Peta Daerah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Pada acara Dies Natalis ITB ke-56 kemarin, kami diberi Data dan Informasi Mahsiswa ITB Angkatan 2014. Hmmm….menarik juga melihat peta daerah asal SMA mahasiswa baru ITB angkatan 2014. Hampir semua propinsi di tanah air terwakili di ITB, sehingga ITB sebagai kampus nusantara adalah julukan yang layak.

Peta Derah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Peta Derah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

Urutan 33 Propinsi daerah asal SMA mahasiswa baru ITB angkatan 2014 adalah sebagai beriku:
1. Jabar, 1104 orang
2. DKI, 728 orang
3. Jatim, 370 orang
4. Jateng, 367 orang
5. Sumut, 212 orang
6. Banten, 179 orang
7. Sumbar, 135 orang
8. Lampung, 54 orang
9. Sumsel, 49 orang
10. Riau, 48 orang
11. DIY, 46 orang
12. Bali, 46 orang
13. Jambi, 28 orang
14. Sulsel, 22 orang
15. Kepri, 20 orang
16. Kalbar, 16 orang
17. Aceh, 15 orang
18. Kaltim, 14 orang
19. Gorontalo, 12 orang
20. Bengkulu, 7 orang
21. NTB, 6 orang
22. Sulteng, 4 orang
23. Bangka dan Belitung, 3 orang
24. Sultra, 3 orang
25. Kalsel, 2 orang
26. Maluku, 2 orang
27. Papua, 2 orang
28. Papua Barat, 2 orang
29. NTT, 1 orang
30. Maluku Utara, 1 orang
31. Sulbar, 1 orang
32. Kalteng, 1 orang
33. Sulut, 1 orang

Distribusi daerah tersebut memang belum merata. Jawa Barat dan DKI adalah propinsi penyumbang terbesar mahasiswa ITB. Untuk luar Jawa, mahasiswa asal Sumatera Utara dan Sumatera Barat adalah dua propinsi yang terbanyak mahasiswanya di ITB. Dari tujuh besar urutan propinsi yang mengirimkan mahasiswa terbanyak, lima diantaranya dari Pulau Jawa. Data ini berbicara banyak hal. Pertama, kita dapat melihat bahwa kantung0kantung daerah dengan kualitas pendidikan yang bagus masih berkutat di Pulau Jawa, sedangkan di luar Jawa adalah Sumut, Sumbar, Bali, Riau, Sumsel, Lampung, dan Sulsel. Namun, itu bukan berarti di daerah luar Jawa tidak ada bibit yang bagus. Sulawesi Utara misalnya, kualitas pendidikan di sana terkenal bagus, tetapi minat siswa SMA untuk kuliah di ITB minim. Mereka mungkin enggan memilih ITB dengan berbagai alasan seperti faktor ekonomi, jarak yang jauh, dan kesan kuliah di ITB itu mahal. Bisa juga karena informasi tentang kampus ITB ini masih relatif kurang sehingga tidak banyak diketahui.

Kedua, dulu zaman saya kuliah mahasiswa asal Jawa (Jateng, DIY, dan Jatim) di ITB jumlahnya lumayan banyak, kalau sekarang agak berkurang. Mungkin karena di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur memiliki perguruan tinggi yang tidak kalah dengan ITB, sehingga calon mahasiswa memilih kuliah di propinsi mereka saja. Selain itu mungkin kesan biaya hidup di Bandung mahal mengurangi minat lulusan SMA kuliah di ITB.

Ke depan saya berharap lebih banyak lagi calon mahasiswa dari luar Jawa kuliah di ITB. Kebhinnekaan mahasiswa di ITB adalah aset yang berharga, sehingga nanti kalau anda ingin melihat Indonesia mini, maka datanglah ke ITB.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

22 Balasan ke Peta Daerah Asal SMA Mahasiswa ITB Angkatan 2014

  1. adhyasahib berkata:

    yah maluku utara (daerah asal saya) cuman 1 orang, tapi gak apalah yang penting ada 🙂

  2. Adi Setiadi berkata:

    akan lebih mantap lagi jika proporsi non jawa lebih banyak lagi..selain beragam tetap berimbang.

  3. ulin indonesia berkata:

    ITB memang layang mendapatkan julukan kampus nusantara!! TOP BANGET DAH 😀

  4. maulana asyraf berkata:

    anak rantau banyak lo ruponyo

  5. Naufv berkata:

    Reblogged this on Nauf-vault and commented:
    Sumut masuk lima besar :O

  6. Shaufi Ufi berkata:

    Hmm pantas waktu 2013 saya ga lolos ujian ke ITB, ternyata daerah saya cman nyumbang 2 orang orang 😦

  7. Ronald Tarigan berkata:

    Kalau bisa ditampilkan perbandingan yang lulus ITB lewat SBMPTN dan SNMPTN untuk masing masing Provinsi supaya terlihat perbandingannya

  8. chandraaeniyah berkata:

    wah daerah lain juga banyak yaa :D. emang keren deh.
    bismillah mudah-mudahan lulus SNMPTN ITB 2015 aamiin. makaksih infonnya gan 😀

  9. sandrosirait berkata:

    Dulu sempat 11 mahasiswa Papua berkuliah di ITB, namun hanya 2 yang bertahan, sisanya DO.

    Memang kualitas harus ditingkatkan dari bawah ke atas ya..

    • Ronald Tarigan berkata:

      Apakah kita menginginkan kejujuran, kalau mau, lakukan aja tes tertulis tanpa memandang latar belakang: daerah, asal sekolah, suku, dll yg tidak ada hubungannya dengan kemampuan mengikuti dan menyelesaikan pendidikan yg di tetapkan di ITB. Di setiap tempat di dunia ini pasti ada manusia yg cerdas (sekitar 15 ~ 20 % dari populasi manujsia di bumi), termasuk di setiap provinsi di Indonesia.

  10. Bill Hikmah berkata:

    Pak apakah alumni daerah mempengaruhi penerimaan dalam snmptn atau sbmptn?

    • Loki berkata:

      pengalaman saya sebagai angkatan tpb 2014, untuk snmptn bila alumni sekolah kita bagus2 IP dan prestasinya, maka lbh besar kemungkinan untuk semakin banyak yg bisa diterima di ITB teh. Untuk SBMPTN semua dipukul rata, hanya dilihat hasil ujiannya.

  11. bagus berkata:

    apakah ada daftar dari SMA mana yg paling banyak masuk ITB? terima kasih

  12. Maya Maye berkata:

    Tidak Salah jika sejak dulu julukan ITB adalah miniatur Indonesia. Saya pribadi sebagai alumni bersyukur ada di dalamnya dan bisa mengenal teman-teman dari berbagai suku (Sabang-Merauke). Bergaul dengan mereka membuka mata dan hati saya, membuat saya belajar untuk (lebih) luwes bergaul.

  13. Ronald Tarigan berkata:

    Saya bermimpi ITB (dan juga universitas atau institut lainnya) bisa menyeleksi mahasiswa secara independent menurut ukuran dan standard ITB tanpa ada interpensi pihak manapun sehingga kualitas alumni dapat terus dipertahankan. Dan seyogianya setiap wilayah Indonesia memiliki institute teknologi seperti yg dilakukan India dengan “IIT” nya.

  14. aldi berkata:

    dosen saya di salah satu jurusan di itb dulu malah gak mengharapkan putra2 daerah datang ke itb pak

  15. Sam T. berkata:

    Dari Sulut selalu sedikit sekali ya 😦 entah di angkatan-angkatan yang jauh sebelum saya bagaimana.

    Dulu teman-teman saya, yang sama-sama ikut USM Daerah (di luar kota: Gorontalo dan Makassar, karena tahun ajaran itu tidak ada USM ITB di Manado :)) tetapi tidak lolos, memutuskan tidak ikut lagi USM Terpusat maupun SNMPTN, entah memang sudah tidak tertarik atau tidak berani. Kami memang sudah ditakut-takuti guru, katanya sangat sangat susah mengalahkan anak-anak dari Jawa 😦 Saya sendiri seandainya waktu itu juga tidak lolos, belum tentu juga berani mencoba lagi di gelombang berikutnya.

    Tapi setelah bertemu teman-teman dari kota-kota besar, ternyata memang fasilitas seperti bimbel di Jawa jauh sekali lebih memadai. Bahkan dengar-dengar di Jawa tidak mungkin lolos SNMPTN tanpa bimbel, cmiiw? Bahkan banyak yang bilang SNMPTN lebih mudah daripada USM. Apa lantaran saking matangnya persiapan SNMPTN di Jawa? Sama seperti ujian Bahasa Inggris macam IELTS atau TOEFL kan–walaupun pandai berbahasa Inggris, tapi kalau tidak familier dengan format ujian IELTS dan TOEFL serta teknik pengerjaannya yang efisien (macam membaca cepat untuk mendapatkan informasi dan menjawab soal pilihan gandanya, atau latihan mendeskripsikan informasi dalam grafik dan tabel), bisa jelek juga nilainya kan. Sekolah-sekolah macam konservatori sendratari yang ternama juga untuk audisi masuknya ada teknik dan trik-triknya, mulai dari bagaimana memilih lagu dan monolog yang tepat, bagaimana berkomunikasi dengan panel dan pengiring lagu, sampai bagaimana memilih pakaian yang tepat supaya diingat panel di antara ribuan peserta audisi lainnya. Kalau anak-anak Jawa yang ingin masuk ITB tiap hari dibor dengan segala varian soal SNMPTN dan tips-tips pengerjaannya yang lebih cepat dan tepat oleh sekolah dan bimbel yang sudah berpengalaman melatih para /hopefuls/ untuk masuk ITB, /how could we stand a chance/? Apalagi yang tidak bisa pakai bimbel segala?

    Selain itu bisa juga ada pengaruh ke mana pergi kuliahnya orang-orang dari daerah tertentu (atau sekolah tertentu, untuk kota-kota besar di Jawa) di angkatan-angkatan sebelumnya. Dulu teman-teman saya sejurusan IPA hampir semua ingin masuk kedokteran, baik di Unsrat maupun di daerah lain. Ketika ada ujian mandiri salah satu PTN lain di Pulau Jawa sebelum USM ITB waktu itu, teman-teman saya yang ikut tes hampir semua mendaftar untuk jurusan kedokteran. Cuma sedikit yang mau rekayasa. Walaupun akhirnya ada juga beberapa yang kuliah rekayasa 🙂 Saya tidak berani sih membandingkan kampus lain dengan ITB–barangkali saya sendiri ingin kuliah di Bandung karena sempat ada kegiatan di Bandung sebelumnya dan merasa, “Wah, kayaknya sedap kuliah di sini.” Kemudian, setelah selesai dari ITB dan berkesempatan lanjut belajar di luar, saya bertemu anak-anak yang /kuliah S1/-nya saja sudah di negara sana. Mereka rata-rata dari sekolah-sekolah swasta di kota-kota besar–dan memang sepertinya anak-anak sekolah swasta di Jakarta lebih diarahkan untuk ke luar negeri ya? Seorang teman di sana bersikeras bahwa sekolah-sekolah yang bagus di Jawa adalah yang swasta; saya bingung karena saya tahunya sekolah-sekolah bagus di Jakarta dan Bandung adalah sekolah-sekolah negeri (selain beberapa sekolah swasta yang punya nama besar dan sering menang kompetisi segala macam)? Apa karena teman-teman saya dulu di ITB kebanyakan berasal dari sekolah negeri? Jadi: asal sekolah dan daerah menentukan minat tujuan kuliah (dan jurusan) siswa, mungkin?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s