Jalan-jalan ke Gunung Bromo

Pada akhir bulan September yang lalu kami rombongan dosen dari kampus melakukan acara rekreasi ke Gunung Bromo, kota Malang, dan kota Batu. Tujuan utama sebenarnya ke Gunung Bromo yang merupakan ikon wisata Jawa Timur yang terkenal itu. Sungguh saya belum pernah pergi ke Gunung Bromo, jadi ini jalan-jalan pertama saya ke Bromo.

Kami naik pesawat sore dari Bandung menuju Surabaya. Harapan kami bisa sampai ke Gunung Bromo untuk melihat sunrise pada pagi dini hari. Dari Bandung kami naik Air Asia menuju Bandara Juanda Surabaya. Pesawat tiba lebih cepat dari jadwal karena keberangkatan (jam 19.00) juga lebih cepat dari jadwalnya.

Dari Bandara Juanda bus yang menjemput sudah menunggu. Setelah makan malam di Sidoarjo, bus langsung berangkat malam itu juga ke Gunung Bromo melewati beberapa kabupaten seperti Sidoarjo dan Pasuruan. Tepat tengah malam bus sampai ke hotel transit di Pananjakan. Ini berarti kami sudah sampai di kawasan Gunung Bromo. Tepatnya kami berada di kawasan pegunungan Tengger. Gunung Bromo adalah salah satu puncak gunung di Pegunungan Tengger.

Mendengar kata Tengger kita pasti teringat suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Orang Tengger umumnya beragama Hindu. FYI, menurut sejarah, suku Tengger adalah sisa penduduk Kerajaan Majapahit pada zaman dulu yang menolak agama Islam. Ketika Islam berkembang di Pulau Jawa melalui para Wali Songo, penyebarannya pun sampai ke kerajaan Majapahit. Sebagian penduduk Majapahit yang tidak mau masuk Islam mengungsi ke dua tempat, yang pertama ke Pegunungan Tengger menjadi suku Tengger, sebagian lagi menyeberang ke Pulau Bali, berasimilasi dengan penduduk asli di sana, dan menyebarkan agama Hindu di Pulau Bali. Demikian flashback sejarah yang saya ingat, CMIIW. Kalau kita melewati rumah-rumah suku Tengger, kita melihat keserupaan dengan desa-desa di Bali. Di depan rumah orang Tengger terdapat pura kecil tempat menaruh sesaji.

Di hotel transit kami tidur sekitar dua jam. Jam dua pagi kami dibangunkan pemandu wisata karena petualangan ke Gunung Bromo akan segera dimulai. Pemandu wisata sudah menyewa belasan jip (jeep) menuju Gunung Bromo. Jip adalah kendaraan yang kuat untuk melewati lautan pasir dan jalan yang menanjak di sekitar Bromo. Satu jip diisi maksimal lima penumpang, satu orang di depan dan empat orang di belakang. Jip-jip itu dikelola oleh penduduk suku Tengger. Banyak sekali jip terdapat di halaman rumah orang Tengger. Kendaraan seperti Avanza, Xenia, atau merek lainnya jarang terlihat, mungkin karena kurang cocok untuk jalan di pegunungan dan tanah berpasir.

Puluhan jip parkir di sepanjang jalan menuju kawasan Bromo  (difoto pagi hari setelah sunrise)

Puluhan jip parkir di sepanjang jalan menuju kawasan Bromo (difoto pagi hari setelah sunrise)

Jalanan menuju kawasan Bromo sangat padat malam itu. Mungkin karena malam minggu sehingga banyak wisatawan yang ingin mengejar sunrise di Bromo. Bus tidak bisa sampai ke puncak Pananjakan karena sudah susah untuk parkir dan melaju ke atas. Akhirnya kami para penumpang jip berjalan kaki. Banyaknya wisatawan yang berjalan kaki menuju Pananjakan adalah rezeki bagi tukang ojeg. Puluhan tukang ojeg menawarkan jasa ke puncak Pananjakan, mereka berkali-kali mengatakan “masih jauh ke atas, Pak/Bu”. Tarif yang diminta adalah Rp15.000 per orang. Jika dua orang berboncengan maka tarifnya tetap dihitung Rp15.00/orang. Saya dan teman mengira puncak Pananjakan masih jauh, maka saya menyerah dengan tawaran tukang ojeg. Saya pun naik ojeg ke puncak Panajakan. Rupanya saudara-saudara… puncak Pananjakan itu hanya dekat saja, nggak sampai dua ratus meter dari tempat kami turun dari mobil jip. He..he..sedikit tertipu ya, tapi ya sudahlah, diikhlaskan saja Rp15.000 untuk jarak 200 meter itu.

Malam itu langit terasa sangat dekat, mungkin karena kami berada di atas gunung. Bintang-bintang bertaburan di atas langit Gunung Bromo, terasa begitu dekatnya. Belum pernah saya melihat langit malam yang bertaburan bintang seindah malam itu, bersih tanpa polusi. Kalau kita di kota besar seperti Bandung mana pernah lagi melihat langit malam sebersih ini. Sayang sekali saya tidak sempat memotretnya, karena tangan dan jemari saya sudah kaku akibat suhu di puncak Pananjakan begitu dinginnya. Sarung tangan, jaket tebal, syal, dan sebo tidak mampu menanahan dinginnya suhu. Oh iya, waktu terbaik mengunjungi Bromo adalah pada musim kemarau (Juli-Sepetember), karena cuaca saat itu sangat bagus, tiada hujan, dan langit begitu bersih. Cuman ya itu, dinginnya malam hari pada musim kemarau di gunung sangat menggigit kulit.

Ratusan orang sudah berkumpul di puncak Pananjakan. Banyak penjual hidangan hangat di sini seperti jagung bakar, wedang jahe, kacang rebus, tahu goreng, bakwan, dan lain-lain. Bagi yang mau sholat jangan khawatir, ada sebuah masjid dan sebuah gardu yang difungsikan sebagai mushola. Tapi air wudhunya itu mak, sangat dingin!

Jam empat dinihari remang-remang fajar mulai terlihat dari puncak Pananjakan. Inilah awal sunrise yang ditunggu-tunggu. Ratusan orang sudah siap dengan kameranya. Benarlah, di ufuk timur langit mulai memerah, pertanda matahari akan terbit. Fajar mulai menyingsing.

Fajar mulai menyingsing dari kejauhan.

Fajar mulai menyingsing dari kejauhan.

Di tempat lain, di kawasan bibir jurang di puncak Pananjakan, puluhan orang berkumpul untuk bersiap-siap melihat sebuah pemandangan yang akan memukau mata. Ketika matahari semakin memperlihatkan sinarnya menerangi langit malam, sesuatu yang terselubung gelap di seberang jurang perlahan-lahan mulai terlihat bentuknya. Mula-mula berupa siluet, dan akhirnya tampaklah pemandangan yang begitu indahnya, masya Allah, bagaikan sebuah lukisan alam yang terbentang dengan indahnya.

Tiga buah puncak Gunung dengan lautan pasir di bawahnya.  Gunung Batok di latar depan, di sebelahnya Gunung Bromo dengan kawahnya, dan di belakangnya Gunung Semeru.

Tiga buah puncak Gunung dengan lautan pasir di bawahnya. Gunung Batok di latar depan, di sebelahnya Gunung Bromo dengan kawahnya, dan di belakangnya Gunung Semeru.

Lansekap alam yang luar biasa indahnya.

Lansekap alam yang luar biasa indahnya.

Teman saya berhasil memotret dengan kamera yang lebih baik, di bawah ini fotonya. Lihatlah, Gunung Semeru di kejauhan tampak seperti penjaga yang menjaga kedua gunung di depannya, Bromo dan Batok.

Tiga gunung yang begitu indah. Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (credit title: Bayu Hendradjaya).

Tiga gunung yang begitu indah. Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (credit title: Bayu Hendradjaya).

Ratusan orang antri untuk memotret  pemandangan alam yang luar biasa ini.

Ratusan orang antri untuk memotret pemandangan alam yang luar biasa ini.

Bandingkan dengan fotto dari Wikipedia: Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mtbromo.jpg)

Bandingkan dengan fotto dari Wikipedia: Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semeru (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mtbromo.jpg)

Narsis dulu di depan Bromo

Narsis dulu di depan Bromo

Puas berfoto-foto di pincak Pananjakan, kami kembali turun ke bawah. Di sana mobil jip sudah menunggu untuk membawa kami ke petualangan yang lebih seru lagi, yaitu melintasi lautan pasir. FYI, berjuta tahun yang lalu hanya ada Gunung Tengger di sana. Gunung ini meletus dengan hebatnya sehingga menciptakan kawah yang sangat luas yang disebut kaldera. Kaldera Gunung Tengger tersebut lama kelamaan tertutup pasir sisa letusan gunung api sehingga mengesankan sebuah samudera pasir. Dari dasar lautan pasir itu muncul gunung baru yang bernama Gunung Batok karena bentuknya mirip seperti batok kelapa, sedangkan bagian aktif Gunung Tengger melahirkan Gunung Bromo. Gunung Bromo inilah yang masih aktif hingga sekarang.

Gunung Batok di hamparan lautan pasir

Gunung Batok di hamparan lautan pasir

Puluhan jip mengantar wisatawan ke lautan pasir (kaldera Gunung Tengger).

Puluhan jip mengantar wisatawan ke lautan pasir (kaldera Gunung Tengger).

Lalu, di manakah Gunung Bromo yang kita lihat dari puncak Pananjakan? Gunung Bromo terletak di sisi kiri belakang Gunung Batok. Dari lautan pasir kita dapat melihat ratusan orang berjalan menuju puncak Gunung Bromo. Bukit yang berasap itulah puncak Gunung Bromo.

Menuju Gunung Bromo

Menuju Gunung Bromo

Untuk menuju puncak Gunung Bromo yang ada kawahnya itu, kita bisa berjalan kaki melewati lautan pasir, atau kalau malas berjalan bisa naik kuda yang disewakan dan dituntun oleh orang Tengger. Anda harus hati-hati menanyakan tarif naik kuda. Mula-mula pemilik kuda menawarkan jasa Rp100.000 pp (ke kaki Gunung Bromo dan kembali lagi ke jip di lautan pasir). Pengalaman saya ketika itu, mereka bilang tarifnya seratus ribu rupiah pulang pergi, tetapi ketika sudah sampai di kaki Gunung Bromo (perhentian terakhir menjelang tangga naik), mereka mengatakan tarifnya Rp100.000 untuk sekali jalan saja, kalau pulang pergi Rp150.000. Wah, saya pikir ini cara yang tidak baik, dan mencemari citra wisata Gunung Bromo.

Berkuda mendaki puncak Gunung Bromo

Berkuda mendaki puncak Gunung Bromo

Saya naik kuda yang dituntun oleh orang Tengger mendaki Gunung Bromo. Dari ketinggian saya dapat melihat ke bawah, di bawah terhampar lautan pasir yang maha luas, puluhan jip yang menunggu di sana terasa kecil seperti mobil mainan saja, lalu tampak juga sebuah pura. Di latar belakang adalah tebing-tebing Gunung Tengger. Dari pemandangan ini dapatlah kita menyimpulkan bahwa tempat kita berada ini sesungguhnya adalah kawah gunung api purba.

Kaldera Gunung Tengger tampak dari kaki Gunung Bromo

Kaldera Gunung Tengger tampak dari kaki Gunung Bromo

Kuda yang saya tumpangi berhenti hingga kaki Gunung Bromo. Di sini terdapat tangga menuju kawah. Ratusan orang antri untuk menaiki tangga tersebut.

Tangga menuju kawah Gunung Bromo

Tangga menuju kawah Gunung Bromo

Antri menuju kawah

Antri menuju kawah

Antri

Antri

Setelah mendaki anak tangga yang jumlahnya ratusan, sampailah kami ke puncak Gunung Bromo. Di puncak gunung inilah terdapat kawah yang terjal dan bentuknya menyerupai kerucut yang runcing ke bawah. Hati-hati berada di bibir kawah ini, meskipun sudah diberi pagar tapi tetap saja harus berpegangan supaya tidak jatuh. Di kawah yang masih aktif itu setiap tahun dilangsungkan upacara Kasada atau Kasodo. Orang suku Tengger yang beragama Hindu melarung sesajen berupa hewan hidup ke dalam kawah seperti ayam, kambing, makanan, dan lain-lain sebagai persembahan kepada Sang Hyang Widi.

Kawah  Gunung Bromo yang masih aktif

Kawah Gunung Bromo yang masih aktif

Kawah Gunung bromo

Kawah Gunung bromo

Upcara Kasodo di Gunung Bromo (Sumber: Wikipedia)

Upcara Kasodo di Gunung Bromo (Sumber: Wikipedia)

Selesai berfoto-foto di kawah Gunung bromo, saya pun turun kembali ke lautan pasir. Di lautan apsir ini terdapat sebuah pura agama Hindu. Di pura inilah upacara Kasodo dimulai.

Anak saya befoto ddengan latar belakang Gunung Bromo. Di kaki Guunung Bromo terlihat sebuah pura.

Anak saya befoto ddengan latar belakang Gunung Bromo. Di kaki Guunung Bromo terlihat sebuah pura.

Pura di kaki Gunung Bromo

Pura di kaki Gunung Bromo

Kembali bertemu dengan Gunung Batok di tengah hamparan lautan pasir.

Kembali bertemu dengan Gunung Batok di tengah hampran lautan pasir.

Demikianlah pengalaman saya jalan-jalan ke Gunung Bromo. Akhirnya kesampaian juga keinginan saya mengunjungi gunung yang terkenal ini. Sungguh indah pemandangan alam di Gunung Bromo, sungguh indah ciptaan Allah SWT.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

10 Balasan ke Jalan-jalan ke Gunung Bromo

  1. buzzerbeezz berkata:

    Bromo memang selalu indah. Sudah lama saya terakhir kali ke Bromo. Jadi pengen ke Bromo lagi. Nice story pak..

  2. nengwie berkata:

    Waah kabitaaa… Eeh pengeeen.. Hehe…

    Kira2 suhunya brp itu yaa dinginnya..??

  3. otidh berkata:

    Nggak mampir ke Bukit Teletubbies sekalian Pak setelah dari Bromo? Pemandangannya tidak kalah indahnya. Bukit hijau yang terlihat mulus dari kejauhan dan savanna hijau di sekitarnya. Biasanya oleh sang sopir jeep diantarkan juga ke sana. Tidak jauh dari Bromo.

    • rinaldimunir berkata:

      Wah, saya nggak tahu ada Bukit Teletubbies di sana, dhito. Tukang jeep hanya mengantar ke Pananjakan, lalu ke lautan pasir, sudah itu saja tanpa memberitahu ada obyek wisata lainnya di sekitar sana.

  4. Ping balik: Pemandangan Gunung Bromo dari Atas Pesawat | Catatanku

  5. Gits Iwan berkata:

    Foto yang bagus mas….

  6. artikelnya sangat membantu bagi para wisatawan yang ingin berkunjung ke bromo
    ini saya share juga info seputar perjalanan wisata ke bromo bagi siapapun yang ingin berkunjung ke bromo agar dapat merencanakan perjalanan wisata anda dengan sebaik mungkin
    silahkan kunjungi http://viewbromo.com/
    terima kasih.

  7. Ping balik: Paket Wisata Pramuka 3 - Layanan Kontingen KEMNAS 3 Pramuka SIT

  8. vitri berkata:

    Seru sekali ya….
    Jalan – jalan ke Gunung Bromonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s