Gaji Habis Setelah Dua Minggu

Seorang teman, dosen juga tapi beda Jurusan, sedikit curhat kepada saya. Saya menyimak curhatnya dengan seksama. Dia “mengeluhkan” kondisinya. Dengan gaji PNS, insentif fakultas, dan tunjangan yang dia terima per bulan, dalam waktu dua minggu atau lebih gajinya sudah habis untuk kebutuhan pribadi dan rumah tangganya. Sangat jarang dia memperoleh penghasilan tambahan sebagai dosen peneliti riset, apalagi dari proyek-proyek. Hidupnya hanya mengandalkan dari makan gaji PNS saja. Setelah gaji habis selama dua minggu, dia pusing memikirkan bagaimana menutupi kekurangan selama minggu selanjutnya menjelang datang tanggal satu bulan baru.

Curhat teman saya tersebut mungkin dialami oleh banyak orang lain yang mengandalkan gaji dari Pemerintah atau kantor untuk menopang kehidupannya, khususnya para pegawai negeri. Mereka harus bisa mengakali bagaimana cara bertahan menjelang datang bulan baru (yang berarti memperoleh gaji bulan berikutnya). Ada yang meminjam uang dari temannya, ada yang menjual barang, atau ada yang berusaha mencari pekerjaan sampingan. Tentu saja pusing kepala memikirkan kondisi galau seperti ini. Namun, sepahit-pahitnya hidup tetap harus dijalani, yang penting tidak mencuri atau korupsi.

Sebenarnya saya pun mempunyai kondisi yang hampir sama dengan teman saya itu. Seringkali setelah dua atau tiga minggu seluruh gaji saya pun sudah habis. Namun untunglah saya mempunyai jurus “penolong” yaitu tabungan. Sejak kecil saya sudah diajarkan hidup hemat dan sederhana. Untungnya lagi saya bukan orang yang suka royal, suka kemewahan, dan konsumtif. Saya tidak merokok, tidak punya kebiasaan mencari hiburan (nonton bioskop, jalan-jalan ke mal), jarang makan di luar, dan lain-lain yang menguras uang. Sejak saya lulus kuliah dan mempunyai penghasilan sendiri, saya sudah terbiasa menabung dari sebagian penghasilan yang saya peroleh. Setiap mendapat penghasilan, sebagian saya sisihkan untuk masa depan. Jika tidak menabung mana mungkin saya bisa membeli rumah, mana mungkin saya bisa memenuhi kebutuhan sekolah anak yang lumayan besar. Apalagi saya dititipkan amanah memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), maka pengeluaran semakin besar lagi.

Setelah menjadi dosen, kebiasaan menyimpan uang itu selalu saya teruskan. Setiap mendapat penghasilan tambahan di luar gaji sebagai dosen PNS, selalu saya simpan. Kadang-kadang saya mendapat honor riset, kadang-kadang mendapat insentif dari kantor, kadang-kadang mendapat royalti dari penerbit buku (saya menulis beberapa buku), kadang-kadang mendapat undangan dari kampus lain atau dari instansi lain sebagai narasumber tugas akhir atau pembimbing, dan lain-lain. Semuanya itu serba kadang-kadang, tidak menentu, dan tidak setiap bulan ada. Alhamdulillah, disyukuri semua rezeki itu. Semua rezeki dari Allah tersebut saya simpan, tentu di dalamnya ada bagian untuk dhuafa. Ketika minggu kedua atau minggu ketiga setelah gaji sebagai PNS sudah habis, maka barulah saya mengambil simpanan tersebut. Jadi jika dua atau tiga minggu pertama saya makan gaji PNS, maka pada minggu ketiga dan seterusnya, saya terpaksa “makan tabungan”, he..he. Tabungan itulah yang menyelamatkan hidup saya dan keluarga. Andai saya tidak mempunyai simpanan uang, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menghadapi kebutuhan hidup yang yang semakin besar dan semakin mahal ini.

Mungkin Anda berpikir saya beruntung masih bisa menabung, sedangkan banyak orang yang jangankan untuk menabung, untuk sehari-hari saja sudah susah. Ya betul, kondisi setiap orang tidak sama. Namun, jika anda berpikir bahwa kunci semua itu adalah hidup sederhana, maka kesusahan menjelang akhir bulan itu dapat diatasi. Sedapat mungkin anda menyisihkan sebagian penghasilan yang anda peroleh, berapapun besarnya, baik dikala susah maupun dikala senang, baik sedang banyak uang maupun lagi banyak kebutuhan. Sedikit tidak mengapa, banyak lebih baik. Meskpun Anda pikir tidak mungkin, namun cara ini baik dicoba.

Ada satu cerita hikmah yang saya baca waktu kecil. Seorang anak perempuan memiliki kebiasaan unik. Tanpa sepengetahuan ibunya, dia selalu menyisihkan satu gelas kecil beras ke dalam kantung setiap hari. Kantung itu dia simpan di sudut lemari. Suatu hari rumah mereka kedatangan beberapa orang tamu jauh. Saat jam makan siang tiba, tamu akan dilayani makan. Si ibu panik karena persediaan beras sudah habis, sementara uang sudah tidak punya untuk membeli beras ke warung. Dengan tersenyum sang anak perempuan menunjukkan persediaan beras yang dia simpan selama ini. Ternyata jumlahnya cukup untuk makan beberapa orang. Alangkah terharunya ibu tadi, dia tidak menyangka anaknya memiliki pikiran jauh ke depan. Ketika ada keperluan mendadak, dia sudah memikirkan kemungkinan itu dengan menyimpan sedikit beras setiap hari untuk berjaga-jaga apabila persediaan beras di rumah habis.

Ingatlah bahwa kita tidak hidup hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk hari esok.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

14 Balasan ke Gaji Habis Setelah Dua Minggu

  1. mahisaajy berkata:

    Hidup sederhana gak masalah, yang penting punya banyak cinta, pak. Hehehe.. =)

  2. abanda berkata:

    salah satu pembuka pintu rejeki adalah sedekah

  3. wahyu berkata:

    menabung dan beruntung…..

  4. alrisblog berkata:

    Menabung dan sedekah.

  5. michael berkata:

    Ah pak Rinaldi. Saya harap istri saya membaca blog bapak ini. Penghasilan kami jauh diatas rata-rata rakyat Indonesia tapi kami tidak bisa menabung juga. Bagaimana cara menghadapi istri yang sangat boros dan tidak bisa menyimpan uang?

  6. Anehnya mengapa hal ini sering terjadi pada setiap bidang pekerjaan.. Berarti memang bukan apa pekerjaannya ya pak, tetapi pola hidup yang paling menentukan..

    • Michael berkata:

      Betul,pola hidup istri pak tepatnya. Kalau laki-laki sih relatif irit hidupnya, kecuali punya simpenan.

      Saya dulu bujangan dengan gaji 1.2 juta perbulan bisa hidup enak, bisa nabung dan bisa support ortu pak. Sekarang gaji puluhan kali lipat malah tabungan nol, karena istri boros sekali. Dulu saya pilih istri saya karena saya yakin dia bawa hoki. Memang tiap orang yang dekat istri saya pasti ketiban rezeki nomplok, aura anak orang kaya memang beda…

      Istri saya anak orang kaya dan ningrat, dulu saya selalu berpikir, dekat tukang sampah bau sampah, dekat tukang parfum bau wangi, mending sama anak ningrat saja, siapa tahu aura dan bau keberuntungan bisa menular ke saya atau anak saya. Saya anak orang miskin, genetik dan auranya orang miskin, kasihan anak-anak saya kalau gen-nya gen melarat juga. Makanya saya pilih ibunya anak-anak yang keturunan kaum samurai kalau di Jepang/kasta Brahmana kalau di India/Royal family kalau di Inggris, kaum elit terpilih yang ber-genetika dan ber-aura bangsawan. Anggun, berpendidikan sangat tinggi, terawat dan cantik. Anak-anak saya juga jadi turunan ningrat ganteng-cantik dan pintar-pintar tidak seperti bapaknya yang genetiknya rakyat jelata yg melarat.

      Feeling saya betul. Istri saya memang bawa hoki, karir saya meningkat dari staf ke VP cepat sekali, kalau sudah level direktur, tawaran jadi konsultan, partner dsb banyak sekali tapi juga Allah kasih ujian istri anak orang kaya borosnya ampun-ampunan. Seberapa banyak uang yang saya hasilkan tidak cukup2 juga. Luar biasa. Sekarang saya belum punya rumah, bayangkan Vice President rumah masih ngontrak! Staf saya aja punya rumah meskipun di ujung dunia sana….

      Pembelajaran pak, jangan mengeluh kalau gaji kecil. Gaji besar juga belum tentu cukup. Gaya hidup tidak bisa semudah itu dirubah.

      Punya istri cantik, cerdas, bawa hoki tidak cukup, punya istri harus yang pintar ngatur uang dan investasi, camkan itu wahai anak-anak muda….

  7. mardianis berkata:

    aneh ya seorang dosen dengan gaji PNS dan tunjang bisa berkekurangan seperti itu, menurut hemat saya kalau kerja sendiri ya agak sedikit keteteran tapi tdk sampai segitunya kali, saya juga seorang PNS gol 4 gaji dan tunjangan saya bisa hidup cukup, untuk biaya kami 1 bulan plus bulanan anak2 1 kuliah, 1 sma 1 TK, prinsip saya mengatur kebutuhan dasar dulu, mulai dari listrik, gaji pembantu, beras bulanan, belanja mingguan dapur, dari gaji sy sendiri saya cukup sementara untuk gaji suami buat tabungan, asuransi kami, kalau pun saya dapat uang tambahan dari perjalanan dinas honor dll dari kantor menjadi tambahan tabungan kami dan membantu sanak saudara, intinya mengatur dengan cermat, Catatan dari saya kami tidak pernah tidak memasak dalam keseharian. . Saya tinggal di komplek kalau saya melihat tetangga dengan pola hidup masing2 ya beda2 kalau bulan baru setiap hari beli lauk matang, kalau udah bulan tua baru deh masak sayur asem ama tempe.

  8. fransiska berkata:

    Jaman sekarang semua pada mahal, intinya buat perencanaan keluarga, dan mulai lah buat perhitungan pengeluaran mulai dari yg terkecil hingga yg besar selama 1 bulan pasti anda akan kaget dengan nominal yg anda keluarkan tiap bulan. Lalu carilah ide untuk buat usaha kecil. Semua berawal dari diri sendiri. Manajemen diri paling penting.

  9. dr.richie berkata:

    pengalaman hidup yang sangat menarik dari bapak Michael

    mungkin itu yang namanya apapun yg tjd dalam hrs bersyukur,
    pak Michael mungkin saat ini mengeluh krn istrinya sangat boros, tapi di satu sisi istri bapak benar2 istri idaman pria sebenarnya. sudah cantik,cerdas, dari keluarga ningrat, mirip seorang putri raja.tidak semua pria bs mendapatkan istri seperti bapak.

    mungkin itu sudah resiko dalam hidup rumah tangga ya pak, apabila punya istri cantik dan di atas rata2 cewek cantik, memang resikonya hrs siap2 berkantong tebal bahkan mungkin sangat tebal

    krn menurut pengalaman hidup sy di sekitar lingkungan sy, istri cantik identik dg gaya hidup borjuis dan boros perawatan. mangkanya teman2 spesialis sy yg prakteknya di atas rata2 sll cari istri yg paling cantik pas jaman kuliah spesialis dulu (jaman sy msh susah krn hrs cari beasiswa kuliah kesana kemari), malah bnyk teman sy yg sudah nikahpun pingin punya istri dua (kalau itu jgn ditiru ya, bisa kualat nanti, rejeki langsung hilang,apalagi punya simpanan WIL)

    mungkin bagi yg blm nikah, ada baiknya sblm nikah istri di ajak komitmen dulu, di ajak belajar hidup sederhana dan istri diajarkan utk hemat.artinya istri diberi pengertian bahwa semua harta yg kita miliki tdk hanya utk masa kini tp jg utk masa depan smp anak cucu kita walaupun pd awalnya sering bertengkar gara2 masalah itu, tp skrng lumayan istri bs diajak sharing utk membangun mimpi masa depan (pengalaman pribadi).

  10. ini rina berkata:

    Menarik tulisan, beserta komen2nya🙂 Jadi pelajaran buat para istri sebagai menteri keuangan keluarga😀

  11. Sedikit menambahkan saja, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Gaji anda hanya numpang lewat? Solusinya dapat anda baca di http://ayomapan.blogspot.co.id/2016/01/gaji-hanya-numpang-lewat-ini-solusinya.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s