Minimnya Alumni ITB di Kabinet Jokowi, Memang Sudah Sewajarnya Demikian

Beberapa saat setelah Presiden Jokowi mengumumkan kabinetnya, bermunculanlah komentar-komentar dari para alumnus ITB di berbagai grup diskusi di media sosial. Menteri-menteri Jokowi didominasi oleh alumni UGM. Wajarlah, Jokowi kan alumni UGM. Lalu, alumni ITB yang menjadi menteri mana? Rata-rata para komentator di grup alumni ITB mengomentari alumni ITB menjadi menteri makin sedikit. Hanya ada ada dua orang alumni ITB di kabinet itu. Padahal, dalam kabinet-kabinet pemerintahan sebelumnya alumni ITB yang menjadi menteri banyak bertebaran. Maklum saja karena alumni ITB mempunyai jaringan yang kuat di Pemerintahan dan BUMN, hingga ke partai-partai politik, sehingga peluang menjadi menteri sangat besar. Tetapi sekarang dominasinya sudah mulai luntur.

Apakah hal ini sebuah masalah? Tergantung. Jika dilihat dari sejarah, memang kali ini alumni ITB tidak lagi mendominasi pemerintahan baru. Saya tidak tahu penyebabnya dan memang tidak ada keharusan setiap kabinet diisi oleh banyak alumni ITB, bukan? Itu hak perogeratif presiden memilih para pembantunya. Kalau sekarang sedikit, memangnya jadi masalah?

Saya sendiri tidak kaget dengan jumlah yang sedikit itu. Sudah saatnya alumni ITB melakukan introspeksi diri. Ini otokritik buat alumni alamameter saya juga. Reputasi alumni ITB sudah tercoreng dengan banyaknya pejabat negara yang merupakan alumni ITB terjerat berbagai kasus korupsi. Masih segar dalam ingatan kita Pak Rudi Rubiandini yang ditangkap oleh KPK karena kasus suap SKK Migas. Kasus yang paling anyar adalah mantan Menteri ESDM, Jero Wacik, yang ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka korupsi. Kalau dirunut ke belakang masih banyak lagi alumni yang terkena kasus serupa.

Memang yang melakukan korupsi tidak hanya alumni ITB saja, tetapi alumni perguruan tinggi lain pun ada juga, namun rasanya tidak sebanyak alumni ITB. Mereka adalah Rahardi Ramelan (ITS Surabaya) dalam kasus korupsi dana non-bujeter Bulog saat menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian; Nazaruddin Syamsuddin (UI) dalam kasus korupsi di Komisi Pemilihan Umum (KPU); Miranda Goeltom (UI) dalam kasus cek perjalanan kepada anggota DPR RI; Rokhmin Dahuri (IPB) dalam kasus dana non-bujeter di Kementerian Perikanan dan Kelautan yang dipimpinnya (sumber kutipan dari sini).

Banyaknya alumni ITB yang terjerat kasus hukum adalah sebuah peringatan keras. Karena nilai setitik rusak susu sebelanga. Keunggulan ITB mulai tenggelam karena kasus korupsi tersebut. ITB jelas tidak pernah mengajarkan mahasiswanya melakukan korupsi, namun kalau sudah lulus dari kampus maka tindakan mereka sudah menjadi urusan pribadi masing-masing yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan alamamaternya. Pengaruh lingkungan pergaulan setelah lulus dari kampuslah yang memberikan dampak besar bagi alumni manapun untuk melakukan korupsi.

Maka, menyimak dari berbagai kasus yang memalukan nama alamamter ITB tersebut, sudah wajar kalau Jokowi hanya sedikit memberi tempat kepada alumni ITB. Kalau boleh saya usulkan moratorium dulu bagi aluni ITB untuk menjadi pejabat pemerintahan. Biarlah selama waktu moratorium tersebut menjadi masa untuk introspeksi diri bagi para alumni.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

6 Balasan ke Minimnya Alumni ITB di Kabinet Jokowi, Memang Sudah Sewajarnya Demikian

  1. Muhammad Bakri berkata:

    Mungkin juga menjadi renungan alumni ITB pak. Nama besar ITB sering disombongkan oleh alumni. Bahkan saya sering mendengar alumni ITB mengatakan bahwa lulusan ITB harus sombong. Entah itu sebagai jokes, atau memang begitu adanya. Entah komentar saya ini nyambung dengan tulisan Pak Rinaldi, tetapi ini sebuah renungan bagi kita semua.

    Alumni ITB tidak harus selalu berada di pemerintahan juga kok. Masih banyak kok wilayah yang bisa dijadikan ladang berkarya bagi alumni ITB dan tentu bisa membantu pemerintahan baru. Asal tidak “gengsi” atau justru “minder” dengan alumni kampus lainnya. Itu sih menurut saya pak. ^_^

  2. Rina berkata:

    salam kenal,
    pengamatan anda terhadap politik cukup jeli dan mendetail sampai sampai mengulik sisi pendidikan setiap pejabat pemerintah, saya sendiri sebetulnya kurang begitu peduli dengan politik di Indonesia, cuma membaca tulisan anda membuat saya ingin komentar pak🙂
    Menurut saya,Dari Lulusan manapun tidak penting , yang paling penting adalah bagaimana mereka menggunakan ilmu yang mereka pelajari untuk dengan rela mengabdi menyejahterakan masyarakat di indonesia bukan kemudian sombong karena jebolan univ ternama kemudian dengan seenaknya menggunakan ilmu mereka untuk membodohi orang lain yang kurang mengerti .
    Bagaimanapun, pemerintah seharusnya menyamakan kedudukan pendidikan di Indonesia , tidak perlu ada universitas favorit , ternama , sekolah orang kaya , sekolah orang miskin, pendidikan daerah kota , pedidikan daerah tertinggal , dan sebagainya sehingga kesempatan dan kedudukan bisa ditempati siapa saja tanpa harus memusingkan lulusan dari mana .

  3. salam. boleh saya tanya. tahu tk nk center kan gamba dalam wordpress.

  4. aneng yuliani berkata:

    kerja di luar negri lebih mendapat penghargaan … korupsi masalah mental perorangan… di ITB lebih banyak yg bermental hebat..dari pada bermental tempe

  5. Agung berkata:

    Mohon maaf Pak, mohon tulisannya diralat. Rahadi Ramelan adalah alumnus kita juga, beliau bukan alumnus dari ITS. Memang benar, Rahadi Ramelan adalah Guru besar Teknik Mesin di ITS Surabaya, tetapi tidak pernah kuliah di kampus itu.

    Setahu saya, baru satu orang alumnus ITS yang pernah jadi menteri, yaitu M NUH. Alumnus mereka memang terkenal tidak banyak berada di jabatan politik karena lebih menyukai jabatan profesional yang sesuai dengan bidang keilmuannya. Mereka lebih mengincar posisi Dirut BUMN dan korporasi swasta sesuai latar belakang keilmuannya. M NUH kemungkinan besar bersedia menjadi menteri karena menjabat menkominfo dan mendikbud, yang sesuai latar belakang pendidikannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s