Uban

Tidak terasa uban di rambut kepala saya sudah mulai banyak bertebaran. Tahun lalu ubannya tidak sebanyak sekarang, tetapi sekarang ini… wah sudah tidak terhitung jumlahnya, he..he. Saya suka mematut diri di depan cermin melihat uban-uban yang bertaburan itu. Merasa gagah? Bukan. Merasa berwibawa dengan uban itu? Bukan. Yang saya rasakan adalah bahwa waktu terus berputar, anak-anak saya semakin besar, dan tanda-tanda perjalanan waktu itu diperlihatkan dengan uban.

Memang uban tidak selalu identik dengan ketuaan. Ada senior saya yang usianya sudah 60-an yang sampai sekarang rambutnya tetap hitam semua, belum ada uban satupun. Ketika lebaran kemarin saya bertemu teman satu SMP yang sebaya dengan saya, rambutnya pun tidak ditumbuhi uban satu helaipun. Zaman sekarang banyak kita temukan anak-anak muda yang rambutnya sudah memutih. Saya sendiri sudah sering menemukan mahasiswa saya yang rambutnya ditumbuhi uban. Kata orang, uban pada anak-anak muda itu disebabkan oleh salah penggunaan shampo, atau berganti-ganti menggunakan merek shampo sehingga menimbulkan efek yang merusak zat melanin (yang memberi warna hitam) pada rambut. Entah benar entah tidak anggapan itu.

Ada juga sebagian orang yang beranggapan bahwa pertumbuhan uban itu disebabkan karena terlalu banyak mikir yang ujung-ujungnya stres, efek stres terpantulkan pada pertumbuhan rambut putih. Kalau pendapat ini mungkin ada benarnya, rekan-rekan saya sesama dosen di kampus, meskipun usianya lebih muda dari saya, ubannya lebih banyak daripada saya, bahkan ada yang sudah hampir memutih semua. Mereka orang-orang yang banyak membaca buku, meneliti di lab, mencurahkan segenap daya dan pikirannya untuk ilmu pengetahuan, jadi wajar kalau para akademisi dan peneliti banyak yang sudah beruban.

Sebaliknya orang-orang biasa yang kita temui di pasar-pasar, di kampung-kampung, di sawah-sawah, dan lain-lain, rambut mereka masih hitam legam, meskipun usianya sudah di atas 40 tahun atau 50 tahun. He..he, mungkin para bapak-bapak dan ibu-ibu itu tidak terlalu banyak mikir seperti para dosen sehingga tingkat stresnya tidak membuat uban bermunculan.

Dalam renungan saya, uban adalah cara Tuhan untuk “menegur” kita secara halus bahwa tua akan datang menjelang. Dengan uban di kepala kita diingatkan dengan waktu yang terus berputar. Pertambahan usia tidak bisa dihalangi, dan kita diingatkan bahwa kematian pasti akan datang. Sudahkah kita mempersiapkan bekal ke akhirat? Bekal itu adalah amal sholeh selama hidup di dunia.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

9 Balasan ke Uban

  1. dosenmuda berkata:

    Mungkin cuman dosen-dosen fulltime di Indonesia pak rambutnya putih atau botak, soalnya selain memikirkan masalah ilmu pengetahuan, juga harus mikirin gimana dapur tetep ngebul ditengah harga-harga yang naik nggak wajar… jadi pusingnya dobel. Beda dengan dosen-dosen part-time terutama di Business School/Economics rambutnya hitam-hitam dan mukanya awet muda semua. Gak perlu mikir dapur soalnya, mereka di akademia cuman buat hobi aja.

  2. maulanadrurer berkata:

    Nice post om, yah beberapa cara Tuhan untuk menyapa mahluknya, kalau dipikir – pikir begitu romantis. Sampai sangat sedikit orang menyadari pertambahan umur itu sendiri.

  3. Fiq berkata:

    Umur saya 24 tapi uban sudah banyak huhu… udah 40 kayak pak Hatta Rajasa kali ya

    http://bit.do/timeinstrument

  4. affajri berkata:

    ane setuju dengan anggapan kalo uban gara gara kebanyakan mikir alias stress soalnya ane pernah ubanan cuman sehelai aje hehehe🙂 kata temen sih itu karena ane stress kebanyakan mikir tugas kuliah hehehehe🙂
    http://affajri.wordpress.com/2014/08/16/oh-ini-to-kode-perintah-rahasia-dalam-ospek-ataupun-mos/

  5. alrisblog berkata:

    Saya setuju dengan uban adalah peringatan alami dari Tuhan mengingatkan bahwa segala sesuatu akan berakhir. Sudahkah menyiapkan bekal?

  6. Hening Darwis berkata:

    Suatu ketika Umar r.a menemui Nabi Saw dan ternyata air mata beliau berlinang. “Apa yang membuat engkau menangis, Rasulullah?”, tanya Umar. Nabi menjawab,”Jibril baru saja mendatangiku dan berkata,”Sesungguhnya Allah malu menyiksa orang yang telah beruban di dalam Islam, maka bagaimana orang yang beruban tidak malu berbuat maksiat kepada Allah.”(dari Abu Hurairah r.a).

  7. Hikari Azzahirah berkata:

    *ngelirik cermin*
    alhamdulillah ga ada uban, tapi mingkem sendiri klo nengok tahun lahir di dunia. >,<

  8. Mardianis Anis berkata:

    Iya mengingatkan kita semua, kalau uban adalah peringatan pada kita kalau kita sudah mulai menua, tapi pada pase awal penuaan kita ini kita perlu banyak menata hati pikiran dari semua ambisi yang ingin kita capai, agar kita meminimalisir tingkat stres,saat umur kita akan memasuki angka 50 produktivitas kita sudah hampir menuju puncak yang nanti setelah 65 pelan 2 menurun, mudah2an perjalanan hidup kita berjalan stabil menuju akhir kehidupan,      

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s