Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 6): Masjidil Haram pada Waktu Siang

Pada siang hari kita dapat menyaksikan Masjidil Haram lebih jelas dan lebih terang, termasuk pemandangan di sekelilingnya. Titik sentral Masjidil Haram tentulah bangunan ka’bah yang berbentuk kubus dan berselimut kain hitam bernama kiswah. Inilah pusat kiblat shalat ummat Islam di seluruh dunia. Jika di Indonesia kita sholat dengan menghadap ke arah barat dan serong sedikit ke kanan, maka di Masjidil Haram kita dapat menghadap ke arah mana saja asalkan menghadap ke ka’bah.

Ka'bah, titik sentral Masjidil Haram dan pusat kiblat ummat Islam sedunia. Jamaah bergerak serentak melaksanakan thawaf, baik di lantai dasar di depan ka'bah maupun di temporary ring di lantai satu dan lantai dua.

Ka’bah, titik sentral Masjidil Haram dan pusat kiblat ummat Islam sedunia. jamaah bergerak serentak melaksanakan thawaf, baik di lantai dasar di depan ka’bah maupun di temporary ring di lantai satu dan lantai dua.

Ka’bah tidak pernah sepi dari jamaah yang sholat dan jamaah yang thawaf. Ketika kita sedang sholat di dekat ka’bah mungkin di depan kita lalu lalang jamaah yang berjalan melakukan thawaf. Jamaah yang melakukan thawaf tidak hanya di lantai dasar, tetapi juga di temporary ring dua lantai yang mengitari ka’bah. Semua bergerak dalam arah yang sama menghasilkan ritme yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Crane-crane proyek perluasan masjid tampak menyembul dari luar masjid seakan-akan mengamati para jamaah yang melaksanakan thawaf.

Di Masjidil Haram kita disunnahkan sering melaksanakan thawaf, tidak hanya pada prosesi umrah saja. Selama di Makkah, saya alhamdulillah telah lima kali melakukan thawaf, baik sebelum sholat wajib atau sesudahnya. Melakukan thawaf tujuh putaran memakan waktu 30 menit hingga 40 menit, bergantung padat atau tidaknya jamaah di depan ka’bah. Menjelang dimulainya sholat fardhu, para askar dan petugas Masjidil Haram menghimbau jamaah menghentikan thawafnya karena sholat fardhu atau sholat wajib akan dimulai. Setelah selesai sholat, kita dapat melanjutkan putaran thawaf sisanya.

Ka'bah dengan latar belakang Menara Zam-zam

Ka’bah dengan latar belakang Menara Zam-zam

Ada satu titik di ka’bah yang menjadi rebutan jamaah untuk menjamah dan menciumnya. Itulah hajar aswad atau batu hitam. Batu yang diyakini berasal dari syurga itu selalu diimpikan para jamaah untuk sekedar memegang atau menciumnya. Pada mulanya batu tersebut berwarna putih, namun karena dosa-dosa mansuialah maka ia berubah menjadi hitam.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ »

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَكَانَ أَشَدَّ بَيَاضاً مِنَ الثَّلْجِ حَتَّى سَوَّدَتْهُ خَطَايَا أَهْلِ الشِّرْكِ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah yang membuatnya menjadi hitam.” (HR. Ahmad 1: 307.

(Sumber hadis dari sini)

Kenapa kita ummat Islam disunnahkan mencium batu tersebut padahal ia tidak mendatangkan manfaat maupun mudhorat apa-apa? Jawabannya adalah karena Rasululah pernah menciumnya, maka ummatpun mencontoh Rasulnya dengan ikut menciumnya pula.

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270).

Hajar aswad letaknya di sudut ka’bah. Untuk bisa mencapai batu itu perjuangannya sungguh luar biasa. Semua jamaah berebut untuk sekedar memegang atau menciumnya. Ada yang berhasil dan ada pula yang gagal, namun sebagian besar gagal mencapainya. Banyak yang sudah hampir mencapai batu tersebut, namun kemudian tubuhnya terlempar lagi keluar karena dorongan yang kuat dari jamaah asal Turki dan Mesir yang badan-badannya besar-besar. Saya sudah beberapa kali mencoba mendekati hajar aswad, namun selalu gagal karena tidak kuat menahan dorongan jamaah yang berdesak-desakan. Daripada badan saya hancur terjepit atau patah, biarlah saya mengalah dan tidak jadi mencapainya. Saya hanya bisa melambaikan tangan dan mengecup dari jauh kepada hajar aswad sebagai simbol saya memegang dan menciumnya. Sedih.

Satu pemandangan yang mungkin tidak pernah terbayangkan terjadi beberapa tahun lampau adalah fenomena jamaah berfoto-foto di depan ka’bah. Dulu, setahu saya, membawa kamera ke dalam Masjidil Haram adalah tindakan terlarang, apalagi memotret ka’bah atau berfoto di depannya. Para askar yang bertugas di Masjidil Haram akan merampas kamera kita dan tidak akan pernah mengembalikannya lagi. Namun saat ini, sejak kamera menyatu dengan ponsel, maka larangan itu sekarang sudah longgar. Para jamaah tampak memotret selfie atau saling memotret dengan kamera ponselnya. Saya pun meminta bantuan seorang jamaah Indonesia untuk memotret saya dengan latar belakang ka’bah sebagai kenang-kenangan.

Saya dengan latar belakang ka'bah

Saya dengan latar belakang ka’bah

Tidak henti-hentinya jamaah mengalir memasuki masjid. Semakin siang semakin ramai jamaah berdatangan menuju ke depan ka’bah. Saya begitu terharu menyaksikan antusiasme umat Islam dari berbagai bangsa untuk sholat dan thawaf di depan ka’bah.

Jamaah yang terus mengalir memasuki pelataran ka'bah

Jamaah yang terus mengalir memasuki pelataran ka’bah

Di sekeliling Masjidil Haram terdapat pelataran yang luas dan masih terus dibangun dengan latar belakang hotel-hotel yang menjulang. Raja Arab Saudi sebagai pelayan dua kota suci terus memperluas Masjidil Haram untuk menampung jamaah haji dan umrah yang selalu bertambah setiap tahun. Jamaah yang tidak dapat masuk mendekati ka’bah bisanya sudah cukup puas bisa sholat di pelataran ini. Kebanyakan jamaah perempuan yang memilih sholat di pelataran di luar Masjidil Haram.

Pelataran Masjidil Haram dengan latar belakang hotel-hotel.

Pelataran Masjidil Haram dengan latar belakang hotel-hotel.

Pelataran Masjidil Haram

Pelataran Masjidil Haram

Pelataran di luar Masjidil Haram

Pelataran di luar Masjidil Haram

Pelataran  Masjdil Haram dan hotel-hotel di sekelilingnya. Menara-menara crane tegak berdiri menandakan proyek perluasan Masjdiil Haram secara besar-besaran

Pelataran Masjdil Haram dan hotel-hotel di sekelilingnya. Menara-menara crane tegak berdiri menandakan proyek perluasan Masjdiil Haram secara besar-besaran

Pertokoan di sekitar Masjidil Haram

Pertokoan di sekitar Masjidil Haram

Menara Zam-zam diwaktu pagi usai sholat Shubuh

Menara Zam-zam diwaktu pagi usai sholat Shubuh

Hotel Elaf El Mashaer tempat kami menginap, 300 meter dari Masjidil Haram

Hotel Elaf El Mashaer tempat kami menginap, 300 meter dari Masjidil Haram

Setiap waktu sholat tiba, jamaah berduyun-duyun memasuki kompleks Masjidil Haram. Jika kita datang setengah jam sebelum adzan, maka jangan harap kita dapat memasuki Masjidil Haram. Pelataran masjid saja sudah penuh dengan manusia. Maka, jika di pelataran masjid saja tidak ada tempat, jamaah sudah puas sholat di atas trotoar di pinggir jalan atau trotoar di depan pertokoan. Setiap adzan berkumandang, pemilik toko di Mekkah menutup tokonya, jadi tidak ada lagi lalu lalang pembeli, dan jamah dapat dengan tennang sholat di selasar atau di atas trotoar di depan toko.

Sholat di atas trotoar di depan pertokoan.

Sholat di atas trotoar di depan pertokoan.

(BERSAMBUNG)

Tulisan selanjutnya: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 7 – Habis): Wisata Ziarah di Kota Makkah dan Selamat Tinggal Tanah Suci

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

4 Balasan ke Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 6): Masjidil Haram pada Waktu Siang

  1. Eva berkata:

    is good artikel Thank you so much , Aerith

  2. Lowongan Kerja berkata:

    Subhanallah, indah……….. semoga segera diberikan kesempatan untuk bisa bertamu ke rumah allah

  3. Ping balik: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 5): Ibadah Umrah ke Kota Makkah | Catatanku

  4. keu berkata:

    Subhanallah….jadi kangen mekah dan madinah baca tulisannya…saya kebetulan ikut umroh 22 Januari 2014 dgn Qiblat Tour juga…waktu itu nginepnya di hotel Dar al Hijra Intercontinental di madinah dan hotel Elaf Kinda di mekah…jaraknya deket bgt ke mesjid….baca tulisan ini jd terbayang lagi…kangen pengen ksana lg…smoga segera di undang lg ke haram Ya Allah…Amin…buat penulis makasih ya tulisannya jd ky baca diary sndiri..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s