Thawaf dan Tarian Alam Semesta

Ini kenanganku ketika melaksanakan ibadah umrah bulan lalu. Masih terbayang-bayang di depan mata saat-saat aku thawaf di depan ka’bah di Masjidil Haram. Diri ini terasa begitu kecil di hadapan-Nya.

Aku berdiri di lantai dua bangunan temporary ring dan memandang ke bawah. Ratusan ribu jamaah berjalan mengitari ka’bah sejumlah tujuh putaran dalam prosesi ibadah thawaf. Tidak hanya di lantai dasar, tetapi juga di temporary ring dua lantai yang dibangun selama proses renovasi besar-besaran Masjidil Haram. Semua bergerak serempak dalam arah berlawanan dengan jarum jam, sambil melafalkan doa, bertasbih, menyebut Nama Allah Yang Maha Besar dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad yang dicintai jutaan muslim sedunia.

Saat aku melakukan sendiri thawaf di depan ka’bah bersama-sama ribuan jamaah lain, bulu kudukku merinding dan hati bergetar ketika berada di dalam pusaran yang berputar itu. Kau pun akan merasakan hal yang sama jika mengalaminya sendiri. Klik foto di bawah ini untuk melihat lebih jelas.

Jamaah thawaf mengelilingi Ka'bah di Masjidil Haram.

Jamaah thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram.

Tahukah kamu, sesungguhnya gerakan mengelilingi ka’bah tersebut adalah metafora dari gerakan alam semesta yang dinamakan “tarian alam semesta”. Alam pun berthawaf dengan caranya sendiri. Planet-planet berputar mengelilingi matahari, elektron-elektron berputar mengelilingi inti atom, mitokondria di dalam sel makhluk hidup berputar mengelilingi inti sel, dsb. Sambil berputar sesungguhya alam ini bertasbih memuji Penciptanya.

Tarian alam semesta itu menghasilkan harmoni atau keseimbangan alam. Andai jika gerakan alam tersebut berhenti, niscaya hancurlah alam semesta ini. Apa jadinya jika bumi berhenti berputar, elektron berhenti mengelilingi inti atom? Maka binasalah alam ini. Allah menyuruh ummat-Nya berthawaf untuk merenungkan alam semesta yang luas maha luas ini.

Aku berada di dalam gelombang pusaran manusia yang berputar itu. Terombang-ambing sendiri. Kadang terombang ke kiri, kadang terambing ke kanan saking padatnya jamaah. Aku bagaikan setitik kecil di antara lautan manusia itu.

Maha Suci Allah yang menyuruh manusia belajar dari alam semesta yang diciptakan-Nya.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s