Pelajaran Berharga dari Penjual Nasi Kuning

Nasi kuning merupakan sarapan pagi orang Bandung. Nasi kuning adalah semacam nasi uduk tetapi berwarna kuning karena memakai kunyit (bahasa Sunda: koneng). Rasanya gurih karena dimasak dengan santan dan aneka daun rempah-rempah. Hampir setiap pekan saya membeli nasi kuning, karena anak saya suka sekali memakannya. Salah satu penjual nasi kuning langganan saya adalah seorang ibu yang membuka warung di pinggir jalan di kawasan perumahan. Sejak dulu harga sebungkus nasi kuningnya cuma Rp5000. Murah sekali, bukan? Seporsi nasi kuning terdiri atas nasi kuning, irisan telur dadar, oseng-oseng tempe, sambal oncom, dan kerupuk. Harga Rp5000 itu bertahan selama bertahun-tahun. Barulah setahun lalu terpaksa dinaikkan menjadi 6000. Saya katakan “terpaksa” karena si ibu penjual nasi kuning melakukannya dengan berat hati. Banyak pelanggan setianya protes karena harganya dinaikkan seribu. Pelanggan setia penjual nasi kuning adalah mamang-mamang penarik beca, tukang ojeg, pedagang sayur keliling, yang penghasilannya memang pas-pasan.

Sejak kenaikan harga BBM awal tahun yang lalu, harga barang-barang kebutuhan lainpun ikut naik sebagai efek domino dari kenaikan BBM, termasuk harga bahan baku pembuatan nasi kuning, terutama sekali beras. Kenaikan harga BBM telah menyengsarakan rakyat kecil. Sekarang, meskipun harga BBM sudah diturunkan, namun harga barang kebutuhan tidak mau turun. Saya menyarankan kepada si ibu penjual nasi kuning untuk menaikkan harga dagangannya menjadi Rp7000. Saya kira para pembeli pasti bisa memakluminya. Di pedagang lain harga seporsi nasi kuning rata-rata sudah Rp7000, bahkan ada yang seporsi delapan ribu hingga sepuluh ribu. Masa si ibu nggak ikut menaikkannya? Apa dia tidak rugi nanti?

Apa jawab si ibu? “Ah enggaklah den, kasihan yang beli, nanti pada lari. Biar harganya 6000 tetapi yang penting tetap ada yang beli. Biar (untung) sedikit tetapi langgeng”.

Sederhana sekali pikiran si ibu. Ia lebih memperhatikan kelestarian pelanggan ketimbang mencari untung lebih besar. Apa gunanya menaikkan harga tetapi pelanggan menjauh dan akhirnya usahanya tutup. Maka, yang dilakukannya adalah mengurangi sedikit porsi nasi kuning namun harga tetap. Prinsip ini banyak dianut pedagang kecil, mereka lebih mempertahankan pelanggan ketimbang tergoda untung yang lebih besar.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dalam konteks ibadah, maka begitu jugalah sebaiknya seorang hamba dalam beramal sholeh, biar amalan kecil tetapi terus menerus (langgeng) alias istiqamah. Biar sedekah cuma seribu tetapi rutin setiap hari, biar sibuk bekerja tetapi sholat Dhuha dan sholat malam rutin dikerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai amalan yang sedikit namun terus menerus (langgeng/lestari).

Dikutip hadis dari sini, dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”

’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,

”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”

Pelajaran berharga dari penjual nasi kuning, biar sedikit tetapi terus menerus.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Kisah Hikmah. Tandai permalink.

2 Balasan ke Pelajaran Berharga dari Penjual Nasi Kuning

  1. duniaku berkata:

    pembahasan yang menarik. mang kebnyakan orang mauny langsung besar.

  2. blaong berkata:

    semoga kita bisa mengambil hikmahx,,,★★★★

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s