Jarimu Harimaumu

Kalau dulu ada peribahasa yang berbunyi “mulutmu harimaumu” untuk menggambarkan orang yang suka mengucapkan kata-kata yang tajam dan menyakitkan, maka di zaman digital dan internet sekarang ini peribahasa tersebut perlu diganti menjadi “jarimu harimaumu”. Kata-kata tidak lagi diucapkan melalui mulut, tetapi diungkapkan dalam bentuk tulisan di media daring, khususnya media sosial. Dengan apa tulisan itu dibuat? Pastilah melalui jari jemari. Sebuah posting di media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, dan sebagainya, dapat menimbulkan api kebencian, permusuhan, bahkan kekerasan oleh pihak yang merasa tersinggung atau sakit hati.

Seperti kasus Florence Sihombing baru-baru ini, karena kekesalannya pada pom bensin Pertamina, dia menumpahkan kekesalannya itu dengan merilis posting di jejaring sosial Path. Namun isi posting-nya tidak ditujukan kepada pihak Pertamina saja, namun sumpah serapahnya juga ditujukan kepada warga kota Yogyakarta dengan mengatakan Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Dengan cepat posting-nya di Path itu menyebar di dunia maya sehingga menimbulkan kemarahan warga Yogyakarta. Florence di-demo warga dan bahkan diminta untuk angkat kaki dari kota Yogya. Kronologis selengkapnya dapat anda baca dalam berita ini.

Kasus Florence ini tidak sekali ini terjadi, sudah sering, tetapi manusia tidak pernah belajar dari kasus serupa. Tahun 2010 yang silam mahasiswa kami di ITB pernah tersandung kasus karena posting rasis tentang Papua (baca tulisan ini). Menjelang Pilpres kemarin tokoh sekaliber Wimar Witoelar pun mem-posting gambar yang menghina ormas Islam (baca ini).

Kata-kata bisa setajam pedang, jika dulu lidah yang tidak bertulang, maka sekarang jari-jemari yang begitu lentur mengetikkan kata-kata atau mengunggah gambar yang menyakitkan sekelompok orang. Jarimu adalah harimaumu, itulah kata-kata yang pas untuk menggambarkan perilaku penduduk maya yang tidak mikir panjang sebelum mem-posting status di jejaring sosial.

Anda boleh marah, anda boleh kesal, anda boleh tidak suka kepada seseorang, kepada sekelompk orang, kepada suatu agama, kepada suatu suku bangsa, dan sebagainya, tetapi jangan anda ungkapkan kekesalan itu melalui tulisan di media sosial. Efeknya luar biasa dan tidak pernah terpikirkan oleh anda, jangan-jangan nyawa anda bisa melayang. Tidak semua orang mengerti dan memahami konteks anda menulis posting tersebut, tidak semua orang mengerti anda sedang bercanda. Mungkin anda bilang sekedar iseng, tetapi dengan penyebaran yang begitu cepat di dunia maya, siapa orang yang bisa paham dengan candaan anda?

Sekarang Florence ditahan di penjara oleh kepolisian Yogya karena perbuatannya dilaporkan oleh sebuah LSM di sana. Sanksi dari UGM pun menunggunya. Menurut saya penahanan Florence nya ini jelas berlebihan. Pada kasus serupa, orang yang mem-posting lebih sadis dan lebih jahat daripada Florence tidak ditahan. Wimar Witoelar salah satunya.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jarimu Harimaumu

  1. Bagus…trims Pak tulisannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s