Gagal “Move on”

Meskipun Pilpres sudah lama berlalu dan pemenangnya sudah kita ketahui dan akan segera dilantik pada tanggal 20 Oktober 2014 besok, tetapi “perseteruan” antara kubu Pro Jokowi (disebut KIH – Koalisi Indonesia Hebat) dan kubu Pro Prabowo (disebut KMP – Koalisi Merah Putih) masih terus berlangsung hingga sekarang. Setelah gagal dalam Pilpres, kubu KMP memenangkan pertandingan di parlemen. Mereka menang voting RUU MD3 di DPR, memenangkan voting RUU Pilkada, menyapu habis pimpinan DPR dan MPR, dan memenangkan perseteruan judical review UU MD3 di MK. Pertandingan akan berlanjut lagi dengan pemilihan pimpinan komisi-komisi di DPR yang pemilihannya tetap dalam satu paket.

Disatu sisi persaingan kedua kubu tersebut ada positifnya, yaitu menghadirkan keseimbangan yang kuat antara Pemerintah (eksekutif) dan Parlemen (legislatif). Pemerintah tidak akan bisa semena-mena karena kebijakan mereka akan dikontrol ketat oleh barisan oposisi (KMP). Dalam hal ini akan tercipta pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Positif kan? Kalau untuk kemaslahatan rakyat maka fenomena keseimbangan antara Pemerintah dan Parlemen ini saya pikir bagus-bagus saja.

Namun negatifnya tentu ada. Kita akan menyaksikan kebisingan politik yang melelahkan hingga tahun 2019 ke depan. Pemerintah dan DPR akan sama-sama ngotot, adu kuat, dan tarik ulur tentang kebijakan. Maka, media kita selama 5 tahun ke depan diprediksi akan dihiasi lebih banyak berita perseteruan antara parlemen dan Pemerintah.

Ada yang mengatakan perseteruan antara KIH dan KMP merupakan kelanjutan dari Pilpres. KMP dituding masih sakit hati, sedangkan KIH dianggap terlalu jumawa namun akhirnya kalah dalam pertandingan di parlemen. Politisi dari kedua kubu tetap melangsungkan perang opini di media. Celakanya, media arus utama yang selama Pilpres menjadi partisan, hingga Pilpres usai dan pelantikan presiden terpilih akan dilangsungkan, media-media tersebut tetap saja partisan dan menjadi tukang kompor untuk mendukung masing-masing kubu. Dengan kekuatan dan jaringan media yang dimilikinya, mereka menghadirkan opini negatif terhadap kubu lawan sembari memberi pembenaran untuk kubunya sendiri. Saya sendiri sudah malas membaca atau memirsa media-media tersebut karena isinya menyebarkan kebencian kepada pendukung kubu lawan. Yang paling terasa sekali menjadi media komprador adalah media pendukung kubu KIH. Sungguh menyedihkan melihat media yang sejatinya independen ternyata menjadi tukang kompor di tengah masyarakat yang sudah terbelah selama Pilpres kemarin.

Parahnya lagi, perseteruan tidak hanya di kalangan politisi dan media pendukung, tetapi juga merambah hingga ke pendukung di kalamgan masyarakat terpelajar. Lihat saja diskusi di media sosial, isinya kebanyakan buli membuli, pelecehan, perendahan martabat, dan penghinaan ke pendukung kubu sebelah. Seakan masih belum puas untuk membuli selama Pilpres, setelah Pilpres pun masih tetap menjelek-jelekkan. Grup di Facebook yang saya ikuti isinya sampah, membicarakan hal yang sia-sia dan tidak ada gunanya lagi.

Menurut saya, kedua kubu –termasuk media pendukung dan kaum terpelajar pendukung masing-masing kubu– gagal move on. Mereka gagal berpindah ke status nromal. Mereka gagal untuk memberikan ketenangan dan kedamaian setelah Pilpres. Tetapi, mereka tetap terus menghidupkan api permusuhan yang entah sampai kapan berakhir. Buat apa sih jelek menjelekkan kubu lawan, tidak ada manfaatnya. Toh kita sebangsa dan senegara. Masyarakat awam saja sudah melupakan perbedaan selama Pilpres dan sudah kembali ke kehidupan normal, tetapi mereka yang katanya terpelajar tetap saja gagal move on.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Gagal “Move on”

  1. ramadhani1897 berkata:

    Zaman sekarang kita hidup di era media, dimana banyak informasi yg disungguhkan tapi lebih banyak yang tak bermakna.

  2. Urang Bandung berkata:

    Berarti Indonesia gagal “move on”. Masih tetap bodoh politik.

  3. Ping balik: Peristiwa Paling Damai Hari Ini (Jokowi – Prabowo) | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s