Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 4): Wisata Ziarah di Madinah

Selama tinggal di Madinah kami mengunjungi beberapa situs sejarah Islam. Acara wisata ziarah didesain selalu berakhir sebelum waktu Dhuhur, sebab lebih utama selalu shalat lima waktu di Masjid Nabawi karena pahalanya sama dengan 1000 kali sholat di masjid lain. Jalan-jalan hanyalah pelengkap umrah saja, namun sayang juga jika tidak sempat mengunjungi tempat-tempat bersejarah untuk melakukan napak tilas sejarah Islam, mumpung masih di Madinah. Diperlukan waktu dua hari untuk mengunjungi semua situs bersejarah di Madinah, yang dalam tulisan ini saya rangkai menjadi satu.

Situs pertama yang dikunjungi adalah Maqam Baqi. Ini adalah kompleks pemakaman yang sudah ada sejak zaman Rasulullah. Di sini dimakamkan para sahabat Nabi, juga para jamaah haji yang meninggal dunia, termasuk penduduk kota Madinah sendiri. Maqam Baqi terletak di samping Masjdi Nabawi. Kami hanya dapat melihat pintunya dari pelataran Masjid Nabawi dan tidak dapat masuk ke dalamnya. Saya tidak memiliki fotonya, namun saya memperoleh foto Maqam Baqi dari Internet. Kuburan di sini tidak memiliki nisan, hanya sekedar batu penanda maqam.

Setelah berdoa di depan Maqam Baqi, kami diajak mengunjungi museum Masjid Nabawi yang terletak di bawah tanah (di bawah Masjdi nabawi). Untuk mencapai museum ini terdapat lift yang dapat digunakan turun ke bawah. Ruang bawah tanah di Masjid Nabawi berisi museum, tempat parkir, dan ruang kendali semua peralatan di Masjid Nabawi (termasuk kendali payung raksasa).

Di Museum Masjdi Nabawi kami mendapat penjelasan dari petugas museum (orang Indonesia rupanya) tentang sejarah pembangunan Masjid. Di museum ini kita dapat melihat foto-foto proyek perluasan Masjid Nabawi.

Foto-foto pembangunan Masjid Nabawi

Foto-foto pembangunan Masjid Nabawi

Foto Masjid Nabawi

Foto Masjid Nabawi

Ruang audio visual

Ruang audio visual

Ehmm... narsis dulu di sini, sebentar

Ehmm… narsis dulu di sini, sebentar

Di belakang Masjid Nabawi terdapat masjid bersejarah yang bernama Masjid Al-Ghamamah. Masjid yang bersejarah ini pernah digunakan Rasulullah untuk sholat Ied pada tahun 631 M. Ghamamah artinya awan, karena di tempat inilah Allah memayungi Nabi Muhammad dengan awan ketika sedang sholat di sini sehingga Nabi tidak merasa kepanasan. Kami mengunjungi masjid ini sambil melepaskan penat setelah berjalan kaki mengelilingi Masjdi Nabawi yang luas itu.

Masjid Al-Ghamamah tidak pernah dipakai lagi sebagai tempat sholat berjamaah karena sudah ada Masjid Nabawi di depannya.

Masjid Al-Ghamamah tidak pernah dipakai lagi sebagai tempat sholat berjamaah karena sudah ada Masjid Nabawi di depannya.

Setelah mengunjungi museum Masjid Al-Ghamamah, maka kunjungan selanjutnya adalah Masjid Quba. Ini adalah masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah. Masjid Quba terletak ke arah luar kota Madinah. Pengunjung jamaah umrah sangat padat hari itu. Kita disarankan sudah berwudhu sebelum ke sini, lalu sholat dua rakaat di Masjid Quba.

Masjid Quba tampak dari luar

Masjid Quba tampak dari luar

DSCF2031

Menara Masjid Quba

Masjdi Quba dengan air mancur di luarnya. Air begitu berharga di negeri padang tandus seperti Saudi Arabia

Masjdi Quba dengan air mancur di luarnya. Air begitu berharga di negeri padang tandus seperti Saudi Arabia

Di dalam Masjid Quba

Di dalam Masjid Quba

Mihrab Masjid Quba

Mihrab Masjid Quba

Sholat sunat di Masjid Quba

Sholat sunat di Masjid Quba

DSCF2035

Jamaah umrah berfoto di depan Masjid Quba

Selesai mengunjungi Masjid Quba, maka kunjungan berikutnya adalah Bukit Uhud di luar kota Madinag, tempat berlangsungnya Perang Uhud, yaitu perang antara kaum muslimin dengan tentara kafir Quraisy. Bukit Uhud berwarna merah, kering kerontang, berpanas, sama sekali tidak ada pepohonan yang tumbuh di sana.

Bukit Uhud yang berwarna merah

Bukit Uhud yang berwarna merah

DSCF2039

Jamaah umrah berdoa ketika sampai di Uhud

Berdiri di sini saya membayangkan Perang Uhud yang dipimpin oleh Rasulullah. Di sini Rasulullah membuat strategi perang dengan mengatur para pemanah. Namun karena beberapa sahabat tidak mematuhi perintah Rasulullah disebabkan tergoda harta pampasan perang, maka kaum muslimin kalah dalam perang tersebut.

Narsis did epan Bukit Uhud

Narsis did epan Bukit Uhud

Di Uhud saya menemukan pedagang yang menjual kurma muda yang dibekukan di dalam freezer. Katanya bagus dimakan oleh wanita yang susah hamil.

Di Uhud saya menemukan pedagang yang menjual kurma muda yang dibekukan di dalam freezer. Katanya bagus dimakan oleh wanita yang susah hamil.

Selama acara tur kami sempat mengunjungi perkebunan kurma milik seorang kaya di Madinah. Sayang sekali saat itu kurma sedang tidak berbuah sehingga saya tidak dapat melihat dengan mata sendiri tandan-tandan kurma. Kalau sedang berbuah maka kita boleh memetik sendiri dan makan di sana. Di kebun kurma ini terdapat toko kurma yang pegawainya orang Indonesia. Berbagai jenis kurma ada di sini, termasuk kurma yang selalu dicari orang yaitu kurma ajwa, karena kurma inilah yang dimakan oleh Rasulullah. Kurma ajwa adalah kurma yang paling mahal, karena sekilo hargnaya 80 riyal (yang berkualitas bagus) atau 70 riyal (yang berkualitas sedang). Madinah adalah tempat terbaik untuk membeli kurma karena kurmanya bagus-bagus dan segar.

Kebun kurma di kota Madinah

Kebun kurma di kota Madinah

Di dalam perjalana pulang ke Madinah, kami melewati Masjid Qiblatain. Ini adalah masjid yang pernah mempunyai dua kiblat. Mula-mula kiblatnya ke Masjidil Aqsa di Palestina, lalu ketika sedang memimpin sholat turun wahyu yang meemrintahkan arah kiblat diubah ke ka’bah di Masjidil Haram.

Masjid Qiblatain

Masjid Qiblatain

Sayang karena waktu sholat Dhuhur hampir tiba dan kami segera mengejar sholat Dhuhur di Masjdi Nabawi, maka Masjid Qiblatain tidapt bisa kami masuki untuk melihat perubahan kiblat tersebut.

Beberapa situs penting tidak dapat kami kunjungi seperti tempat percetakan Al-Quran karena waktu Dhuhur segera tiba dan kami harsu mengejar sholat Dhuhur di Masjid Nabawi. (BERSAMBUNG)

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 5): Ibadah Umrah ke Kota Makkah

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

4 Balasan ke Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 4): Wisata Ziarah di Madinah

  1. Ping balik: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi | Catatanku

  2. bhara berkata:

    “…masjid yang bersejarah ini pernah digunakan Rasulullah untuk sholat Ied pada tahun 631 H…” 631 H atau 631 M..??

  3. ami berkata:

    Terima kasih kang atas tulisannya…..alhamdulillah dapat pencerahan sebelum pergi umrah…yg insya allah akan dilaksanakan tgl 27desember 2015…semoga perjalanan saya lancar dan semoga keluarga akang senantiasa dilimpahi nikmat sehat dan rezeki yg berlimpah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s