Cacar Air

Minggu lalu, Fajar, anak bungsu saya, terkena penyakit cacar air. Sedih rasanya karena dia harus “diasingkan” dari lingkungan, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh main di luar, dan terutama tidak boleh sekolah. Cacar air adalah penyakit yang menular. Seorang anak yang terkena cacar air dapat menularkan virus cacar kepada anak lain yang kondisi kesehatannya kurang fit melalui sentuhan kulit atau melalui udara.

Selama seminggu anak saya harus mendekam di rumah. Dia kehilangan kegiatan sehari-hari yang menyenangkan yaitu bermain bersama teman-temannya di sekolah dan di TPA. Hanya di rumah dan di rumah. Membosankan bagi seorang anak kecil. Kerjanya hanya nonton TV, main game, dan main sendiri. Saya pun “terpaksa” tidak ke kampus selama satu hari karena menemaninya di rumah (kebetulan hari itu pembantu tidak masuk kerja).

Berhubung dua orang kakaknya sudah pernah kena cacar, maka saya sudah bepengalaman menangani anak yang terkena cacar air. Jadi saya tidak terlalu khawatir tentang penyakit ini karena akan sembuh sendiri dalam waktu 7 hingga 10 hari. Yang saya pikirkan hanya masalah sekolahnya saja, pasti dia ketinggalan pelajaran. Namun untunglah wali kelasnya baik dan hampir semua orangtua murid terhubung dengan guru melalui komunikasi dengan whatsapp atau BBM, maka informasi pelajaran sekolah masih bisa ditanya kepada gurunya. Anak saya mengerjakan latihan yang ada di dalam buku di rumah, meskipun dia terlihat ogah-ogahan, mungkin sakit mempengaruhi semangat belajarnya.

Setiap anak pasti pernah terkena cacar airm, jadi kita sebagai orangtua tidak perlu panik. Cacar air adalah penyakit yang umum dan selalu berjangkit pada kondisi udara yabng buruk dan musim pancaroba. Ciri-cirinya, mula-mula anak mengalami demam, badannya panas. Disangka anak demam biasa, rupanya keesokan harinya tampak bercak-bercak merah pada dada atau punggungnya. Beberapa jam kemudian bercak merah itu menggembung berisi air sehingga dinamakan cacar air. Pada hari ketiga jumlah bintik-bintik air mulai bertambah banyak dan rasa gatal mulai muncul. Sebenarnya cacar air bisa diobati sendiri, namun anda boleh membawanya ke dokter untuk menenangkan hati. Dokter akan memberi tiga macam obat, yang pertama obat penurun panas, kedua antibiotik, dan ketiga salep aciclovir yang dioleskan pada bintik-bintik cacar air tadi. Dokter berpesan begini: jangan diberi bedak talc karena dapat menyebarkan cacar ke bagian kulit yang lain (jika pecah). Kedua, anak harus dimandikan pagi dan sore dengan air hangat (padahal mitos selama ini anak yang terkena cacar tidak boleh mandi, ternyata mitos itu salah). Mandi berfungsi membersihkan kulit dari kuman-kuman cacar. Setelah mandi, barulah dioleskan salep aciclovir tadi dua kali sehari.

Sebenarnya anak yang terkena cacar tidak dilarang bermain di luar rumah, juga tidak dilarang terkena angin. Tetapi, nasehat orang-orang tua agar anak yang menderita cacar tidak boleh terkena angin mungkin ada benarnya. Angin tidak membuat cacar bertambah banyak, tetapi angin dapat menerbangkan virus cacar sehingga menempel pada anak lainnya. Begitulah kearifan orang tua kkta zaman dulu, yang tetap dipatuhi oleh orangtua zaman sekarang demi alasan kebaikan.

Jika perawatan anak yang terkena cacar dilakukan dengan benar, obat yang diberikan dokter diterapkan secara disiplin, dan makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak, maka penyakit cacar air dapat sembuh lebih cepat. Anak-anak yang terkena cacar lebih cepat sembuh daripada orang dewasa yang mengalaminya. Jadi, lebih baik terkena cacar air pada waktu kecil daripada mengalaminya pada saat dewasa. Hebatnya lagi, sekali anak terkena cacar, maka tubuhnya membuat sistem imun yang membuatnya kebal terhadap virus cacar air. Anak yang sudah pernah terkena cacar tidak akan pernah kena cacar lagi.

Pada hari kelima, bintik-bintik air cacar anak saya sudah tidak tumbuh lagi. Iseng-iseng saya membawanya kontrol ke dokter untuk lebih yakin apakah anak saya sudah boleh sekolah beberapa hari lagi. Dokter melihat perkembangan yang bagus, bintik cacar air terlihat sudah mengering dan tidak bertambah. Anak saya lebih banyak terkena cacar pada punggung damn dadanya, sementara pada muka hanya satu dua. Suhu tubuh sudah normal. Dokter hanya memberi vitamin dan antibiotik tambahan (yang sebelumnya sudah habis, namun sebenarnya tidak terlalu diperlukan). Dokter mengizinkan anak saya sudah bisa masuk sekolah pada hari Senin, yaitu hari ke delapan sejak terkena cacar (mulai teridentifikasi cacar pada hari minggu sebelumnya).

Alhamdulillah hari Senin anak saya sudah masuk sekolah. Sudah sembuh dan sudah ceria lagi bertemu teman-temannya yang seminggu tidak ditemuinya, dan saya pun sudah tenang kembali bekerja.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cacar Air

  1. alrisblog berkata:

    Nah kan kalo ke dokter kita tahu orang cacar boleh mandi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s