masyarakat masih mau bersabar sampai keputusan MK keluar dan Indonesia segera punya pemimpin baru yang baik.. Dan semoga apa pun hasilnya nanti, masing-masing capres, cawapres, dan kubu masing-masing dapat menerimanya dengan legowo… Aamiin. Saya lebih takut dengan perpecahan karena hal-hal yang kita tidak tahu kebenarannya..

  3. Alris berkata:

    Semoga tetap tenang, damai dan aman.
    Alek sudah itungan salasai, tingga bagi bagi jatah, eh salah. Mukasuiknyo tingga proses manuju pelantikan presiden.

  4. rw-rw-rwx berkata:

    “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah)

  5. rifki s berkata:

    Seperti apa ya nantinya indonesia ini dipimpin seorang yang lebih cocok jadi pemain ketoprak? Ah sudahlah… Toh ini pilihan kalian, biar waktu yang menjawab.. Negara kita ini emang super aneh..

  6. ahmad berkata:

    Mengapa begitu berat bagi Mr. Prab and the genk utk menerima kekalahan, seakan-akan kekuasaan dunia tdk ada bandingannya. Kalah ya kalah, selesai, titik. Kalau tdk puas coba lagi lain waktu. Tidak perlu menghujat pemenang, apalagi menolak demokrasi (sistem yg dg suka cita diterima bila anda menang). Salam damai

  7. Fitria Ramdani berkata:

    Ikut ngehujat prab bukan krna milih jokowi tp mnrutku ya memang sipatnya kayak anak keccil beda banget sm yg dia omongin hehe..

  8. Ping balik: Jokowi Jk Presiden Terpilih | Radhen Bhoncel Tips & Trik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s