Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 2): Di Hotel dan Seputar Masjid Nabawi

Perjalanan dari Bandara Madinah menuju hotel memakan waktu sekitar setengah jam. Kami sampai di hotel pukul 13.30 siang waktu setempat. Dari kejauhan menara Masjid Nabawi sudah kelihatan dari atas bis. Semakin mendekati Masjid Nabawi barulah terasa betapa ramainya kota Madinah. Ribuan orang berjalan kaki hilir mudik, ada yang masih berpakaian ihram, ada yang memakai baju batik dari Indonesia, ada yang memakai gamis, ibu-ibu yang memakai mukena, wanita India memakai sari, dan lain-lain aneka macam jenis pakaian setiap bangsa.

Hotel kami tempat menginap ternyata jaraknya begitu dekat dengan Masjid Nabawi, hanya sekitar 50 m dari gerbang masjid, benar-benar dekat sekali, sepelemparan batu saja. Karena saya mengambil paket Shofah, maka kami mendapat hotel yang bernama Elaf Kinda Hotel.

Hotel Elaf Kinda, persis di depan Masjid Nabawi

Hotel Elaf Kinda, persis di depan Masjid Nabawi

Puluhan hotel berjejer di pinggir jalan. Hotel-hotel itu tidak punya halaman seperti di Indonesia, keluar hotel langsung berhadapan dengan jalan raya. Hampir semua bangunan, termasuk hotel, di kota Madinah berwarna seragam yaitu warna abu-abu muram atau coklat muram seperti warna padang pasir, bentuk dan tingginyapun hampir sama. Jarang sekali kita melihat bangunan berwarna-warni dalam bentuk yang kreatif seperti di Indonesia, mungkin aturan tata kota di Saudi demikian. Pemandangan bangunan dan warna muram seperti ini mengingatkan saya pada bangunan-bangunan hotel kuno pada kota-kota di Eropa seperti di Belanda, Belgia, dll. Hotel-hotel di Madinah umumnya digunakan untuk menampung jamaah umrah dan haji, namun bukan tidak mungkin untuk wisatawan muslim yang sekedar singgah di sana (kota Madinah dan Makkah tertutup bagi non-muslim sehingga keduanya dinamakan Tanah Haram).

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi

Setiba di hotel kami melakukan chek-in dan pembagian kamar. Saya mendapat kamar dengan empat tempat tidur karena saya memilih paket berempat. Empat ranjang berjejer di dalam kamar yang sempit. Hotelnya lumayan bagus, kebanyakan tamunya adalah jamaah dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Hotel ini tidak pernah kosong, baru saja rombongan jamaah lain chek-out, sudah langsung diisi dengan rombongan jamaah yang baru tiba di Madinah. Di sini chek-in hotel umumnya dilakukan pukul 16.00 sore, tetapi ketika kami datang sudah bisa chek-in pukul 14.00 karena kamar sudah tersedia.

Kamar hotel Elaf Kinda dengan empat tempat tidur.

Kamar hotel Elaf Kinda dengan empat tempat tidur.

Di hotel ini jamaah mendapat makan tiga kali sehari dan menunya adalah menu masakan Indonesia, meskipun tidak pas benar rasanya, tetapi lumayanlah. Selalu ada sambal terasi dalam jumlah banyak. Sesekali mereka menyediakan nasi kebuli, gulai kari, dan sebagainya. Jadwal makan di hotel disesuaikan demngan waktu sholat, yaitu sesudah sholat Dhuhur (pukul 13.00 – 15.00), sesudah sholat Isya (pukul 20.00 – 22.00), dan sesudah sholat Subuh (pukul 07.00 – 10.00). Restoran di hotel akan tutup setiap adzan bergema.

Setelah chek-in saya melihat ribuan orang keluar dari gerbang masjid. Oh, rupanya mereka adalah jamaah yang usai melaksanakan sholat Dhuhur di Masjid Nabawi. Usai sholat para jamaah itu kembali ke hotel masing-masing untuk makan siang, lalu istirahat sebentar, dan kembali lagi ke masjid setengah jam sebelum adzan sholat Ashar bergema. Setiap jamaah selalu mengusahakan dirinya sholat wajib di Masjid Nabawi dan sholat sunat sebanyak mungkin, karena sholat di Masjid Nabawi pahalanya seribu kali sholat di Masjid lain.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

(Sumber hadis dari sini).

Jadi, pahala yang berlipat ganda inilah yang dikejar oleh jamaah umrah di Madinah. Mumpung masih berada di Madinah, maka sholatlah di sana sebanyak-banyaknya. Rugi rasanya jika melewatkan sholat lima waktu tidak di Masjid Nabawi.

Saya dan rombongan jamaah belum melaksanakan sholat Dhuhur. Kami dikumpulkan oleh ustad pembimbing dan berjalan bersama-sama menuju Masjid Nabawi. Kenapa perlu dibimbing? Karena bagi jamaah yang belum pernah umrah atau haji tentu tidak tahu liku-liku masjid. Masjid Nabawi itu sangat besar dan sangat luas, pintu-pintunya banyak sekali, jika belum hafal maka kita bisa tersesat. Jadi Pak Ustad akan menunjukkan pertama kali masuk lewat pintu mana, apa ciri-cirinya, dan keluarnya dari pintu yang sama. Selanjutnya kita dapat pergi sendiri jika sudah hafal.

DSCF2013

Pelataran Masjid Nabawi yang sangat luas. Payung-payung raksasa betebaran di pelataran. Di kejauhan adalah hotel-hotel tempat menginap jamaah.

Saya perkirakan luas Masjid Nabawi, termasuk pelatarannya, seluas satu kelurahan. Benar-benar luas sekali. Belum pernah saya melihat masjid sebesar dan seluas ini. Waktu saya ke sana masjid masih sedang dalam proyek perluasan. Hotel-hotel dan bangunan di seputar Masjid Nabawi sudah diruntuhkan. Setahun atau dua tahun lagi hotel tempat saya menginap kabarnya juga akan digusur. Kelak nanti hotel-hotel di seputar Masjid Nabawi akan semakin jauh saja jaraknya dari masjid dan jamaah terpaksa makin jauh berjalan kaki. Raja Arab Saudi (yang ketika tulisan ini ditulis baru saja wafat beberapa hari yang lalu) memang mencanangkan kedua masjid di Tanah Haram (Masjid Nabawi dan Masjidil Haram di Mekah) diperluas seluas-luasnya agar dapat menampung jutaaan jamaah haji yang setiap tahun jumlahnya selalu bertambah.

Masjid Nabawi (bagian depan)

Masjid Nabawi (bagian depan)

Masjid Nabawi dari sisi lainnya

Masjid Nabawi dari sisi lainnya

Pelataran Masjid Nabawi sangat luas. Pelataran ini dilengkapi dengan payung-payung raksasa buatan Jerman yang dapat membuka dan menguncup secara otomatis. Payung-payung itu berguna untuk melindungi jamaah dari panas terik dan hujan (yang jarang terjadi). Payung-payung raksasa itu menempel pada tiang-tiang lampu yang pada malam hari bersinar dengan indahnya (jika payung dalam keadaan menutup/kuncup). Di Indonesia, Masjid Agung Semarang membuat payung yang mirip dengan Masjid Nabawi tetapi hanya dapat dibuka dan ditutup secara amanual.

Payung-payung raksasa di halaman Majid Nabawi

Payung-payung raksasa di halaman Majid Nabawi

Payung-payung raksasa

Payung-payung raksasa

DSC_0561

Payung-payung raksasa

Tiang-tiang lampu di pelataran Masjid Nabawi, sebagian tiang menjadi menjadi payung raksasa.

Tiang-tiang lampu di pelataran Masjid Nabawi, sebagian tiang menjadi menjadi payung raksasa.

Ehm... saya berfoto narsis di pelataran Masjid Nabawi

Ehm… saya berfoto narsis di pelataran Masjid Nabawi

Ustad pembimbing kami memberikan tips agar tidak tersesat di Masjid Nabawi yang maha luas itu. Masuklah dari sebuah gerbang, lalu tandai sebuah bangunan toilet dengan nomor yang tertera di di depannya. Di pelataran Masjid Nabawi terdapat bangunan toilet yang berjejer-jejer, jumlahnya menncapai 80-an dan terpisah antara toilet pria dan wanita. Setiap toilet diberi nomor. Jadi, ketika masuk dari suatu gerbang, di sebelah kiri dan kanan kita ada bangunan toilet. Ingat-ingatlah nomor toilet tersebut. Jika keluar dari pimtu masjid (yang jumlahnya juga puluhan pintu), maka ingatlah nomor toilet tadi sebagai tanda. Jika nanti kesasar, maka berkelilinglah mencari nomor toilet tersebut dan kita pun dapat keluar ke gerbang yang benar menuju jalan ke hotel.

Selesai sholat Dhuhur kami kembali ke hotel untuk makan siang. Keluar dari gerbang masjid kami langsung disambut oleh pedagang kaki lima. Seperti di Indonesia, di mana ada keramaian maka di situ ada pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima yang semuanya adalah orang Arab menawarkan dagangannya di jalan-jalan di sekitar Masjid Nabawi. Jangan heran jika mereka pandai menggunakan beberapa kata Bahasa Indonesia standard seperti “murah…murah, sepuluh tiga, dipilih… dipilih”, dan lain-lain. Maklum saja, jamaah Indonesia, terutama kaum ibu, sangat doyan belanja. Mata mereka seperti tidak tahan melihat barang-barang berkilau yang ditawarkan pedagang kaki lima itu. Umumnya barang dagangan pedagang kaki lima itu adalah kerudung dari India atau Turki, gamis, abaya, gelang dan kalung imitasi, kurma, buah-buahan, kacang arab, minyak wangi, dan lain-lain. Mereka menerima pembayaran dalam mata uang rupiah dan riyal. Jadi, jika harga barang misalnya sepuluh riyal, maka mereka menerima pembayaran Rp35.000 (1 riyal sekitar Rp3500). Pedagang itu juga pandai mengucapkan lima puluh ribu, tiga puluh lima ribu, dan sebagainya, dan mengerti jika kita meminta setengah kilo dalam Bahasa Indonesia.

Pedagang kaki lima di luar Masjid Nabawi

Pedagang kaki lima di luar Masjid Nabawi

DSC_0559

Pedagang kaki lima

Khusus dagangan berupa makanan seperti kurma, kacang, kismis, dan lain-lain, mereka meneriakkan kata “halal..halal..halal”, yang artinya anda boleh mencicipinya gratis meskipun tidak jadi membeli. Halal?, tanya saya sambil mengambil sebiji kurtma. Halal, jawab pedagang itu, artinya dia menghalalkan kurma yang saya cicip. Pandai-pandailah menawar, tetapi jika anda menawar terlalu murah maka pedagang itu berteriak menunjuk kita sambil mengatakan kata “bakhil…bakhil”, yang artinya kikir atau pelit. He…he…, saya pernah kena kata bakhil karena menawar setengah harga.

Jika ingin tahu suasana pedagang di seputar Masjid Nabawi, silakan klik video di Youtube berikut ini:

Oh iya, saya belum menceritakan suasana di dalam Masjid Nabawi, di mana Roudhah, siapa saja yang saya jumpai di dalam, apa saja di dalam masjid, dan sebagainya. Saya akan menceritakan pada tulisan selanjutnya. (BERSAMBUNG)

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

7 Balasan ke Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 2): Di Hotel dan Seputar Masjid Nabawi

  1. Tamara Siregar berkata:

    Assalamualaikum, Pak Rinaldi.
    Saya sangat senang membaca tulisan, yg sekaligus berdasarkan langsung dari pengalaman bapak ini.
    Saya jadi ingin cepat2 Umroh dan merasakan dahsyatnya berada di Baitullah..
    Terimakasih atas posting2an bapak yg sangat bermanfaat menurut saya.
    Dan doakan ya pak agar kelak saya bisa pergi Umroh dgn Ibu saya.^^

  2. Ping balik: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Madinah | Catatanku

  3. wati syarif berkata:

    Assalamualaikum pak. Trimakasih atas informasi yang bapak buat lewat tulisan ini. Sangat bermanfaat. Mohon info kalo u city tour di mekkah lewat travel yg bapak pakai itu mengunjungi museum harmain ya pak.trimakasih sebelumnya

  4. Ellyza Noeriyya berkata:

    wahh..cerita2nya sangat menarik..ikut merasa senang dan terharu jadinya..
    alhamdulillah saya sdh menunaikan ibadah umroh bersama suami bln januari 2016 yg lalu.alhamdulillah jg sya sdh merasakan betapa kuat daya tarik tanah haram utk mengajak umat islam kembali beribadah kesana..semoga kita semua dpt memenuhi panggilan Allah utk dtg kesana berkali-kali sesuai kemampuan masing2..aamiin ya robbal ‘aalamiin..
    tempat2 ziarah dan wisata yg bapak critakan jg sdh saya datangi, tetapi sayang kunjungan ke museum arsitektur tdk ada dlm rute tour travel saya kmrn..mudah2an Allah memberi saya kesempatan lain utk berkunjung kembali ke tanah suci dan singgah ke museum tersebut..
    terima ksh ceritanya pak rinaldi..

  5. yeyen berkata:

    Terharu membaca postingan ini..sy rencana ingin memberangkatkan umroh orangtua..sy sndiri blm pernh umroh..
    tulisan ini sangat membantu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s