Kenapa Dikti Dipisah dari Kemendikbud?

Pak Jokowi sudah mengumumkan kabinetnya. Saya tidak mempermasalahkan siapa orang-orang yang dipilihnya sebagai menteri, tetapi saya kurang setuju dengan pemecahan Kemendikbud menjadi dua kementerian, yaitu Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemnbudikdasmen, uff… susah sekali membacanya) dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Ini berarti Pendidikan Tinggi digabung dengan Kementerian Riset dan Teknologi.

Apanya saya tidak setuju? ya, saya tidak setuju Dikti dipisah dari Dikdasmen. Pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi itu inline, segaris, satu tujuan, sehingga sebaiknya tetap dalam satu koordinasi. Menggabungkan Dikti dengan Ristek tidak pas. Tidak semua pendidikan tinggi berorientasi riset. Pendidikan vokasi (D1, D2, D3) tidak bertujuan untuk riset, tetapi pendidikan terapan yang orientasinya pasar kerja.

Kalau ingin menggabungkan Dikti dengan kementerian lain, maka kenapa hanya dengan Ristek? Pendidikan Tinggi tidak hanya didekatkan dengan dunia riset saja, tetapi juga dengan dunia industri. Nah, kalau begitu kenapa tidak digabungkan juga dengan Perindustrian?

Satu lagi, memisahkan kebudayaan dengan riset dan pendidikan tinggi juga tidak relevan, sebab riset itu juga sebuah kebudayaan. Budaya riset harus ditumbuhkan.

Sebenarnya penggabungan pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi dalam satu kementerian seperti pada kabinet-kabinet sebelumnya sudah pas dan sudah bagus. Sayang jika dirombak lagi.

Tapi ya sudahlah, Jokowi mempunyai hak perogeratif menentukan kementeriannya. Menterinya sudah dipilih lagi. Kita hanya tinggal menunggu seperti apa kebijakan Kemenristekdikti itu. Agak lama menunggu kerja nyata kementerian yang baru ini, karena pasti penggabungan ristek dan dikti itu memerlukan proses adaptasi yang cukup lama.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

9 Balasan ke Kenapa Dikti Dipisah dari Kemendikbud?

  1. nate berkata:

    kalau saya lebih setuju pak kalau kementriannya dipisah. biar bisa lebih fokus ajah, dipisah kan bukan berarti tidak sejalan. hehe..

  2. ahmadfaisolat berkata:

    digonta-ganti melulu, padahal belum lama papan nama di jurusan saya baru diganti dari depdiknas ke kemendikbud, eeh sekarang diganti lagi:mrgreen:

  3. Avan berkata:

    Gak aneh juga Pak. Dikti memang sebaiknya dipisah dari dasar & menengah. Kalau digabungkannya dengan riset, itu memang tergantung fokus. Mungkin pak Jokowi memfokuskan lulusan pendidikan tinggi Indonesia itu hebat2 dalam risetnya. Mudah-mudahan.

    Sebagai perbandingan ya Pak. Kebetulan sama2 tahun pemilu 2014 di Selandia Baru. Kabinet yg baru dibentuk sangat ramping (25 orang) karena seorang menteri bisa merangkap beberapa kementrian. Bahkan Prime Minister -nya merangkap menteri pariwisata. Nah, dikti Selandia Baru berada di kementerian “Minister of Tertiary Education, Skills and Employment” (lihat fokusnya adalah tenaga kerja). Sedangkan dikdasmen berada di satu kementerian sendiri, namanya: “Minister of Education”.

    Lengkapnya ada di tautan gambar ini: http://media.nzherald.co.nz/webcontent/infographics/460/NewLookGovOct8.jpg

  4. Muhammad Bakri berkata:

    Saya sebenarnya melihat ada fokus lain yang hendak dicapai oleh Presiden Jokowi. Dikdasmen dengan Dikti memang inline, tetapi Dikti yang digabungkan dengan Ristek bertujuan untuk membangun sinergitas Perguruan Tinggi dengan riset teknologi. Memang betul ada pendidikan vokasi yang fokus pada pasar kerja, namun juga dapat ditingkatkan dengan pengetahuan teknologi terapan pada industri. Bukan berarti pula, Dikti juga harus bergabung dengan industri. Saya rasa Presiden tidak memutuskan perubahan nomenklatur secara ngawur. Ada pertimbangan matang juga di sana, terkait fungsi politik dan ekonomi. Kita tunggu saja pak, gebrakan apa yang dapat dilakukan oleh Menteri baru.

    Hal yang penting adalah instruksi Presiden supaya kementerian tidak ego sektoral seperti sebelumnya. Semua kementerian harus sinergi dan terintegrasi. Itu sih pendapat saya pak.

    For the record, saya tidak memilih Jokowi saat Pilpres kemarin. Tetapi saat ini beliau sudah menjadi Presiden NKRI, so sebagai warga negara saya akan mendukung sesuai kapasitas saya.

  5. indonesia berkata:

    Menristek dan Dikti : m nasir, beliau rektor UNDIP ya Pak.kemaren Pak sudharto (mantan rektor UNDIP juga)yang kemaren ngisi debat presiden terkahir antara jokowi dan prabowo. Sekarang di kabinet indonesia, ada orang UNDIP..

  6. zunanto berkata:

    Mungkin presiden kita punya fokus yg berbeda, dan misi khusus terhadap perguruan tinggi, kita coba lihat kedepanya, seharusnya di jajaran perguruan tinggi akan ad perubahan silabus dan akan ad penekanan ke arah riset. Jika tidak ad saya rasa kurang efektif pemisahan/penggabungan ini

    #pandanganorangawam

  7. alrisblog berkata:

    Biasalah tiap presiden pengen namanya dicatat membuat perubahan, bermanfaat apa tidak urusan belakang.

  8. Ronald Tarigan berkata:

    Setelah presiden Jokowi terpilih semula saya berharap beliau akan membenahi pendidikan nasional ternyata sampai saat ini belum ada perubahan dari pemerintahan sebelumnya. Sistem BHMN untuk PTN seharusnya dikembalikan ke semula seperti di zaman Pak Harto, sehingga orang tua mahasiswa tidak terbebani masuk PTN. Demikian pula seleksi masuk PTN harus dikembalikan kepada ujian tulis kecuali bagi yg meraih medali dalam olimpiade nasional dan internasional. Sistem “jatah” 50 % mahasiswa untuk SMA dimana PTN itu berada tidak mendidik dan mencederai idealisme dan objektivitas keilmuan.

  9. asri berkata:

    setahu saya itu atas perjuangan Forum Rektor Indonesia pak, soalnya mereka ingin Perguruan Tinggi tu lebih dekat sama riset dan Iptek, emang sih rancu, tapi katanya biar lebih mudah koordinasinya gitu, soalnya di negara lain juga kayak gitu, pendidikan dtinggi berorientasi ke riset dan sudah saling melengkapi, walaupun program diploma, toh juga melakukan penelitian tugas akhir juga kan?..kalau kementrian pendididkan kan emang orientasinya pendidikan dasar dan menengah, biar mengurangi beban kerja juga kan pak, gak lagi mikirin perguruan tinggi yang berat gitu…mending gitu aja menurut saya, dikti independen sendiri gabung sama riset dan iptek yang isinya orang orang yang berkapasitas semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s