Jokowi yang Makin Kehilangan Kilau

Belum seratus hari menjabat, Presiden Jokowi melakukan blunder yang makin menghilangkan kilaunya sebagai presiden yang bersinar, meskipun kilau yang diperolehnya hasil polesan media. Dia telah banyak melanggar janji-janjinya sendiri selama masa kampanye. Janjinya bahwa kabinet akan diisi oleh kalangan profesional ternyata tidak terbukti. Kabinet justru diisi bagi-bagi kursi dengan partai pendukungnya, bahkan anak Megawati dijadikan menteri koordinator. Janji bahwa Jaksa Agung akan disi oleh orang yang bebas partai politik tidak terbukti, ternyata Jaksa Agung disi oleh politisi dari Partai Nasdem. Tidak sampai di situ, semua orang-orang yang berjasa mendukungnya di dalam Pilpres diberikan jabatan-jabatan mentereng, bahkan jabatan yang tidak dikenal sama sekali di dalam kabinet-kabinet sebelumnya seperti Kepala Staf Kepresidenan yang diberikan kepada Luhut Panjaitan. Sekiranya masih ada lagi orang-orang yang “berjasa” yang belum diberi jabatan, maka cepat atau lambat nanti pasti diberi sebagai utang balas budi.

Puncak dari blunder Pak Jokowi adalah ketika mengusulkan Budi Gunawan sebagai Kapolri. Sudah jelas-jelas Pak BG ini distabilo merah oleh KPK karena masalah rekening gendut dan Jokowi sudah tahu hal ini, namun Jokowi masih tetap ngotot mencalonkannya sebagai calon tunggal Kapolri. Maka terjadilah polemik di seluruh negeri yang menunjukkan bahwa rakyat menolak calon Kapolri dari Jokowi, namun Jokowi tetap tidak menariknya kembali. Janji pemberantasan korupsi selama kampanye seakan-akan pepesan kosong belaka. Pencalonan BG sebagai Kapolri tidak sejalan dengan semangat memberantas korupsi seperti yang selama ini digembar-gemborkan.

Kuat dugaan bahwa Jokowi berada di bawah bayang-bayang Megawati dan Surya Paloh. Pengusulan BG sebagai Kapolri adalah titipan Megawati. BG pernah menjadi ajudan Bu Mega selama menjadi Presiden. Makanya tidak heran PDIP sangat ngotot mendukung BG, dan ketika BG ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, partai ini pula yang langsung bereaksi keras dengan menyerang KPK. Saya jadi teringat dengan perkataan Bu Mega dulu ketika Jokowi dicalonkan menjadi Capres. Ingat, anda adalah petugas partai, begitu kata Bu Mega. Dan sekarang ungkapan “sebagai petugas partai” atau “presiden boneka” mulai menunjukkan tanda-tanda kebenaran. Jokowi lebih mendengarkan titah Bu Mega ketimbang rakyatnya sendiri. Jokowi presiden yang tidak berdaya karena didikte oleh Megawati. Jokowi terlihat begitu lembek dan lemah. Jadi, sebenarnya yang menjadi Presiden itu Jokowi atau Megawati (dan Paloh)?

Ketika tulisan ini dibuat terjadi kegaduhan baru lagi. Seorang pimpinan KPK, Bambang Widjojanto, ditangkap oleh Bareskrim Polri setelah mengantar anaknya pulang sekolah. Ini adalah penangkapan balas dendam setelah petinggi Polri, BG, ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Kisruh cicak vs buaya jilid dua kembali terulang. Namun, rakyat kembali menunjukkan dukungannya kepada KPK dan mengecam sikap Polri yang semena-mena. Dan lihatlah bagaimana reaksi Jokowi menanggapi ketegangan antara KPK dan Polri, tidak jelas, dan terkesan mencari aman. Sikap Jokowi tidak lebih lebih tegas dari seorang Ketua RT. Dia yang memulai masalah ini dengan menetapkan BG sebagai calon Kapolri sehingga terjadi ketegangan antara KPK dan Polri, maka seharusnya dia pula yang mengakhiri.

Para pendukung Jokowi (Jokower alias Jokowi lovers) saat ini tampak lebih banyak memilih diam. Padahal pendukung militan Jokowi di media sosial tidak segan-segan membuli habis-habisan siapapun yang mengkritik Jokowi. Jokowi bagaikan manusia setengah dewa, dia tidak boleh dikritik karena tidak pernah salah. Sebagian pendukung Jokowi segan mengkritik tindakan-tindakan Jokowi, mungkin gengsi karena dulu begitu mati-matian mendukung dan membelanya. Mungkin mereka memendam kecewa setelah melihat Jokowi tidak sehebat dan tidak mendengarkan suara rakyat, tetapi mau bagaimana, nasi sudah menjadi bubur. Salam dua jari sekarang menjadi salam gigit jari. (Baca: Surat Terbuka kepada Pemilih Jokowi Sedunia)

Jika Jokowi ingin mendapatkan kilaunya kembali, dia harus berani lepas dari bayang-bayang Megawati. Dia harus bisa menunjukkan dirinya independen, berani, dan tegas. Dia harus bisa tegas dari pengaruh orang-orang di sekelingnya yang membuatnya tidak berdaya. Jika selama ini dia sering dirongrong oleh lawannya di KMP, maka “musuh” terbesarnya sekarang adalah para pendukungnya sendiri yang minta ini dan itu. Belum terlambat, Pak Presiden!

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

7 Balasan ke Jokowi yang Makin Kehilangan Kilau

  1. aldi berkata:

    Nasi udah jadi bubur pak, untungnya saya gk ikut2an berkontribusi membawa negara ini jd spt skr dgn memilih bawaannya partai sampah bin korup bernama PDIP.

  2. lili berkata:

    Kalo udah kayak sekarang jadi gemas liat simpatisan butanya jkw, semua terjadi gr2 pilihan mereka, kalian mesti tanggung jawab dgn apa yg kalian perbuat dgn menjadikan situasi negara spt skr, situasi dimana tirani jd penguasa, kpk dikerdilkan dgn cara2 busuk karena dianggap sbg penghalang, ketuanya dikriminalisasi.

  3. eibidifaiq berkata:

    Reblogged this on eibidifaiq and commented:
    reblog pak😉

  4. alrisblog berkata:

    Karena saya gak milih dia maka saya gak nyesal. Saya melihat memang bukan kapasitasnya jadi presiden, gak ada marwahnya. Jadi kalo ada yang bilang pemimpin boneka bisa dinilai sendiri. Bahkan JK dulu bilang hancur negara ini kalo dia yang memimpin. Kalo nasi udah jadi bubur, ya, makan buburlah rame-rame. Saya tetap makan nasi, hehe…

    • char berkata:

      Alris jijik gw liat lu pake boong pulak bilang gk milih si jokodok, org lu bela2in dia di tulisan pak rin pas mo pilpres tempo hari, emg kelakuanlu gk jauh beda dgn pilihanlu, pengecut, pemboong, cari aman, lu bileh makan nasi tp makan no nasi basi, sampah.

  5. A. Galvano berkata:

    terlepas dari segala macam pemberitaan atau rumor2 yang menimpa pejabat KPK, seperti pak Bambang Widjojanto dan pak Abraham Samad, masih ada satu hal yang sepertinya ganjal.. kalau pak BG termasuk orang2 yang distabilo merah KPK sewaktu seleksi menteri ya kalau tidak salah, kenapa tidak diumumkan secepatnya.. hmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s