Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 7 – Habis): Wisata Ziarah di Kota Makkah dan Selamat Tinggal Tanah Suci

Rasanya empat hari di kota Makkah masih kurang, masih belum puas beribadah di Masjidil Haram. Ingin sekali selalu berada di sana, beri’tikaf, sholat, thawaf, sa’i, dan lain-lain. Namun karena ini program paket umrah, maka selalu ada acara wisata ziarah menuju tempat-tempat bersejarah.

Selama satu hari kami mengunjungi banyak tempat di kota Makkah dan sekitarnya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Jabal Tsur, sekitar 6 km dari kota Makkah. Jabal Tsur adalah sebuah bukit yang di atasnya terdapat sebuah gua. Di sinilah Rasulullah bersembunyi di dalam sebuah gua bersama sahabatnya, Abu Bakar, dari kejaran pemuda-pemuda Quraisy. Ketika para pemuda Quraisy sampai di bukit itu, Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya. Mulut gua ditutupi sarang laba-laba dan di dekatnya ada sarang burung merpati. Para pemuda Quraisy menyangka bahwa tidak mungkin Rasulullah berada di dalam gua itu, sebab jika orang masuk ke dalamnya pasti rusaklah sarang laba-laba tersebut. Maka, selamatlah Rasululullah dan sahabatnya dari kejaran kaum Quraisy.

Jabal Tsur

Jabal Tsur

Di Jabal Tsur kami hanya singgah sebentar untuk berfoto dari bawah bukit. Selanjutnya perjalanan wisata ziarah menuju tempat wukuf di Arafah. Padang Arafah saat ini tidak gersang lagi, sudah banyak pepohonan yang ditanam di sana. Pohon-pohon itu tidak pernah bisa tinggi, mungkin memang jenisnya demikian. Di Padang Arafah ada pohon yang dinamakan Pohon Soekarno, karena dulu Presiden Soekarno pernah menaman beberapa pohon di sana.

Di dekat Padang Arafah ada bukit yang sangat terkenal, yaitu Jabal Rahmah. Inilah bukit yang dipercaya sebagai tempat bertemunya Adam dan Hawa yang terpisah selama ratusan tahun setelah terusir dari Surga akibat memakan buah larangan. Jabal Rahmah terletak di dekat Padang Arafah. Di atas bukit ini terdapat sebuah tugu untuk mengenang pertemuan Adam dan Hawa.

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah

Tugu di atas Jabal Rahmah

Tugu di atas Jabal Rahmah

Mendaki Jabal Rahmah tidak sulit-sulit amat. Para aki-aki dan nini-nini yang sudah sepuh pun masih kuat untuk mendakinya. Maklum saja ini bukit batu dan banyak tempat untuk berpijak ketika mendaki. Kalau mau lebih aman, jamaah bisa naik tangga yang sudah dibuat oleh Pemerintah Arab Saudi. Tangga menuju Jabal Rahmah terletak di sisi timur. Semangat jamaah umrah untuk mendaki bukit ini luar biasa, tak henti-hentinya jamaah mengalir mendaki bukit batu ini.

Antusiasme jamaah mendaki Jabal Rahmah

Antusiasme jamaah mendaki Jabal Rahmah

DSCF2050

Rombongan jamaah umrah berfoto bersama dengan latar belakang Jabal Rahmah

Dari Arafah kita menuju Mina. Inilah tempat di mana para jamaah haji bermalam sebelum melontar jumrah. Di Mina sudah terpasang ribuan tenda tempat jamaah haji menginap. Meskipun bukan bulan haji, tenda-tenda itu tidak pernah dibongkar, dan kita dapat menyaksikannya sepanjang perjalanan.

Tenda-tenda di Mina

Tenda-tenda di Mina

Lebih dekat dengan tenda di Mina

Lebih dekat dengan tenda di Mina

Selesai melewati Mina, jamaah umrah kembali ke kota Makkah. Sebelum memasuki pusat kota Makkah, kami singgah terlebih dahulu di sebuah museum eksibisi arsitektur dua masjid suci, yaitu Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Di museum ini kiat dapat melihat sejarah elemen-elemen arsitektur kedua masjid suci tersebut.

Museum eksibisi arsitektur dua masjid suci

Museum eksibisi arsitektur dua masjid suci

DSC_0770

Bukit batu yang gersang di depan museum

Di museum ini kita dapat melihat:
1. Maket Masjidil Haram

Maket Masjidil Haram

Maket Masjidil Haram

2. Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Nabi Ibrahim yang terletak di depan ka’bah)

Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Ibrahim)

Cetakan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim (Maqam Ibrahim)

3. Cungkup Hajar Aswad

Cungkup Hajar Aswad

Cungkup Hajar Aswad

4. Sumur Air Zam-zam

Sumur Air Zam-zam

Sumur Air Zam-zam

5. Kunci pintu ka’bah

Kunci pintu ka'bah

Kunci pintu ka’bah

6. Tangga kayu ka’bah yang dibuat tahun 1420 H

Tangga ka'bah yang terbuat dari kayu jati

Tangga ka’bah yang terbuat dari kayu jati

7. Pintu Masjid Nabawi

Pintu  Masjid Nabawi

Pintu Masjid Nabawi

8.Pintu ka’bah

DSC_0734

Pintu ka’bah tahun 1045 H yang dibuat pada masa Sultan Murad Khan

9. Dan lain-lain, masih banyak lagi yang bisa dilihat, sayang sekali waktunya hanya sebentar, kami sudah dipanggil untuk naik ke bis, sebab waktu sholat Dhuhur di Masjidil Haram hampir tiba. Kami para jamaah akan segera menuju Masjidil Haram untuk sholat Dhuhur. Sebelum pergi, saya sempatkan dulu berfoto dulu di dalam museum ini. Setiap pengunjung mendapat oleh-oleh sebuah Al-Quran gratis dari pengelola museum.

He..he, disempatkan dulu berfoto narsis di dalam museum.

He..he, disempatkan dulu berfoto narsis di dalam museum.

Sehari sebelum pulang ke tanah air, para jamaah jalan-jalan ke kota Jeddah untuk membeli oleh-oleh yang masih kurang. Perjalanan dari Makkah ke Jeddah hanya sekitar dua jam. Kota Jeddah adalah kota pelabuhan karena letaknya di pinggir laut. Di sini juga terdapat bandara internasional untuk kedatangan jamaah haji. Sepanjang perjalanan dari Makkah ke Jeddah kita disuguhi pemandangan yang kering dan tandus. Sekali-sekali kita melihat tenda suku badui dan untanya.

Pemandangan kering dan tandus sepanjang jalan dari Makkah ke Jeddah

Pemandangan kering dan tandus sepanjang jalan dari Makkah ke Jeddah

Di Jeddah para jamaah berbelanja di pusat perbelanjaan ‘yang katanya’ murah. Toko-toko di sini ‘ramah’ dengan orang Indonesia. Maksudnya ramah adalah pegawai tokonya bisa berbahasa Indonesia. Uang rupiah berlaku di sini selain riyal tentunya. Berada di sini serasa tidak berada di Arab Saudi, karena kita mudah menemukan kedai bakso, kedai soto, kedai siomay, orang Indonesia, dan tentu saja tulisan-tulisan berbahasa Indonesia.

Pusat perdagangan murah di Jeddah

Pusat perdagangan murah di Jeddah

Toko Ali Murah, serasa berada di Pasar Baru Bandung

Toko Ali Murah, serasa berada di Pasar Baru Bandung

Jamaah umrah atau haji yang berada di Jeddah pasti tidak lupa untuk mengunjungi masjid terapung. Dalam perjalanan menuju bandara Jeddah, kami menyempatkan diri untuk sholat Subuh di masjid terapung. Masjid yang terletak di pinggir Laut Merah ini sebenarnya tidak terapung, hanya sebagian badan masjid terletak di atas laut. Sayangnya masjid ini kurang terawat, toiletnya tampak kurang dibersihkan, bau pesing di mana-mana.

Masjid terapung di pinggir Laut Merah

Masjid terapung di pinggir Laut Merah

Masjid terapung

Masjid terapung

Di dalam masjid terapung

Di dalam masjid terapung

Akhirnya, perjalanan umrah ke Tanah Suci harus berakhir. Sedih rasanya ketika melaksanakan thawaf wada’ atau thawaf perpisahan semalam sebelum kami berangkat ke Jeddah. Saya akan berpisah dengan Masjidil Haram. Ketika berdoa pada akhir thawaf wada’, maka mintalah agar kelak suatu saat kita diberi kesempatan untuk mengunjungi Baitullah dan Masjid Nabawi kembali.

Sesampai di terminal haji Bandara Jeddah, saya merenung. Semoga saya bisa kembALI ke Tanah Suci kelak beberapa tahun lagi untuk menunaikan ibadah haji. Saya mendapat kuota haji pada tahun 2018 yang berarti tiga tahun lagi. Rasanya sudah tidak sabar ingin kembali ke Tanah Suci. Rasanya perjalanan umrah begitu sebentar. Bahkan, baru beberapa hari saya berada di tanah air, saya merasa kangen dan rindu untuk kembali ke sana.

Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz,  Jeddah

Terminal Haji Bandara King Abdul Aziz, Jeddah

Pesawat Saudi Arabian sudah menunggu di landasan. Satu persatu para jamaah umrah memasuki badan pesawat. Tidak ada isak tangis atau air mata, yang ada adalah perasaan bahagia karena sudah berkunjung ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah.

Pesawat Saudi Arabian yang membawa jamaah pulang ke Tanah Air

Pesawat Saudi Arabian yang membawa jamaah pulang ke Tanah Air

Selamat tinggal kota suci Makkahh dan Madinah, semoga kami dapat mengunjungimu kembali suatu hari nanti. (TAMAT)

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

18 Balasan ke Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 7 – Habis): Wisata Ziarah di Kota Makkah dan Selamat Tinggal Tanah Suci

  1. Ping balik: Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 6): Masjidil Haram pada Waktu Siang | Catatanku

  2. adhyasahib berkata:

    wah tulisan di depan tokonyapun berbahasa indonesia, saking banyaknya jemaah yang berasal dari indonesia kali ya pak, uang rupiah aja di terima

  3. ulin indonesia berkata:

    subhanallah,,,meskipun belum kesana seengganya liat pemandangannya dari foto jg gpp lah…
    tinggal ikhtiar dan berdoa…mudah”an ada rejeki kesana…

  4. Pak likur berkata:

    Patut jadi referensi utk yg akan umroh !

  5. Pak likur berkata:

    Subhanallah lengkap ceritanya! bagus utk referensi

  6. Roni berkata:

    Trima kasih banyak atas ulasannya satu persatu,,sebab saya pun akan menunaikan ibadah umrah pada bulan Desember 2015 nanti semoga searing yg anda bagikan bermanfaat untuk Ɣǟ♌ƍ lain sekali lagi terima kasih semoga kita termasuk hamba- hamba Ɣǟ♌ƍ ϑi beri kemudahan dan kemulian ϑi dunia dan akhirat,,Amin

  7. Muhammad Irfan berkata:

    Assalamualaikum

    ini cerita yang sangat luar biasa, mudah dimengerti dan tidak membosankan. pengalaman umroh yang sangat luar biasa. saya irfan makassar, membaca tulisan Bapak mengingatkan perjalanan umroh saya setahun yang lalu. berbagai tempat tempat dan kegiatan yang dituliskan Bapak alhamdulillah telah saya datangi dan telah saya lakasanakan termasuk rukun umrohnya. namun ada juga beberapa tempat yang sy belum sempat datangi salah satunya adalah museum di bawah masjid nabawi dan itu sangat membantu untuk menambah pengetahuan umrohnya. semoga saya diberikan kembali kesempatan untuk berangkat umroh lagi serta menunaikan ibadah haji. amin

  8. usagi berkata:

    Terimakasih telah berbagi pak
    Menambah ilmu sebagai bekal menuju umroh

  9. dessy pratiwi berkata:

    Alhamdulillah setelah membaca ini bnyk mendapat pelajaran. Saya merasa sangat dekat dengan kota madinah dan mekah..
    Terima kasih pak.. Semoga kita yang sdh membaca nya dapat juga merasakan kebahagiaan yang bapak rasakan selama disana. Amin

  10. atikdanarti berkata:

    alhamdulillah……membaca cerita ini…serasa sdh berada dimakkah dan madinah….semoga niat saya segera Allah kabulkan dan mudahkan untukke tanah suci tahun ini. amiin Ya Allah

  11. Syaiful berkata:

    Dear Pak Rinaldi,

    Alhamdulillah selesai juga baca postingan tentang pengalaman bapak umrah bersama qiblat tour.
    Sangat banyak info yang saya dapatkan dr postingan ini.

    Saya juga berencana akan berangkat umrah bulan april 2016 ini insyaAllah. Dan rencananya saya mau berangkat dengan menggunakan qiblat tour. Jika boleh, mungkin bapak bisa share review terkait Qiblat Tour kepada saya. Mangga bisa lewat comment ini atau kiranya tidak merepotkan bisa minta tlg dikirimkan ke alamat email saya pak (mangantjo@hotmail.com).

    Ow iya pak, nama saya Syaiful. Saya juga alumni ITB jurusan Teknik Geologi angkatan 2008. Salam kenal dan salam hormat saya buat bapak.

    Mohon maaf jika sudah mengganngu waktunya dan terima kasih pak.
    Wassalam.

    _Syaiful

    • rinaldimunir berkata:

      Selama umrah dengan Qiblat Tour, saya merasa pelayanannya cukup baik. Hotel yang kami tempati hanya berjarak beberapa puluh meter dari masjid Nabawi dan Makkah. Makanan juga lumayan cocok, dan sesuai dengan lidah orang Indonesia.
      Yang kurang adalah ketersediaan pembimbing untuk kaum perempuan, selama di saya saya tidak melihat muthawwif perempuan untuk mendampingi jamaah wanita.
      Selama tur di Madinah dan Makkah, tidak semua tempat bisa dikunjungi sesuai itenary seperti yang tertulis di dalam buku saku, misalnya tidak sempat mengunjungi percetakan Al-Quran di Madinah. Saya maklum mungkin agenda padat sekali dan tidak keburu waktu. Mereka selalu mengutamakan mengejar waktu sholat wajib di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, jadi semua kegiatan jalan2 selalu diusahakan selesai sebelum waktu Dhuhur tiba.

  12. 4empatsekawan berkata:

    Bahasanya bagus bgt. Jd gk bosen dibacanya.

  13. 4empatsekawan berkata:

    Mas denger2 disanakan kan sakral bgt ya. Baru terucap dalam hati aja kadang2 langsung dibuktikan sama Allah.Share jg dong mas pengalaman uniknya slama disnaa

    • rinaldimunir berkata:

      Saya tIdak mengalami pengalaman unik yang bersifat “mistik”. Yang ada pengalaman begitu dekat dengan Rasulullah (saya duduk di sebelah makamnya di dalam Masjid Nabawi).

  14. Diana berkata:

    SubhanAllah… Semoga saya bisa menjadi tamu Allah SWT di tanah suci. Seru sekali bacanya, lengkap dan bikin tambah ingin cepat-cepat kesana.

  15. dina mandasari limbong berkata:

    Alhamdulillah,smg tulisan pengalaman rohani yg sgt complet diatas bs memberi pelajaran bg yg ingin pergi berhaji n berumroh,,barokallah

  16. surel berkata:

    tulisan nya bagus sekali dan membuat hati sangat ingin datang ke tanah suci

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s