Malas Membaca dan Memirsa Media Akhir-Akhir Ini

Sejak kampanye Pilpres 2014 hingga sekarang saya jadi malas membaca media arus utama (mainstream), termasuk juga memirsa media elektronik seperti televisi berita. Apa pasal? Media-media arus utama saat ini sudah melacurkan dirinya untuk mendukung Capres tertentu. Media arus utama yang saya maksud adalah pendukung berat kubu Jokowi, misalnya Komp*s, Trib*n, Metr* TV, Berita S*tu, Det*k, dan Temp*. Saya tulis demikian karena media-media inilah yang sudah tidak lagi menjunjung netralitas, tetapi sudah berpihak sedemikian rupa sehingga jauh dari etika pers dan kode etiknya. Demi membela Capres yang didukung, media tidak lagi menggunakan prinsip check and recheck dan cover both side story. Saya sudah enggan membaca, membeli, atau memirsa media-media tersebut di atas.

Berita disampaikan media-media tersebut secara brutal, diplintir, dipotong, atau dilepas dari konteksnya. Tujuan dari pemuatan berita tersebut satu, yaitu untuk menyudutkan Prabowo dan Timsesnya (Baca ini curhatan Pak Mahfud MD: Pers Mengeroyok, Prabowo Harus Kalah). Kasihan pak Mahfud MD, orang lurus dan tulus seperti dia menjadi korban keganasan media.

Meskipun Pilpres sudah selesai dan pemenangnya sudah diumumkan, namun media-media yang saya sebutkan di atas tetap saja melakukan provokasi berita untuk menjatuhkan Prabowo dan Timsesnya. Saya kira berita negatif tentang copras-capres akan berakhir dengan selesainya Pilpres, eh ternyata masih berlanjut sampai sekarang. Ini bukan karena saya dulu mendukung Prabowo lho, bukan karena itu alasannya. Saya sih tidak mempermasalahkan lagi siapa pemenang Pilpres, siapa pun yang menang, baik di KPU atau di MK, semuanya harus diterima dengan lapang dada. Saya sudah katakan akan mendukung Jokowi atau Prabowo jika menang. Namun, berita yang tiada hentinya menjelekkan kubu Prabowo tetap saja brutal sampai sekarang. Seakan mendapat angin, berita-berita semacam itu ramai dikomentari oleh Panasbung (istilah buat pendukung Jokowi) sehingga Prabowo dan Timsesnya dibuli-buli dan dicaci maki oleh mereka. Saya tidak suka dengan pers macam ini, yang menanamkan kebencian dan memprovokasi masyarakat, padahal pers itu seharusnya mengedukasi masyarakat.

Salah satu media yang brutal itu adalah Metr* TV dan korannya, Medi* Indonesia. Ini televisi berita yang dalam pandangan saya sudah turun kelas (downgrade) menjadi media gosip. Isinya melulu menyanjung-nyanjung Jokowi secara berlebihan dan menyudutkan atau mengkerdilkan kubu Prabowo. Saya sudah lama berhenti menonton televisi ini, kalau perlu saya hilangkan saja dari remote control. Tayangannya hanya membuat orang sakit hati. Rekam jejak TV ini sejak dulu juga tidak baik, terutama jika sudah menyangkut tentang agama tertentu, kelompok agama tertentu, atau partai tertentu (you know lah). Sedangkan korannya setali tiga uang dengan televisinya.

Media yang masih saya baca hingga sekarang adalah media Republika (koran cetak maupun online-nya). Ini bukan karena media Republika ini berbasis suatu agama, tetapi saya perhatikan berita-beritanya tentang Pilpres masih berimbang dan tidak berpihak ke mana-mana. Berita tentang Jokowi dan Prabowo dimuat secara proporsional dan tidak berlebih-lebihan. Tautan (link) berita-berita di Republika online sering disebar oleh netters di jejaring sosial, pertanda media ini masih dipercaya oleh banyak orang.

Saya berharap masa pasca Pilpres ini cepat berlalu. Semoga MK cepat memutuskan siapa sesungguhnya pemenang Pilpres 2014. Semoga pelantikan Presiden baru tanggal 20 Oktober 2014 terlaksana dengan baik. Saya mendambakan suasana tenang seperti sebelum Pemilu, bangsa yang damai, dan tidak terpecah belah. Saya ingin semua media kembali beradab lagi. Janganlah anda mengulangi lagi melacurkan integritas anda untuk sesuatu kekuasaan yang bukan kewenangan anda.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

12 Balasan ke Malas Membaca dan Memirsa Media Akhir-Akhir Ini

  1. edisonmanik berkata:

    Menurut saya media pendukung keduanya masing masing melakukan hal yang sama. Terkadang tidak percaya akan berita yang dimuat. Saya juga berharap media kembali netral dan menjunjung integritas dalam hal pemberitaan.

  2. heri berkata:

    Tadinya kita berharap setelah tanggal 22 Juli, semua akan berakhir. Tetapi ternyata, masih saja ada yang tidak puas dan terus akan bersumpah melanjutkan “perang panjang”. Ada yang tidak mau “move on”, terus berusaha memanaskan pendukungnya. Percayalah meskipun MK telah memutuskan, misal JKW menang, tetapi saja capres no 1 dan pendukungnya akan selalu mengadakan aktivitas provokatif yang menurutnya “ibadah”. Entalah, apakah antara Prabowo dan PKS siapa yang memanfaatkan atau dimanfaatkan, yang jelas elit-elitnya yang menikmati.

    Sebagian besar media hanyalah merespon situasi diatas, media berpihak pada sebagian besar rakyat yang tercermin dari hasil pilpres. Bila ada yang kurang berkenan, seperti halnya Pak RIn, tentu hal yang wajar, apalagi sebagai pendukung Capres 1. Percayalah, senetral apapun media pasti dianggap condong JKW. Tetapi berita bohong di TV One tidak pernah jadi masalah (ingat quick count palsu pilpres? dsb).

    Tetapi anehnya, Pak Rin tidak pernah khusus menulis mengenai tabloid Obor Rakyat dan sejenisnya yang betul-betul jauh lebih brutal di banding media mainstream. Inilah kontradiksi yang sedang dipertontokan oleh Prabowo dan pendukungnya untuk mempermalukan diri sendiri (mohon maaf, saya telah kehilangan kata-kata untuk mengkomentari sikap tidak mau kalah dari Prabowo dan pendukungnya).

    • rinaldimunir berkata:

      Obor Rakyat itu sudah dikategorikan oleh Dewan Pers bukan produk jurnalistik. Saya juga tidak suka dengan isi berita Obor Rakyat tersebut, provokatif, dan tendensius.

      Tentang TV One, saya sudah pernah tuliskan dalam tulisan terdahulu, kelakuannya sama seperti Metro TV. Namun, yang saya soroti di sini adalah pasca Pilpres, setelah Pilpres TV One itu sudah mulai “melunak”, tetapi Metro TV semakin menjadi-jadi melakukan provokasi.

      • heri berkata:

        Hallo, Pak Rin, kapan terakhir lihat TV One? Tahun lalu? Maaf ya Pak, belakangan sejak MK mulai sidang, TV One sudah bangkit kembali ke posisi “tidak melunak”.

  3. maulanadrurer berkata:

    Sip, akhirnya dapat ulasan yang netral juga Om, di twitter aja udah sumpek semua tentang pilpres mulu. Gimana kita bisa menatap kedepan kalau kita masih geleng – geleng terus.

  4. Fiq berkata:

    kita tunggu hasil sidang MK saja. dan untuk sementara hilangkan program TV tertentu yang tendensius..

  5. sheetavia berkata:

    kalo saya sih tetep ditonton dan dibaca semuanya, karena terkadang saya pengen liat sudut pandang orang lain.
    Ya…kalo gak sesuai langsung di skip…gak semuanya isinya mendukung salah satu pilpres kan….masih ada berita lain yang perlu dibaca. Misalnya….masih suka nonton Kick Andi, dokumenter eagle dll yg menurut saya oke…
    Kalo TV one sih mgkn karena yang punya juga udah mulai mau pindah ke lain hati, jadi mulai bersikap netral.

  6. Mas Yud berkata:

    Inilah.com, intriknews.com, voa-islam.com dan pkspiyungan.org juga sering dishare di social media Pak, sering disebar oleh netters di jejaring sosial, pertanda media ini masih dipercaya oleh banyak orang. Mungkin portal-portal itu juga termasuk netral. Kalau di dunia kaskus sepertinya panasbung itu justru istilah untuk pendukung non-jokowi lho … tapi ya perlu dicek n ricek juga sih.

    Salam damai.

  7. Saya setuju dengan Pak Rin. Saya juga sudah tidak membaca media lagi selain Republika. Kebetulan saya saat pemilu memilih Prabowo dengan berbagai pertimbangan.
    Memang suatu keanehan, bukannya bersikap “melunak” ba’da pilpres, malah permusuhan terhadap Prabowo semakin menjadi. Setelah mundurnya TV one dari kubangan pilpres, seolah Prabowo tidak lagi memiliki media yang memihaknya.
    Ah sudahlah, mungkin Indonesia sudah menjadi negara media. Logika dan analisa scientific jika bersebrangan dengan media pastilah hanya menjadi bualan yang harus dimusuhi, bukan dikritisi. Semoga suatu saat kita bisa keluar dari penjara media, serta mulai untuk berpikir bebas dan logis.

    • heri berkata:

      Hello Mas Pri, mengutip perkataan anda “Logika dan analisa scientific jika bersebrangan dengan media pastilah hanya menjadi bualan yang harus dimusuhi”. Maaf Mas Pri tinggal di negara mana waktu kemarin quick count palsu muncul di TV Prahara dan sebagian pendukung Prabowo menolak keilmiahan olah statistik quick count. Heran dengan pendukung prahara, selalu memutar balikan fakta.

  8. Geffry berkata:

    saya juga bosan dengan media yang disebut pak Rin. Seolah ada kontrak politik. Pilpres sudah selesai, sudah saatnya media menyajikan beritanya dengan cover both story. Ingat pendukung prabowo juga banyak (62 jutaan )kan>

  9. Ping balik: Gagal “Move on” | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s