Dari Ayunan Hingga ke Liang Lahat

Sebuah foto kiriman dari seorang teman di Facebook memmbuat saya merenung cukup lama. Hidup kita ini bagaikan sebuah perjalanan waktu. Dari lahir sebagai bayi, lalu tumbuh sebagai anak-anak, bersekolah, tumbuh remaja, kuliah, bekerja, dewasa, tua, renta, terbaring sakit, dan berakhir di liang lahat. Perjalanan waktu seorang anak manusia itu bagaikan sebuah siklus yang dimulai dari bayi, muda, tua, mati, lalu tumbuh lagi generasi baru berikutnya yang akan menjalani siklus yang sama.

Bayi-muda-tua-mati (Sumber: Facebook)

Bayi-muda-tua-mati (Sumber: Facebook)

Hampir semua kita tidak menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat. Cara paling mudah memperhatikan berlalunya waktu itu adalah dengan mengamati pertumbuhan anak-anak kita. Kemarin dia masih bayi, digendong-gendong, ditimang-timang, tiba-tiba saja sekarang kita melihatnya sudah menjadi remaja yang aktif. Tiba-tiba saja dia akan segera wisuda sarjana. Tiba-tiba saja dia akan menjadi seorang suami/istri, dan kita akan segera menimang cucu. Begitu cepat waktu berlalu, kita menua bersamaan dengan bertambahnya usia anak-anak kita.

Sebagian orang ada yang “tidak beruntung” karena tidak dapat menjalani siklus tersebut secara penuh, karena di tengah perjalanan hidup tiba-tiba Sang Maha Pencipta memanggilnya kembali ke haribaan-Nya. Ada yang kembali ke Maha Pencipta akibat sakit, ada yang karena kecelakaan, bahkan ada yang mati tidak wajar karena bunuh diri akibat tidak kuat menanggung derita yang amat sangat.

Bersyukurlah kita yang masih diberi hidup hingga saat ini dari Allah SWT. Setiap orang tentu berharap dia mencapai usia sampai hari tua, hingga dapat melihat anak-anaknya menikah, lalu melahirkan cucu-cucu hingga cicit-cicit. Oleh karena itu, kesehatan jiwa dan raga adalah aset yang paling utama di dalam hidup ini agar kita dapat terus menyaksikan anak-anak tumbuh berkembang hingga mereka dewasa, berkeluarga, dan akhirnya kita menjadi aki-aki dan nini-nini yang bahagia.

Menjaga kesehatan saja tidaklah cukup. Sebagai seorang yang beriman dan mempercayai kehidupan akhirat sesudah mati, maka yang harus selalu diingat adalah bekal amal sholeh selama hidup di dunia. Harta yang dibawa mati hanyalah tiga lembar kain kafan, tidak lebih. Tetapi yang menjadi ‘harta” kita menghadap Allah SWT annti adalah amal pahala selama hidup di dunia. Apa guna umur panjang tetapi banyak berbuat dosa. Apa guna punya badan bagus tetapi banyak melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, perbanyaklah berbuat kebajikan, banyak-banyaklah beramal sholeh, banyak-banyaklah menimba pahala sebagai bekal ke akhirat.

Sudahkah anda beramal sholeh hari ini?

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dari Ayunan Hingga ke Liang Lahat

  1. testingapasaja berkata:

    Hidup d dunia hanya sementara. Dan bagian yang paling menentukan adalah detik2 menjelang ajal karena di waktu yang sempit itu akan menjadi penentu di mana kita akan kekal abadi.

  2. salam. sorry menganggu. nak tnya boleh? macam mana kita nk edit yg previous content dari bootsraps ye?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s