Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi

Masjid Nabawi saat ini sangat luas, bangunan masjid saja seluas 82000 meter persegi sedangkan pelatarannya mencapai 235000 meter persegi. Seluruh areal masjid (bangunan dan pelataran) dapat menampung hingga satu juta jamaah. Padahal dulu ketika dibangun pertama kali oleh Nabi Muhammad, ukurannya hanya 30 meter x 30 meter. Ketika jumlah kaum muslim meningkat, Nabi memperluasnya pada tahun abad 7 Hijriyah menjadi 50 meter x 50 meter. Perluasan masjid berlanjut pada masa kehalifahan Umar bin Khatab (17 Hijriyah), Usman bin Affan (29-30 H), Alwalid Alom (88-91 H), Almahdi Allabasi (161 – 165 H), Sultan Ashraf Gayetbai (888 H), Sultan Abdu Almageed dari Kesultanan Ottoman Turki (1265 – 1277 H), Raja Saudi Abdul Aziz (1372 H), Raja Fahd, dan terakhir pada masa Raja Abdullah (yang wafaat minggu lalu). Hingga sekarang proyek perluasan Masjid Nabawi masih terus dilakukan dengan menggusur bangunan hotel-hotel di seputar masjid. Perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram didanai seluruhnya oleh Bakar bin Ladin, dia adalah adik Usamah bin Ladin yang dicap teroris oleh Amerika. Di Arab Saudi keluarga Bin Ladin adalah keluarga kaya raya karena memiliki banyak perusahaan yang begerak dibidang konstruksi, transportasi, properti, dan lain-lain. Semua perusahaan tersebut bernama Bin Ladin Corp dengan logo pohon kurma dan dua buah pedang yang bersilangan.

Peta Masjid Nabawi yang selalu mengalami perluasan dari zaman ke zaman. Kotak kecil berwarna coklat adalah bagian masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Bagian yang berwarna hijau adalah Masjid Nabawi saat ini

Peta Masjid Nabawi yang selalu mengalami perluasan dari zaman ke zaman. Kotak kecil berwarna coklat adalah bagian masjid yang dibangun oleh Rasulullah SAW. Bagian yang berwarna hijau adalah Masjid Nabawi saat ini

Memasuki masjid Nabawi berdecaklah kekaguman saya, sunggguh indah interior di dalamnya, sungguh sejuk udara di dalamnya, karpetnya berupa permadani yang tebal dan indah, lampu-lampu yang bergelantungan di atas sangat artistik. Interior di dalam masjid mengingatkan kita pada interior di dalam masjid Cordoba di Spanyol.

Jamaah menunggu sholat Isya di Masjid Nabawi

Jamaah menunggu sholat Isya di Masjid Nabawi

Jamaah keluar masjid usai sholat Isya

Jamaah keluar masjid usai sholat Isya

DSC_0503

Usai sholat Isya

DSC_0506

Usai sholat Isya

Setiap waktu sholat tiba, masjid sudah dipenuhi jamaah, baik jamaah umrah maupun penduduk Madinah sendiri. Di dalam masjid kita bertemu dengan jamaah umrah dari berbagai bangsa di dunia. Paling banyak adalah jamaah umrah dari Mesir, Turki, Pakistan, India, dan Indonesia sendiri. Banyak juga saya temukan jamaah dari Eropa Timur, Perancis, Jerman, bahkan Jepang. Jamaah Indonesia mudah dibedakan dari jamaah lainnya karena menggunakan peci, batik, atau sarung.

Hari Jumat adalah hari libur di Saudi. Jika hari Jumat tiba, maka masjid Nabawi lebih padat dari biasanya karena bertepatan dengan sholat Jumat. Kita harus datang lebih awal jika ingin dapat shaf di dalam masjid. Meskipun hari Jumat, kaum perempuan pun ramai memadati masjid, namun mereka duduk di pelataran saja, bagian dalam masjid dipakai  jamaah laki-laki untuk sholat Jumat.

DSC_0632

Jamaah menunggu waktu sholat dalam masjid

DSC_0631

Jamaah perempuan di pelataran masjid

Berhubung bulan Januari Arab Saudi memasuki musim dingin, maka banyak jamaah yang terkena penyakit flu seperti pilek dan bersin-bersin. Jamaah yang berada di sebelah saya beberapa kali membersihkan ingusnya. Saya yang berusaha terhindar dari flu akhirnya kena juga karena kondisi tubuh juga sedang tidak fit. Karena itu disarankan Anda mendapat vaksin flu sebelum berangkat umrah.

Satu peristiwa menarik yang saya amati di dalam masjid Nabawi adalah sholat jenazah setiap kali usai sholat fardhu setiap hari. Setiap usai sholat ada saja jenazah yang akan disholatkan, tidak hanya pada siang hari tetapi juga pada malam hari setelah sholat Maghrib, Isya dan Subuh. Dari Pak Ustad saya mendengar penjelasan bahwa di Madinah semua orang yang meninggal selalu disholatkan di Masjid Nabawi. Jadi masjid Nabawi adalah masjid tunggal untuk seluruh sholat jenazah di kota Madinah. Setiap usai sholat fardhu, imam sholat mengumumkan dalam Bahasa Arab akan ada sholat jenazah. Jamaah yang usai sholat langsung berdiri, dan masya Allah…ratusan ribu jamaah berdiri untuk sholat jenazah yang sama sekali tidak dikenalnya. Jenazah yang disholatkan bisa satu, dua, tiga, lima atau lebih. Usai sholat jenazah, jenazah langsung digotong ke pemakaman Baqi yang terletak di depan Masjid Nabawi. Jadi penguburan mayat tidak kenal waktu, bisa pagi usai Subuh, siang usai Dhuhur atau Ashar, atau malam usai Maghrib dan Isya. “Beruntunglah” orang yang wafat di kota Madinah karena ia disholatkan di Masjid Nabawi oleh ratusan ribu orang. Padahal jika mayat disholatkan lebih dari 40 orang saja maka dosa-dosanya akan diampuni, ini yang menyalatkan ratusan ribu orang. Peristiwa sholat jenazah setiap kali usai sholat fardhu juga terdapat di Masjidil Haram di kota Mekah.

Di dalam Masjid Nabawi ada sebuah tempat di bagian depan masjid yang selalu diincar jamaah untuk sholat dan berdoa. Tempat itu dikenal dengan Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak antara mimbar Nabi dan rumah Nabi (yang sekarang menjadi maqam Nabi). Dahulu Nabi Muhammad setelah wafat dimaqamkan di dalam rumahnya sendiri. Perluasan masjid Nabawi menyebabkan maqam Nabi berada di dalam masjid. Di dalam maqam itu tidak hanya dikuburkan Nabi Muhammad, tetapi juga dua orang sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Menurut ustad, di dalam kompleks maqam itu masih ada satu lubang maqam yang masih kosong. Maqam yang kosong itu diyakini disediakan untuk Nabi Isa a.s. Seperti keyakinan di dalam Islam, saat hendak disalib, Nabi Isa (Yesus) diselamatkan oleh Allah SWT dengan mengangkatnya ke atas langit. Jadi Nabi Isa sebenarnya masih hidup di sisi Allah, dan menjelang hari kiamat nanti dia akan turun kembali ke bumi sebagai Imam Mahdi untuk meluruskan ajaranya, sesudah itu dia akan wafat seperti manusia lain umumnya, dan kelak akan dimaqamkan di samping maqam Nabi Muhammad SAW. Wallahu alam bissawab.

Maqa mRasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adalah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menyisakan beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Maqam Rasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adalah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menyisakan beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Raudhah artinya taman. Raudhah berukuran hanya 22 meter x 15 meter(sumber: Raudhah Tempat Mustajab Berdoa Di Masjid Nabawi), sangat sempit sekali dibandingkan dengan ukuran Masjid Nabawi yang maha luas. Area Raudhah dicirikan oleh karpet berwarna hijau yang berbeda dengan karpet lain di sekelilingnya yang berwarna merah. Untuk dapat berdiri di atas karpet hijau ini perjuangannya memang luar biasa.

DSC_0510

Karpet berwarna hijau di dalam area Raudhah

Meskipun sempit, tetapi Raudhah  selalu dipadati oleh jamaah. Raudhah tidak pernah sepi siang dan malam, selalu penuh. Anda jangan berharap Raudhah pernah kosong. Untuk dapat masuk ke dalam area ini kita harus berjuang dengan ribuan jamaah lain. Kalau kita berhasil masuk ke dalam Raudhah, maka kita tidak dapat sholat dengan nyaman seperti di luar Raudhah. Kita harus bersempit-sempit dengan jamaah lain, saling bertoleransi, saling memahami kondisi yang sesak, dan ketika hendak sujud mungkin kapala kita beradu dengan punggung jamaah lain. Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang marah, semua khusyuk dengan shalat dan doa yang dipanjatkan.

DSC_0511

Sholat di area Raudhah

Kenapa Raudhah begitu disesaki jamaah, karena Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk memanjatkan doa. Di Raudhah diyakini sebagai tempat semua doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah Saw, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari). Artinya, di antara mimbar dan rumah Nabi Allah SWT menurunkan rahmat, maghfirah, dan ampunan-Nya. Mintalah kepada Allah semua permintaanmu di sini, sebut saja semua keinginan dan harapanmu, dan yakinlah bahwa Allah SWT akan mengabulkannya.

Raudhah yang disesaki jamaah. Tampak dari kejauhan maqam Nabi yang ditutupi pintu besi berwarna hijau

Raudhah yang disesaki jamaah. Tampak dari kejauhan maqam Nabi yang ditutupi pintu besi berwarna hijau

Raudhah dan mimbar Nabi di kejauhan

Raudhah dan mimbar Nabi di kejauhan

DSC_0498

Mimbar tempat Nabi memberikan ceramah

Mihrab Nabi di dalam Raudhah. Pintu keluar Raudhah dijaga oleh seorang askar

Mihrab Nabi di dalam Raudhah. Pintu keluar Raudhah dijaga oleh seorang askar

Saya pertama kali mencari Raudhah ini ketika hendak sholat Ashar. Saya tanya-tanya kepada jamaah lain yang sudah pernah ke Raudhah di mana tempatnya. Kita bisa memasuki Raudhah dari arah belakang, tetapi ketika selesai sholat Ashar area Raudhah sudah ditutup oleh para askar dan petugas cleaning service dengan pagar pembatas. Saya berhasil masuk dari depan dan dibiarkan oleh askar penjaga. Aneh, kok saya bisa masuk dengan mudahnya, mungkin ini karunia Allah. Seorang jamaah di bagian depan yang melihat saya masuk mempersilakan saya sholat di tempatnya karena ia sudah selesai sholat di Raudhah. Perasaan saya berkecamuk memasuki Raudhah, hati bergetar, dan tiba-tiba saja keharuan menjalar ke seluruh tubuh saya karena inilah tempat yang saya impi-impikan untuk berdoa dan sekarang saya berada di sana. Segera saya sholat sunnah dua rakaat di dalam Raudhah, dan meanjatkan doa kepada Allah SWT. Semua doa yang sudah saya niatkan dari tanah air saya curahkan ke sana, doa buat anak saya yang sulung, doa buat istri dan seluruh anak saya, doa buat kakak saya, termasuk titipan doa dari teman-teman dan pembantu. Tak terasa saya berdoa sambil menangis, meminta kepada Allah. Ya Allah, semoga Engkau kabulkan semua doa dan harapan yang saya panjatkan di Raudhah.

Seperti yang saya jelaskan di atas, untuk memasuki Raudhah memang penuh perjuangan. Jamaah laki-laki dapat memasuki Raudhah pada waktu kapan saja, tetapi untuk jamaah perempuan Raudhah hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu yaitu pagi setelah pukul 8.00 dan sore setelah sholat Ashar. Maka, setelah selesai sholat Subuh dan Ashar, saya melihat pemandangan yang cukup heboh. Usai sholat, para askar yang dibantu oleh petugas cleaning service dengan sigap memasang pagar pembatas untuk menutup Raudhah. Memang, setiap usai sholat Ashar dan Subuh para jamaah yang berada di barisan belakang berlarian untuk memasuki Raudhah. Jika tidak cepat dipasang pagar, maka nanti jamaah perempuan tidak punya kesempatan memasuki Raudhah. Hanya dalam waktu beberapa menit pagar pembatas Raudhah terpasang, jamaah yang tadi berlarian dari arah belakang gagal memasuki Raudhah. Mereka hanya dapat memandang maqam Nabi dari jauh. Sambil berdiri dari balik pagar pembatas, jamaah melantunkan sholawat dan salam kepada baginda Rasul. Salamun ya Rasulullah, demikian ucapan mereka. Ada yang melantunkannya sambil menangis. Umumnya mereka adalah jamaah dari Pakistan, India, dan Iran. Begitu dalam dan cintanya kaum muslimin kepada junjungannya, Nabi Muhammad SAW, anda dapat melihat kecintaan itu di Raudhah.

Di bagian depan maqam Rasulullah, barisan jamaah yang selesai sholat berebut keluar melewati maqam Nabi untuk berziarah. Para askar berdiri menjaga maqam Nabi, karena perilaku jamaah seringkali menjurus bid’ah. Ada yang berusaha mengusap-usap pintu besi, menciumnya, mengusapkan kain ke pintu itu, dan lain-lain. Para askar dan pengurus Masjid Nabawi mencegah para jamaah melakukan hal demikian, mereka berteriak-teriak melarang jamaah: “hajj…hajj, la… la.. haram..haram”, yang artinya wahai haji, jangan, jangan, haram melakukan hal tersebut. Jamaah yang tidak berhasil mendekati maqam Nabi cukup melambaikan tangan saja sambil berucap shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Seperti tadi, banyak jamaah yang menangis melewati maqam Nabi. Ya Rasulullah, begitu besar kecintaan ummatmu kepadamu, kami mengharapkan syafaat darimu pada Hari Akhir nanti.

Selama saya di Madinah, saya sudah empat kali berhasil beri’tiqaf di dalam Raudhah. Kadang-kadang saya duduk persis di sebelah maqam Nabi. Tidak terbayangkan oleh saya bisa berada sedekat itu dengan Rasulullah meskipun hanya duduk di samping jasadnya yang sudah berada di dalam tanah. Saya bayangkan dulu Nabi bolak-balik pergi melewati tempat saya duduk dari rumahnya menuju mimbar di dalam masjid, dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya. Shalawat dan salam ya Rasulullah.

Di dalam Masjid Nabawi (juga di Masjidil Haram di Makkah) terdapat banyak rak yang berisi ribuan Al-Quran yang bentuknya hampir seragam. Al-Quran ini adalah Al-Quran waqaf. Kita dapat mewakafkan Al-Quran di Masjid Nabawi. Al-Quran dapat dibeli di luar masjid Nabawi (banyak dijajakan oleh PKL) seharga 20 riyal, lalu oleh pedagangnya Al-Quran ini diberi cap, dan kita menaruhnya ke dalam rak-rak di Masjid Nabawi. Insya Allah selagi Al-Quran itu masih dibaca orang, pahala akan mengalir kepada kita yang mewakafkannya.

DSC_0526

Lemari dan rak-rak berisi mushaf Al-quran berada di mana-mana di dalam Masjid Nabawi. Silakan beli Al-quran di luar masjid lalu taruh di sini dengan niat waqaf.

Selesai sholat subuh, saya berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar saya sempatkan dulu minum air zam-zam yang tersedia secara gratis di mana-manan di dalam masjid. Baik di Masjid Nabawi maupun di Masjidil Haram terdapat puluhan gentong air zam-zam yang dapat diminum oleh jamaah. Air zam-zam di Masjid Nabawi didatangkan dari Makkah dengan mobil-mobil tangki yang setiap hari membawanya ke Madinah. Jangan khawatir, gelas-gelas plastik yang digunakan untuk minum air zam-zam hanya sekali pakai. Gelas-gelas yang bersih terdapat pada satu tumpukan, dan jika sudah selesai dipakai jamaah memasukkanya ke selongsong di sebelah kiri. Air zam-zam yang disediakan ada dua macam, yang pertama air zam-zam dengan suhu biasa (not cold), yang kedua air zam-zam yang yang dingin seperti dinginnya air kulkas. Anda dapat memmbaca tulisan di gentongnya, apakah NOT COLD atau tanpa tulisan. Jika NOT COLD berarti tidak dingin, jika tidak ada tulisan berarti dingin seperti air es. Anda dapat meminumnya di sana langsung atau membawa pulang dengan mengisi air zam-zam ke dalam botol-botol air mineral yang anda bawa.

Gentong-gentong yang berisi air zam-zam. Tumpukan gelas plastik di kanan adalah gelas bersih, jika sudah selesai memakainya anda dapat menaruhnya pada selongsong di sebelah kirinya.

Gentong-gentong yang berisi air zam-zam. Tumpukan gelas plastik di kanan adalah gelas bersih, jika sudah selesai memakainya anda dapat menaruhnya pada selongsong di sebelah kirinya.

Selesai minum air zam-zam, saya didekati oleh seorang petugas cleaning service. “Assalaamu’alaikum”, katanya. “Dari Indonesia?”, tanyanya. “Benar, saya dari Indonesia”, jawab saya. Setelah berkenalan, dia bernama Isharianto, berasal dari Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dia sudah dua tahun bekerja di Masjid Nabawi. Bekerja di Masjid Nabawi selain sebagai bentuk pengabdian, juga untuk mencari nafkah bagi keluarganya di Tanah Air. Seluruh petugas cleaning service di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram digaji oleh perusahaan Bin Ladin. Petugas cleaning service kebanyakan berasal dari Pakistan, India, Bangladesh, Yaman, dan Indonesia. Jarang ada orang Saudi sendiri. Menurut Pak Is, gajinya di sana tidak terlalu besar, hanya sekitar 500 riyal per bulan (sekitar Rp 1,7 juta), ditambah tunjangan seluruhnya 700 riyal. Kecil ya? Tetapi mereka banyak terbantu dari sedekah yang diberikan oleh jamaah. Jamaah sering memberikan sedekah kepada petugas cleaning service, ada yang memebri 5 riyal, 10 riyal, dan sebagainya.

Pak Isharianto yang bertugas menjaga kebersihan Masjid Nabawi

Pak Isharianto yang bertugas menjaga kebersihan Masjid Nabawi

Saya terharu mendengar kisah Pak Isharianto. Jika anda nanti umrah ke Masid Nabawi, jangan lupa membawa uang pecahan kecil sebagai sedekah kepada petugas cleaning service tersebut. Mereka adalah saudara-saudara sebangsa kita yang mencari nafkah hingga jauh ke Tanah Suci.

Selesai minum air zam-zam saya segera keluar masjid. Waktu yang indah untuk menikmati kesyahduan Masjid Nabawi adalah setelah sholat subuh. Malam masih menyelimuti bumi, bulan menggantung di atas Masjid Nabawi, suhu udara cukup sejuk, dan jamaah berjalan bersama-sama keluar masjid, beriring-iringan. Sungguh indah dan syahdu. (BERSAMBUNG)

Tuisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 4): Wisata Ziarah di Madinah

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

8 Balasan ke Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi

  1. girindra salinswara berkata:

    “Jadi Nabi Isa sebenarnya masih hidup di sisi Allah, dan menjelang hari kiamat nanti dia akan turun kembali ke bumi sebagai Imam Mahdi untuk meluruskan ajaranya, ”
    Dear Pak Rinaldi, mungkin perlu dicari sumbernya, Nabi Isa turun sebagai Imam Mahdi.
    setau saya, Nabi Isa dan Imam Mahdi adalah orang yg berbeda. CMIIW

  2. partnerinvain berkata:

    Moga bisa kesini lagi

  3. Ping balik: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 2): Di Hotel dan Seputar Masjid Nabawi | Catatanku

  4. bhara berkata:

    …Nabi memperluasnya pada abad 7 hijriyah… apa tidak salah tuh pak? tdk mungkin Nabi masih hidup di abad 7 H, mungkin yg betul adalah pada tahun 7 hijriyah

  5. Ping balik: Sholat Dhuhur di Masjid Agung Trans Studio Mall, Bandung | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s