Etika Menulis Surat Anak Muda Zaman Sekarang

Kesantunan berkomunikasi tampaknya sudah mulai pudar pada anak-anak muda zaman sekarang. Berkomunikasi melalui surat ada etika atau tata kramanya. Bahasa tulisan sama pentingnya dengan bahasa lisan, di dalamnya kita seharusnya mengedepankan sopan santun dalam menulis pesan atau surat kepada orang lain. Pemilihan kata dan kalimat di dalam surat dapat menunjukkan kualitas adab seseorang.

Suatu hari saya menerima pesan yang dikirim melalui messenger dari seorang mahasiswa luar kampus yang tidak saya kenal. Ia meminta bahan suatu modul algoritma (mungkin karena terkait dengan mata kuliah yang saya ajar). Di akhir pesan dia menulis begini, “Saya minta tolong kirim ke email saya, Pak. Terima kasih.“, tulisnya.

Wah, bahasanya itu lho, bernada memerintah. Sudahlah saya tidak kenal, lalu memerintahkan saya untuk mengirimkan file modul tersebut ke alamat surelnya. Hei, who are you, guy? I don’t know you but you ask me to send a file to your email address. Tidakkah bisa menuliskannya dengan bahasa yang lebih sopan sebagai berikut: “Mohon maaf, Pak. Jika bapak berkenan, saya membutuhkan bahan algoritma yang ada pada Bapak… dst. Jika tidak keberatan, dapatkah Bapak mengirimkannya kepada saya via email? Berikut email saya…… Mohon maaf bila telah merepotkan dan terima kasih banyak atas bantuannya”. Nah, kalau begini kan lebih sopan daripada pesan pertama, bukan? Surat-surat dengan bahasa memerintah seperti itu sudah sering saya terima, meskipun agak kurang sopan bahasanya namun tetap saya layani juga (sambil mengeluh prihatin dengan bahasa tulisannya).

Rekan saya di kampus pernah menerima surel dari mahasiswa walinya. Mahasiswa tersebut mengalami kehilangan dokumen penting, lalu dia bertanya kepada dosen walinya dengan menyebut kata “Anda” sebagai berikut: “Saya bernama …… dengan NIM …. Anda adalah dosen wali saya. Saya mengalami suatu masalah ….dst…dst.”

Waw, kepada gurunya (dosen) mahasiswa memanggil dengan kata “Anda”? Kalau dalam Bahasa Inggris semua kata yang menunjuk kepada kamu, Anda, kau, dan sebagainya hanya satu kata saja yaitu you. Kamu memanggil ayahmu dengan kata you, gurumu dengan kata you, itu wajar-wajar saja. Tetapi, dalam Bahasa Indonesia kata “Anda” tidaklah pantas disematkan kepada orang yang kita hormati, yaitu orangtua kitya sendiri maupun guru-guru kita. Kita dapat memanggilnya dengan kata Bapak atau Ibu, dan bukan “Anda”.

Masih tentang etika menulis, rekan saya mengeluhkan surel mahasiswanya yang memberikan pilihan waktu untuk bertemu. Begini bunyi surel tersebut: Äpakah ibu memiliki waktu kosong diantara:
– hari ini
– besok sebelum jam 10 pagi
– besok jam 12-14 siang?

Waduh, tepok jidat. Mahasiswa tersebut yang memiliki keperluan dengan dosennya, tetapi dia pula yang menentukan pilihan waktu untuk bertemu, seperti menjawab soal pilihan berganda saja.

Dan yang ini lebih parah lagi: “Saya akan datang ke meja ibu pukul xxx, tolong ibu ada di tempat“. Hah? Kebangetan, bukan?

Beginilah jadinya jika pendidikan etika diabaikan. Anak-anak muda kita sangat perlu dididik tentang etika menulis surat, termasuk etika berinternet. Setinggi apapun ilmu yang dimiliki seseorang, tidak ada artinya jika mengabaikan etika. Ingatlah bahwa di atas ilmu pengetahuan itu ada etika. Dahulukan adab sebelum ilmu, demikian kata para ulama.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

9 Balasan ke Etika Menulis Surat Anak Muda Zaman Sekarang

  1. nengwie berkata:

    Waduuuh itu mah ngga sopan pisaaan… Perlu sepertinya belajar etika dan sopan santun lagi tuuh.

  2. rosa berkata:

    Kasihan Pak… perlu dididik… dari pengalaman saya, mereka memang tidak tahu, memang butuh diberi tahu agar mengerti.

  3. ceritariyanti berkata:

    Bukankah mendidik itu memberi ilmu tanpa harus merasa lebih tinggi, lebih pandai, lebih hebat, lebih benar dst…

  4. Muhammad Bakri berkata:

    Kasus seperti sering saya temukan di tempat kerja saya pak. Miris memang, padahal kalau saya sms ke mahasiswa saya tunjukkan cara sms yang baik. Etika memang sudah diabaikan saat ini pak, yang ada hanya mahasiswa menganggap dosen layaknya orang yang mereka bayar untuk mengajari mereka. Nice post pak, kalau boleh saya mohon izin untuk re-blog pak. Terima kasih sebelumnya.

  5. pembelajar berkata:

    Hehe pak Rinaldi,
    Masih mending, saya sering menerima Email dari orang INDIA. Berkaitan dengan blog Programming yang saya tulis, tiba-tiba tanpa ba bi bu minta saya membantu masalah programming yang mereka punya. No thanks, no basa-basi etc.

    Alhamdulillah karyawan dan mahasiswa saya sopan-sopan… mungkin karena level S2…

  6. Muhammad Bakri berkata:

    Reblogged this on Catatan Bang Akrie and commented:
    Wahai mahasiswaku, bacalah pesan yang dituliskan oleh Bapak Rinaldi Munir ini sebagai pelajaran bagi kalian

  7. Satria berkata:

    Pernah juga dapat yang kayak gitu, meski bukan dosen >.<
    Bahkan secara tersurat mintanya bahan yang berbahasa Indonesia (bukan bahasa Inggris).
    Hmm….

  8. deni berkata:

    Sebenarnya hal seperti ini sudah banyak diprediksi orang jauh beberapa tahun lalu, ketika melihat kalangan perguruan tinggi beroperasi lebih sebagai entitas bisnis dibanding suatu institusi untuk mendidik manusia. Dan karena para dosen ITB (yang setuju atau tidak) ikut didalamnya, dan bahkan ikut menikmati “keuntungan” dari sistem baru ini, maka mengeluh tidak akan berguna. You deserve what you did. Terima sajalah, nikmati saja, telan yang tidak nyaman.

    Bila sekarang ada kesadaran, meskipun dipicu kekecewaan akibat perilaku mahasiswa yang sebetulnya secara kasat mata sudah diperkirakan sejak dulu, adalah hal yang bagus. Teruslah di diskusikan dan disuarakan antara civitas ITB (terutama dosen dan birokrat itb), mudah-mudahan tumbuh menjadi kesedaran untuk berubah. Hanya orang ITB yang bisa merubah perilaku ITB menjadi lebih baik. Bukan orang lain.

    Salam damai, Pak Rin, teruslah menyuarakan perubahan untuk ITB yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s