Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Madinah

Bagi seorang muslim, tempat apa di muka bumi yang selalu dirindukan untuk selalu dikunjungi dan ingin dikunjungi lagi? Jawabannya adalah Tanah Suci Makkah dan Madinah di negara Saudi Arabia. Menunaikan Haji sebagai rukun Islam yang kelima adalah impian setiap muslim, namun saat ini keinginan menunaikan Haji terhalang oleh keterbatasan kuota. Kuota haji untuk Indonesia biasanya lebih dari 200 ribu orang per tahun sesuai dengan jumlah penduduk muslim (untuk setiap 1000 orang penduduk muslim di suatu negara, kuota hajinya hanya 1 orang), tetapi sejak dua tahun lalu kuota itu dikurangi lagi menjadi 160 ribuan karena proyek perluasan besar-besaran Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Saat ini untuk mendapat kuota haji seorang muslim Indonesia harus menunggu 10 hingga 20 tahun. Jika anda mendaftar tahun ini, maka anda baru bisa berangkat ke Tanah Suci 10 sampai 25 tahun lagi. Siapa yang tahu umur manusia apalah masih hidup 10 hingga 20 tahun mendatang?

Karena waktu tunggu yang lama dan ketidapastian mendapat kuota haji, akhirnya pilihan banyak muslim di seluruh dunia adalah melaksanakan ibadah Umrah. Umrah adalah haji kecil karena tidak ada ibadah wukuf di Arafah dan bermalam di Mina. Padahal haji itu adalah wukuf di Arafah. Umrah dapat dilaksanakan sepanjang waktu kecuali pada bulan-bulan Haji (Zulhijah). Minat melaksanakan umrah bagi muslim Indonesia sangatlah tinggi, apalagi ditunjang banyaknya frekuensi penerbangan langsung oleh beberapa maskapai dari berbagai kota di tanah air (Jakarta, Surabaya, Makassar) langsung ke Makkah/Madinah. Biro-biro perjalanan umrah selalu dipenuhi permintaan jamaah yang ingin melaksanakan umrah. Sebenarnya bisa saja pergi umrah sendiri tanpa ikut rombongan tur, tetapi ikut rombongan tur dari biro perjalanan umrah lebih mangkus karena selain ada ustad pembimbing ibadah yang selalu mendampingi, kita juga tidak perlu repot soal makanan dan kendaraan selama di Tanah Suci. Pada hakekatnya pergi melaksanakan umrah sama dengan wisata rohani, karena selain beribadah di sana (thawaf dan sai) kita juga mengunjungi beberapa tempat yang bersejarah di kota suci Makkah dan Madinah.

Saya yang belum pernah ke Tanah Suci dan mendapat waktu tunggu ibadah haji selama enam tahun, sudah lama merindukan pergi ke sana. Akhirnya setelah mencari waktu yang tepat, yaitu masa liburan semester, saya memutuskan melaksanakan ibadah umrah pada awal Januari 2015. Bulan Desember dan Januari adalah masa-masa yang padat dengan jamaah umrah dari seluruh dunia. Banyak orang yang ingin melaksanakan ibadah umrah pada masa pergantian tahun, selain itu Maulid Nabi juga bertepatan dengan awal tahun baru, maka terbayanglah betapa ramainya jamaah umrah yang datang dari seluruh penjuru dunia.

Dalam memilih biro perjalanan umrah, seorang jamaah hendaklah memilih dengan berhati-hati. Rata-rata ongkos umrah saat ini berkisar antara 22 juta hingga 25 juta rupiah dengan sekamar berempat. Ongkos umrah bisa lebih mahal dari angka tadi jika memilih sekamar berdua atau bertiga dan kelas hotel yang disewa biro perjalanan. Dalam prakteknya banyak biro perjalanan umrah yang menawarkan ongkos yang murah di bawah 20 juta rupiah. Ada yang berani memberikan harga 15 hingga 18 juta rupiah. Mahal-murahnya biaya umrah yang ditawarkan biro perjalanan bergantung pada maskapai pesawat yang digunakan, jarak dari hotel penginapan ke Masjid Nabawi (di Madinah) dan Masjidil Haram (di Makkah), dan menu makanan yang terdapat di hotel (menu Indonesia atau menu Arab). Semakin murah biaya umrahnya, maka semakin jauh jarak hotel/penginapan ke dua masjid tadi (yang biasanya dicapai dengan jalan kaki, kecuali pakai biaya sendiri menggunakan taksi sebab tidak ada bus umum di sana). Bagi jamaah yang masih muda tentu tidak masalah berjalan kaki ratusan meter hingga lebih dari satu kilometer setiap kali hendak pergi sholat ke masjid Nabawi/Masjidil Haram, tetapi bagi jamaah yang sudah tua dan berusia lanjut tentu sangat kasihan harus selalu berjalan kaki. Padahal inti pergi umrah adalah selalu sholat lima waktu dan sholat sunat sebanyak-banyaknya di kedua masjid tadi karena pahalanya sangat besar. Jika selama di Tanah Suci hanya sesekali saja ke masjid dan memilih sholat di hotel tentu sangat disayangkan, jauh-jauh pergi ke Tanah Suci hanya untuk tidur dan berdiam di penginapan, tentu rugi biaya, rugi waktu, dan rugi pahala.

Selain jarak dari hotel ke masjid haram (Masjid Nabawi dan Masjidil Haram), mahal-murahnya ongkos umrah juga bergantung pada maskapai pesawat yang digunakan. Ongkos umrah bisa ditekan murah karena menggunakan pesawat low cost carrier yang rutenya transit di beberapa kota di Asia. Jadi, jamaah misalnya naik Air Asia dulu ke Bangkok, di Bangkok transit beberapa jam, lalu disambung lagi dengan pesawat lokal yang mempunyai kerjasama dengan maskapai di Saudi Arabia. Jika semuanya lancar tentu tidak masalah, tetapi tidak jarang jamaah umrah terlantar berhari-hari atau bahkan gagal berangkat ketika maskapai lokal yang akan membawa ke Jeddah tiba-tiba ditolak masuk ke Saudi. Ketika saya akan berangkat umrah bulan lalu, saya membaca di media ratusan jamaah umrah dari Indonesia terlantar berhari-hari di Bandara Don Muang di Bangkok karena Pemerintah Arab Saudi menolak maskapai lokal Thailand yang akan membawa jamaah. Rupanya ada persaingan bisnis antara beberapa maskapai lokal di Tahiland dalam merebut pangsa pasar penumpang ke Arab Saudi, celakanya yang menjadi korban adalah jamaah umrah dari Indonesia yang tidak tahu apa-apa.

Ada pula biro perjalanan yang menggunakan maskapai di Bangladesh. Dari Jakarta naik pesawat ke Bangkok, lalu ke Dhaka (ibukota Bangladesh), kemudian dari Dhaka naik pesawat lokal ke Jeddah (mungkin transit dulu di Dubai). Sambung menyambung dan melelahkan, dan seperti kasus Bangkok di atas, maka kemungkinan terlantar juga masih ada jika ada masalah dengan pesawat yang digunakan. Bahkan naik pesawat Emirates pun belum tentu ada jaminan bisa sampai ke Tanah Suci sesuai rencana. Masih dari media, saya membaca ratusan jamaah umrah dari Indonesia terlantar di bandara Dubai karena pesawat Emirates yang akan membawa ke Jeddah menelantarkan penumpang di sana (yang akhirnya diurus oleh Konjen RI di Dubai).

Karena itu saya lebih percaya jika maskapai yang digunakan ke Tanah Suci adalah Saudi Arabia Airlines dan Garuda Indonesia. Yang pertama adalah maskapai milik Pemerintah Saudi, maka sebagai maskapai milik negaranya sendiri, tentu mereka lebih leluasa keluar masuk negaranya. Sedangkan Garuda Indonesia kita sudah sama-sama tahu kualitas dan reputasinya. Soal makanan nasi Arab yang bikin nek (karena berminyak samin) seperti yang dikhawatirkan orang-orang di pesawat Saudi ternyata tidak sepenuhnya benar, mereka menyajikan hidangan Indonesia selama perjalanan, karena mereka tahu hampir seratus persen penumpang pesawat mereka adalah orang Indonesia. Pramugarinya juga ada orang Indonesia selain orang Arab tentu saja.

Jadi memang ketenangan dan kenyamanan dalam memilih biro perjalanan umrah adalah awal yang sangat menentukan. Tentu kualitas ibadah umrah tidak ditentukan oleh mahalnya ongkos umrah, Tuhan tentu tidak menilai ummat-Nya berdasarkan kategori mahal murahnya ongkos umrah, bukan? Semua berpulang pada kebijaksanaan kita dalam memilih.

Di Bandung, dari sekian banyak biro perjalanan umrah yang ada, saya memilih yang tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah. Biro perjalanan yang tergolong mahal misalnya Safari Suci di belakang Gedung Sate, ongkos umrahnya bahkan lebih mahal dari ONH (di atas 30 juta). Di belakang Gedung Sate dekat Masjid Istiqamah memang banyak biro perjalanan haji/umrah bertebaran, antara lain Percikan Iman Tour, Khalifah Tour, Amwa Tour, Safari Suci, Mega Citra, dan lain-lain. Namun semuanya termasuk kelas elit alias muahal pisaan (bagi saya). Mahal atau murah memang relatif bagi setiap orang. Selain hal yang disebutkan di atas, biaya umrah juga bergantung pada kurs dollar saat itu, karena biaya ditetapkan dalam dollar, namun setelah dirupiahkan tetap saja terasa mahal. Ketika saya berangkat awal Januari lalu dan melakukan pelunasan biaya pada akhir Desember, nilai rupiah sedang anjlok terhadap dollar. Satu dollar pernah mencapai Rp13.000 pada bulan Desember. Saya tahan dulu pelunasan selama dua minggu menunggu dollar turun, akhirnya setelah dollar mencapai Rp12.500-an, barulah saya lunasi. Jika dipikir-pikir ternyata memiliki tabungan dalam mata uang dollar itu perlu juga, baru terasa manfaatnya ketika kita ingin pergi ke Tanah Suci.

Saya memilih biro perjalanan Qiblat Tour di Jalan Taman Cibeunying Selatan. Biaya umrahnya di bawah biro-biro yang saya sebutkan tadi namun kulitasnya tidak diragukan lagi. Hampir setiap minggu Qiblat Tour memberangkatkan jamaah umrah, terbayang kan betapa besarnya peminat umrah melalui biro ini. Qiblat Tour juga memiliki kelas-kelas paket umrah yang harganya berbeda-beda, mulai dari paket yang lebih mahal karena hotelnya hanya 50 meter dari Masjidil Haram, hingga yang paling murah karena hotelnya berjarak 300 meter dari Masjidl Haram. Kita bisa memilih paket yang sesuai kantong. Meski berbeda paket, namun maskapai, makanan, dan layanan selama di Tanah Suci adalah sama. Kita mendapat bimbingan umrah selama satu kali (boleh lebih kalau mau), paket perlengkapan umrah (kain ihram, batik seragam, buku-buku, syal, koper).

Beberapa hal harus anda perhatikan bila anda ingin pergi umrah atau haji. Nama anda di paspor harus tiga kata, karena Kedubes Arab Saudi di Jakarta menolak memberi visa jika nama tidak terdiri tiga kata (baca: Berilah Nama Anakmu Minimal Tiga Kata). Kedua, anda harus telah mendapat vaksin meningitis. Kalau di Bandung suntikan vaksin meningitis dapat diperoleh di bagian Kesehatan Pelabuhan di dalam Bandara Husein Sastranegara. Saya menyarankan tidak hanya vaksin meningitis tetapi juga ditambah vaksin flu sebab di Arab Saudi dengan jamaah umrah yang jumlahnya ratusan ribu orang maka penularan virus flu sangat cepat. Ibadah umrah cukup menguras tenaga, jika kondisi tubuh lelah dan kurang fit maka kita mudah tertular flu. Saya mendapat flu selama umrah dan penyakit ini cukup mengganggu ibadah kita.

Saya lanjutkan ya. Jika biro perjalanan lain memulai umrah dari Makkah, maka kami memulainya dari Madinah. Pesawat Saudi Arabia Airlines yang membawa rombongan jamaah adalah satu-satunya maskapai yang berangkat dari Tanah Air yang boleh langsung terbang ke bandara Madinah. Garuda (ketika tulisan ini ditulis) setahu saya hanya bisa sampai Jeddah, dari Jeddah jamaah dibawa dengan bis ke Makkah (waktu perjalanan dari Jeddah ke Makkah sekitar dua jam).

Rombongan jamaah berkumpul dari kantor Qiblat Tour pada waktu tengah malam karena keberangkatan dari Bandara Soekarno-Hatta adalah pukul 6 pagi. Kami berangkat lewat pukul 12 malam menggunakan dua buah bis. Selama perjalanan ke bandara kami melafalkan kalimat talbiyah. Labbaika allahumma labbaik, labaika laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak. Kami (datang) memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Mata saya berkaca-kaca membaca kalimat talbiyah tadi. Terharu, karena sebentar lagi saya akan menginjakkan kaki di Tanah Suci, sebentar lagi saya akan datang ke Rumah Allah di Tanah Suci. Saya akan datang menumpahkan keharuan dan segala niat serta doa yang selama ini ingin saya curahkan di Rumah-Nya di Baitullah. Saya akan berdoa di Multazam di depan pintu Ka’bah. Saya akan mengunjungi Rumah Nabi di Masjid Nabawi, berdoa di Raudah di mana semua doa dikabulkan. Semua itu membayang-bayang di dalam kepala saya sehingga membuat saya tidak bisa tidur selama di dalam bis. Wajah-wajah anak saya yang terbaring tidur malam itu dan saya tinggalkan di rumah juga ikut terbayang-bayang, terutama wajah putra saya yang sulung yang merupakan salah satu alasan saya pergi umrah tahun ini juga. Air mata menitik membayangkan itu semua, meninggalkan sementara urusan dunia yang fana ini, pergi memenuhi panggilan-Nya ke Tanah Suci.

Jam setengah empat pagi kami sudah sampai di bandara Soekarno-Hatta, tepatnya di terminal keberangkatan luar negeri (2D). Di sana sudah banyak berkumpul jamaah umrah dari biro perjalanan lain yang sudah datang sejak awal. Seperti dugaan saya, ledakan jamaah umrah memang tidak terbendung, hampir setiap hari ada saja rombongan jamaah umrah hilir mudik di bandara Soeta menunggu keberangkatan. Jam enam pagi pesawat Saudi Arabia Airlines lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat berbadan lebar ini mengangkut sekitar 400 lebih penumpang yang sebagian besar jamaah umrah dari berbagai biro perjalanan di tanah air. Ada dari Bandung, Jakarta, Jambi, Kalimantan, Jawa Timur, dan lain-lain. Mereka mudah dikenali dari seragam batiknya karena setiap jamaah umrah dari biro perjalanan yang berbeda menggunakan seragam batik yang berlainan. Lucu juga ya jika diatur dengan seragam batik, seperti anak sekolah saja, tetapi mungkin maksudnya untuk kemudahan identifikasi antara satu jamaah biro tur dengan jamaah biro tur yang lain.

DSCF2006

Rombongan jamaah umrah dari sebuah biro perjalanan bersiap untuk check-in di Bandara Soetta.

Saya amati wajah-wajah jamaah yang kelelahan di dalam pesawat. Rata-rata jamaah umrah adalah orang-orang tua, wanita paruh baya, dan aki-aki yang sudah pensiun. Sebagian lagi keluarga yang membawa lengkap anak-anaknya, mungkin karena masih libur sekolah. Jamaah yang sudah berusia lanjut ini mungkin sudah pernah melaksanakan ibadah haji, tetapi mau pergi haji lagi terbentur masalah kuota tadi dan adanya semacam himbauan agar ibadah haji itu cukup satu kali, tidak perlu berkali-kali. Mereka mungkin pergi umrah dengan gaji pensiun mereka yang dikumpulkan bertahun-tahun, atau diberangkatkan oleh anak menantu mereka sebagai bentuk bakti anak kepada orangtua. Sehari-harinya orang-orang tua tadi mungkin hanya menghabiskan waktu hari tua di rumah dan pergi ke masjid ketika waktu sholat tiba. Orientasi orang-orang tua itu hanyalah ibadah dan ibadah saja. Anak-anak mereka sudah besar dan sudah hidup terpisah dengan mereka karena sudah berkeluarga. Tapi anak-anak itu tetaplah anak yang berbakti dan memperhatikan kebutuhan orangtua mereka. Mereka berinisiatif memberangkatkan orangtua mereka ke Tanah Suci sebagai bentuk “hiburan rohani”. Orangtua mana yang akan menolak ketika anak-anak mereka yang sudah besar memberangkatkan mereka pergi umrah ke Tanah Suci. Naik haji lagi tentu harus menunggu puluhan tahun, mungkin tidak sampai lagi nyawa yang dikandung badan menunggunya, maka pergi umrah adalah keinginan besar bagi kebanyakan orangtua. Saya membayangkan, suatu hari nanti ketika saya sudah tua, anak-anak saya memberangkatkan orangtuanya pergi umrah ke Tanah Suci.

Selain orangtua yang sudah pergi berhaji, banyak pula jamaah umrah yang memang belum pernah naik haji karena keterbatasan kuota haji. Menunggu pergi haji sepertinya tidak mungkin karena harus menunggu belasan tahun, maka pergi umrah adalah jalan keluarnya. Wajah-wajah jamaah menyiratkan mereka adalah orang yang lugu, berasal dari kampung-kampung, belum pernah naik pesawat, belum pernah ke luar negeri. Mereka mungkin telah menngumpulkan uangnya bertahun-tahun untuk pergi haji, tetapi karena kondisi yang saya ceritakan di atas, maka tabungan mereka bertahun-tahun itu dialihkan untuk ongkos umrah. Niatnya beda, namun Insya Allah di mata Allah SWT tentu pahalanya sama seperti orang pergi berhaji. Mereka, jamaah yang sudah tua-tua itu, memendam hasrat kerinduan yang mendalam memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci pergi berhaji, tetapi apa daya kuota memupus impian itu. Maka, umrah adalah pilihan jika berhaji tidak mungkin lagi.

Ah, saya terlalu banyak melamun di dalam pesawat. Sembilan hingga sepuluh jam di dalam pesawat adalah waktu yang membosankan. Saya mencoba mengaji di dalam pesawat, membaca kembali buku bimbingan ibadah umrah, membaca majalah bertulisan arab yang saya tidak mengerti isinya, namun saya susah sekali untuk bisa tidur. Di layar monitor di dalam pesawat terpampang posisi pesawat sedang di atas mana, waktu di Saudi dan waktu di Jakarta, sudah berapa jam terbang, berapa jam lagi sampai, suhu di udara dan lain-lain. Oh, terasa begitu lama. Belum pernah saya menempuh perjalanan yang lama ini. Paling lama naik pesawat adalah ketika pergi ke Korea dan Jepang selama enam jam, tetapi ke Madinah waktu tempuhnya sekitar sembilan hingga sepuluh jam.

Memasuki wilayah udara Saudi saya melihat pemandangan yang berbeda. Di bawah sana saya hanya melihat warna coklat, warna khas gurun pasir. Kering dan tandus. Hanya terlihat coklat keemasan di mana-mana, hampir tidak pernah saya melihat hutan yang hijau atau gunung-gunung yang menjulang sebagaimana kalau kita akan mendarat di bandara tanah air. Alam yang kering dan tandus inilah yang mungkin membuat orang Saudi dikesankan berwatak keras, agak kasar, tertutup, dan (katanya) kurang ramah seperti bangsa kita. Alam telah menempa karakter orang Arab menjadi keras seperti itu selama ribuan tahun. Mungkin karena alasan itulah Allah menurunkan nabi-nabi di sana, termasuk Nabi Muhammad SAW, untuk mendidik bangsa Arab yang sangat jahiliyah menjadi bangsa yang beradab dan bertauhid. Sisa-sisa jahiliyah tentu masih ada, tidak hilang seratus persen, buktinya kita sering mendengar kasus-kasus TKW Indonesia disiksa dan dianiaya oleh majikannya di sana. Ah, omongan saya kok ngelantur membahas tipikal orang Saudi.

Jam 11.30 siang waktu Saudi (yang berarti pukul 15.30 WIB waktu Bandung), pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Madinah. Ketika memasuki kota Madinah yang terlihat adalah pemandangan yang gersang. Bandara Madinah bukan bandara yang besar bahkan termasuk sepi. Tidak semua pesawat boleh masuk ke sana. Selain pesawat Saudi Arabia Airlines, saya melihat sebuah pesawat Egypt Air dari Mesir yang membawa rombongan jamaah pulang umrah. Hanya itu pesawat yang saya lihat, selain itu benar-benar sepi.

Rombongan jamaah umrah turun di Bandara Madinah.

Rombongan jamaah umrah turun di Bandara Madinah.

Keluar dari pesawat kami disambut angin dingin. Bulan Desember dan Januari negara-negara Arab memasuki musim dingin. Tidak ada salju di musim dingin, kecuali di negara-negara seperti Palestina, Libanon, Suriah, namun angin begitu dingin. Jamaah sudah diingatkan untuk membawa jaket yang tebal. Kota Madinah siang hari cukup dingin, seperti dinginnya daerah Ciwidey di Bandung Selatan, tentu malam hari lebih dingin lagi.

Pemeriksaan imigrasi di bandara tidak terlalu sukar dan lama. Kesan saya, petugas bandara di Madinah tidak sesangar yang saya kira. Sebagian petugas imigrasi itu bisa sedikit berbahasa Indonesia, maklum saja karena jamaah umrah ratusan ribu dari Indonesia setiap tahun. Koper-koper jamaah sudah ada yang mengurusnya. Biro perjalanan umrah menjalin kerjasama dengan orang lokal Saudi untuk mengurus barang jamaah. Indonesia, Indonesia, kata porter di bandara. Mereka hafal Indonesia, mereka tahu orang Indonesia.

Dari Bandara kami langsung dibawa oleh bis menuju hotel. Sepanjang perjalanan yang tampak adalah suasana sepi. Jarang terlihat orang di luar. Toko-toko dan ruko-ruko nyaris tidak ada orang. Oh, mungkin ini masih di luar kota Madinah. Tetapi di jalan-jalan raya, mobil-mobil sedan mewah berkeliaran di jalan. Orang-orang Saudi tetap setia memakai pakaian tradisionil mereka dari balik kemudi, yaitu baju gamis dan kain penutup kapala semacam kafiyeh. Jalan-jalan layang terdapat di luar kota. Pohon-pohon kurma berjejer di pinggir jalan tetapi sedang tidak berbuah. Selain itu yang saya lihat hanyalah suasana gersang. Memasuki kota Madinah barulah kita melihat keramaian, mobil-mobil yang berseliweran, dan beberapa pohon hasil program penghijauan kota Madinah yang tumbuh subur.

Suasana di pinggiran kota Madinah

Suasana di pinggiran kota Madinah, dipotret dari dalam bis

Suasana pinggiran kota Madinah

Suasana pinggiran kota Madinah

Suasana pinggiran kota Madinah (dari atas bis)

Suasana pinggiran kota Madinah (dari atas bis)

Saya akan menceritakan kisah selanjutnya pada bagian kedua (BERSAMBUNG).

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 2): Di Hotel dan Seputar Masjid Nabawi

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

14 Balasan ke Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Madinah

  1. Jumadi berkata:

    ditunggu cerita selanjutnya ya Pak😀

    • rinaldimunir berkata:

      Sudah ada tulisan kedua, silakan dibaca.

    • willy berkata:

      PESAN DARI SALAH SATU MITRA PAYTREN.
      “Saya pengen banget Makkah Madinah, sejengkal buat kita semua.
      Ga ada yang ga mungkin buat Allah. Ga ada yang mustahil. Apalagi ada usaha, ada ikhtiar, ada doa, dari kita. Makin deket dah Makkah dan Madinah. Bahkan bisa bersama keluarga, bulak balik, dan bisa menjadi wasilah bagi berangkatnya orang lain ke Tanah Impian, Tanah Suci.
      Saya berdoa, agar Treni/PayTren, bisa jadi salah satu wasilah semua untuk punya rizki dan berangkat ke sana. Aamiin.
      Yang semanget jalanin Treni/PayTren, make Paytren, dan promoin/masarin Paytren. Toh bisnisnya Treni/PayTren adalah di kebutuhan sehari-hari kita semua. Pulsa Hp, listrik, air, dan kebutuhan-kebutuhan pembayaran rumah tangga. Ga ada alasan tidak bisa ngejalanin Treni/PayTren. Kecuali dia emang ga tau tentang Paytren.”
      Bergabunglah bersama MITRA PAYTREN yang lainnya
      klik http://www.treniuym.com/lampung

  2. girindra salinswara berkata:

    jangan lupa sama pic2n ya Pak

  3. adhyasahib berkata:

    senang ya umroh dari indonesia semua sudah di urus oleh biro perjalanan, saya coba2 tanya untuk umroh dari sini (di luar negeri) mereka cuma bookingkan tiket pesawat,urus visa dan hotel,sisanya kita urus sendiri seperti makan,perlengkapan umroh dll🙂

  4. pratam berkata:

    saya jadi terharu baca kisah bapak ini, sedangkan saya sangat ingin mengirim ayah saya untuk pergi umroh namun apa daya belum cukup biaya untuk berangkat

  5. Rika Febrischa berkata:

    Saya juga terharu baca kisah bapak ini, apalagi saat baca kisah bapak solat di depan maqam rasulullah, sungguh saya sampai meneteskan air mata membacanya.. saya pun juga sangat ingin mengunjungi maqam baginda rasull..
    InsyaAllah jika Allah mengizinkan Januari 2016 saya dan suami berangkat umrah untuk yang pertama kalinya,, insyaAllah dengan membaca kisah pengalaman bapak bisa jadi referensi saya saat berada disana.. terima kasih sangat bermanfat

  6. Salam kenal.

    Semoga makin banyak umat muslim khususnya Indonesia yang menginjakkan kaki ke tanah suci untuk berziarah dan beribadah disana dan berharap sepulang dari tanah suci kkita bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada allah swt. amiin

  7. Ayat bibi berkata:

    Untuk mendaftar 2017 kapan kira kira berangkatnya pak

  8. lia berkata:

    Saya sedang mencari tulisan pengalaman seseorang yg pernah pergi umroh untuk dijadikan referensi karena insya Allah saya jg akan berangkat pada bulan Mei 2016 dan saya menemukan tulisan ini, sangat bagus, membacanya seolah-olah sedang berada di tempat yg bapak ceritakan. Terima kasih atas tulisannya.

  9. intan berkata:

    dp umroh dan haji 1jt bs dicicil 550rb perbulan selama 40 bln
    081389728885 atas nama ibu murni
    travel SBL PT.media wisata utama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s