Dilema Warnet di Pemukiman

Di sebuah kompleks pemukiman ada warga yang membuka usaha warung internet (warnet). Pengunjungnya kebanyakan anak-anak sekolah. Dari pagi hingga larut malam warnet itu buka terus. Selain untuk browsing internet, anak-anak sekolah itu juga bermain game online di warnet. Murid-murid sebuah sekolah yang berada tidak jauh dari kompleks sering bolos belajar, pada jam-jam belajar mereka tampak berkumpul di warnet itu, bahkan pulang sekolah pun mereka tidak langsung ke rumah tetapi singgah ke warnet.

Sudah lama warnet itu dikeluhkan oleh sebagian warga. Suaranya yang berisik mengganggu tetangga-tetangga sebelah rumah si pemilik warnet. Hanya karena kesabaran yang tinggi dan rasa tidak enak sama tetangga, maka keluhan itu dipendam saja. Namun kesabaran ada juga batasnya, setelah empat tahun berlalu maka keberadaan warnet itu menjadi polemik di kompleks.

Keluhan yang muncul bukan hanya karena suara berisik yang mengganggu tetangga atau karena warnet yang buka sampai larut malam, tetapi jauh lebih buruk dari itu. Anak-anak jadi lebih sering duduk di warnet berjam-jam sehingga lalai dalam urusan pelajaran sekolah. Seorang warga mengeluhkan perubahan perilaku anaknya, dari yang dulunya tidak pernah mau mengambil uang yang bukan miliknya di rumah, sekarang menjadi suka mengambil uang yang tergeletak di atas meja tanpa izin. Untuk apalagi uang itu kalau bukan untuk bermain game online di warnet. Efek bermain internet di warnet menjadi mirip seperti orang yang kecanduan narkoba, kalau sudah kecanduan maka akan selalu diupayakan ada uang untuk terus membelinya, termasuk dengan mencuri sekalipun. Buruk!

Akhirnya warga melakukan rapat. Sebagian warga menolak keberadaan warnet tersebut, terutama bagi tetangga yang berdekaatn rumah dengan pemilik warnet. Sebagian lagi tidak keberatan karena faktor kemanusiaan, yaitu usaha warnet tersebut adalah mata pencaharian si pemilik rumah. Namun keputusan rapat tetap harus diambil, terutama setelah memperhatikan dampak buruk warnet. Maka, diputuskan warnet tersebut harus ditutup, tidak boleh lagi dilanjutkan.

Bagi saya keberadaan warnet di pemukiman memang dilematis. Di satu sisi merupakan sumber penghasilan bagi pemilik rumah, tetapi sayangnya satu hal yang tidak disadari (atau tidak peduli) oleh pemilik warnet adalah dampak negatif buat anak-anak. Anak-anak jadi kecanduan bermain internet atau game online di warnet. Karena dampak negatifnya itu, maka sejak dulu saya tidak pernah mengizinkan anak-anak saya bermain di warnet.

Warnet juga disinyalir sebagai tempat yang aman untuk mengakses konten pornografi, melakukan perbuatan mesum/asusila, judi online, dan lain-lain. Pemilik warnet umumnya tidak peduli siapa pengunjungnya, apa yang dilakukan mereka di dalam bilik-bilik, dsb, yang penting uang masuk. Soal moral atau akhlak bukan urusan mereka, tetapi urusan anak-anak itu sendiri atau orangtuanya. Melakukan kontrol terhadap pengunjung warnet sama artinya mengurangi pendapatan uang yang masuk.

Saya setuju tidak boleh ada warnet di dalam pemukiman atau di dalam kompleks perumahan. Jika ingin membuka usaha warnet maka seharusnya di luar pemukiman, misalnya di ruko atau di pinggir jalan yang ramai. Lagipula ketika membuka usaha warnet si pemilik rumah tidak mengurus izin tetangga. Menurut aturan perizinan, untuk membuka usaha di pemukiman seharusnya ada izin dari dua rumah di kiri kanan, dan dua rumah di depan dan belakang, mirip seperti persyaratan izin mendirikan bangunan/rumah.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dilema Warnet di Pemukiman

  1. klo misalnya pemilik warnet menolak,
    mungkin bisa diambil jalan tengah, warnet tetap buka dgn beberapa persyaratan.
    jam operasionalnya bukan jam sekolah, bukan jam sholat, dan malam jam 8 sudah tutup.
    trus desain interiornya jangan yg bilik2, jadi kelihatan klo ada yg mengakses konten terlarang.
    trus anak yg ke sana harus bawa ktp orang tua, dan dicatat mau ngapainnya.
    nah klo dia ga mau repot, ya tutup.
    klo ga mau tutup, ya ada syarat itu.

  2. Alris berkata:

    Setuju warnet tidak boleh berada dalam pemukiman. Selain mengganggu tetangga ekses dari anak2 yang main game sering teriak gak sopan, juga berakibat buruk buat anak yang kecanduan game.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s