Menjadi “Tukang Ojeg” Anak

Selain sebagai PNS, “profesi” sampingan saya adalah merangkap sebagai “tukang ojeg”. Tentu bukan tukang ojeg dalam arti sebenarnya, tetapi mengantar (jemput) anak sendiri pergi (dan pulang) sekolah. Dengan sepeda motor yang setia, setiap pagi tugas saya adalah mengantarkan anak ke ke sekolahnya. Setelah mereka selesai mandi dan sarapan, maka saya menjadi tukang ojeg dulu untuk anak-anak tersayang.

Setiap hari saya selalu melakukan hal ini, dari hari Senin sampai Sabtu setiap pagi. Jika dihitung-hitung, saya sudah menjadi tukang ojeg anak sejak mereka mulai pra sekolah. Mulai dari sekolah di Play Group, TK, SD, bahkan hingga SMP. Selesai tahap sekolah si kakak, selanjutnya giliran adiknyalah yang saya antar (jemput) sekolah. Begitu seterusnya hingga sekarang bahkan secara bergantian, kakak dulu yang diantar pukul enam pagi, lalu nanti giliran adiknya pukul setengah tujuh pagi.

Saya tulis ‘jemput’ dalam tanda kurung karena jika saya belum berangkat ke kampus, maka saya menjemput anak dulu dari sekolah. Saya bisa begitu karena di kampus saya tidak ada keharusan dosen masuk pagi-pagi dan pulang sore secara teratur seperti pekerja kantor lain umumnya (istri saya yang juga PNS harus berangkat pagi-pagi dan pulang sore). Saya bisa berangkat ke kampus jam berapa saja. Jika jadwal mengajar siang, saya bisa pergi ke kampus menjelang jam kuliah. Karena jadwal yang fleksibel tersebut, saya mempunyai waktu lebih banyak di rumah untuk mengerjakan persiapan kuliah dari rumah, menulis, memeriksa ujian, dan sebagainya. Ketika masih di TK anak saya pulang jam sepuluh pagi, maka saya masih bisa menjemputnya dengan motor, jika tidak bisa menjemputnya maka dia pulang dengan becak yang sudah saya langgan sejak dia masih Play Group.

Kini ketika dua orang anak sudah SMP, saya tidak mengantarnya sampai ke sekolah lagi karena sekolahnya sudah jauh. Saya antar dia hinga ke tempat perhentian angkot, lalu dia pergi sendiri dengan angkot atau bis Damri ke sekolah. Untuk anak yang sulung karena tidak bisa berangkat sendiri (ABK, anak bekebutuhan khusus), maka saya sewa tukang ojeg beneran untuk mengantar jemputnya pergi dan pulang sekolah.

Mungkin anda anggap pekerjaan antar jemput anak ke sekolah itu adalah rutinitas biasa saja, sebab setiap orangtua pasti melakukannya ketika anak mereka masih belum mandiri. Namun saya memandangnya tidak sekedar tugas dan kewajiban orangtua semata, tetapi hal itu adalah momen-momen yang terindah di dalam hidup. Ketika mereka sudah mandiri dan bisa pergi sendiri, atau ketika mereka sudah dewasa dan tidak memerlukan kita lagi, maka momen-momen bersama anak itulah yang akan selalu terkenang. Anak kita tidak akan teringat dengan makanan dan mainan yang kita belikan, tetapi yang akan menjadi kenangan indah dalam hidupnya nanti adalah momen-momen bersama ayah bundanya. Anak kita tidak membutuhkan mainan-mainan  yang mahal, yang mereka butuhkan adalah kasih dan sayang orangtuanya.

Kini tinggal si bungsu yang saya antar setiap pagi ke sekolah. Kakaknya hanya sesekali diantar ke tempat perhentian angkot. Jika saya ada tugas ke luar kota, saya sering merasa sedih karena tidak bisa mengantar anak ke sekolah. Sebagai tukang ojeg anak, saya menikmati “profesi” tambahan ini, sebab kelak setelah dia dewasa saya tidak akan merasakan momen ini lagi. Dalam perjalanan naik motor ke sekolah biasanya saya bercerita, menanamkan nasehat, dan bersenda gurau dengannya. Sesampai di halaman sekolah, dia turun, saya cium keningnya, lalu dia berjalan masuk sambil memberi salim kepada guru-gurunya yang berbaris menyambut murid-murid yang baru datang. Saya pandangi anak saya berjalan hingga dia “hilang” berbelok masuk ke dalam kelasnya, sesudah itu barulah saya pulang kembali ke rumah.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Menjadi “Tukang Ojeg” Anak

  1. Muhammad Bakri berkata:

    Wah betul sekali, anak yang diantar oleh ayahnya ke sekolah atau sampai naik kendaraan umum itu membekas hingga dewasa. Saya masih ingat jelas kebiasaan ayah saya mengantarkan saya sampai halte bus umum. Di sana kami saling berbincang sampai busnya datang.

    Salut juga buat Pak Rinaldi yang tetap semangat. Semoga tetap sehat selalu pak

  2. eibidifaiq berkata:

    🙂 keren pak. Semoga selalu menginspirasi

  3. eibidifaiq berkata:

    Reblogged this on eibidifaiq and commented:
    Kalo ini sih kebiasaan ibu. Mantap

  4. emaknyashira berkata:

    saya sendiri punya kenangan indah dulu semasa SD dulu, dibonceng papah dengan motor sampe ke depan gerbang lalu mencium tangan beliau baru kemudian masuk ke sekolah. Obrolah yang cuma sebentar biasanya seputar majalah Bobo atau buku cerita yang mau dipinjam dari perpustakaan kantor beliau.

  5. mardianis berkata:

    wah sy sangat senang sekaligus iri dengan ayah yg seperti ini. saya sebagai PNS kementerian yg punya jam kerja dan rutinitas kerja tidak sempat. sekali seminggu saja mengantar anak di hari sabtu. demikian juga dg ayahnya, anak sy masih TK diasuh oleh kakak sy yg sudah pensiun, kebetulan anak kakak sy punya anak seumur anak sy maka dia yg menjemput antar anak sy. bersamaan dg anaknya . kebetulan kami tinggal dlm 1 komplek dan berdekatan.
    pengalaman sy juga tidak bisa mengurus secara langsung anak yg sudah kuliah, akhirnya telat menyelesaikan studinya di Gajahmada. anak sy kuliah di UGM aturan thun 2014 kemaren udah selesai begitu sy tanya kapan tulis tugas akhir , ternyata SKSnya belum kelar, sy tau sks nya belum kelar dg datang Administrasi akademik saat tugas ke jogya , akhirnya saya datangi ketua jurusan apa masalah anak sy .trnyata anak sekarang itu tidak sama dg kita jaman dulu yg berambisi kuat untuk cepat selesai, saya baru tau kalau di UGM mata kuliah wajib tdk boleh nilai C maka dengan pendekatan dg ketua jurusan anak saya di kasih program akselarasi , alham dulilah selesai SKS tingal tugas akhir . kalau sy tidak datang kekampus anak saya apa jadinya anak sy sudah lkuliat 5 tahun . sy pikir itulah manfaat orang tua dekat dan memperhatikan keseharian anaknya karna jaman kita dg anak kita sangat jauh berbeda . kedewasaan dalam menghadapi masalah juga beda.

  6. oktavianidewi berkata:

    Tulisan Bapak sangat mengena, momen diantar ke sekolah oleh ayah adalah momen yang paling dirindukan seorang anak, apalagi jika sang ayah sudah tiada. Artikel Bapak sukses membuat saya terharu, hehehe🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s