Logika Berpikir yang Menyesatkan

Kekisruhan antara DPRD DKI dan Gubernur DKI, Ahok, menarik perhatian saya. Bukan pada substansi masalah yang diperselisihkan oleh mereka, tetapi bagaimana komentar dari netizen menanggapi “pertengkaran” antara kedua pihak tersebut. Ahok digambarkan sebagai pahlawan korupsi, sedangkan DPRD -malangnya- digambarkan sebagai lembaga korup. Citra lembaga legislatif di negara kita memang sudah terlanjur buruk di mata rakyat, yaitu sarang KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Namun, saya yakin tidak semua anggota DPR/DPRD itu buruk, pasti lebih banyak anggota legislatif yang baik di antara mereka (oknum) yang berperilaku buruk. Yang baik itu banyak, yang buruk itu sedikit.

Saya tidak akan membahas siapa yang benar dan siapa yang salah dalam gontok-gontokan antara legislatif dan eksekutif di DKI itu. Meminjam hastag Presiden Jokowi , itu #bukanurusansaya, he..he. Biarlah mereka menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Yang saya amati adalah bahwa banyak netizen yang membela Ahok habis-habisan sembari menyerang DPRD. Ahok selalu diangap benar dan DPRD adalah dipihak yang salah. Psikologis masyarakat kita adalah antipati pada korupsi. Mendengar ada berita korupsi (meskipun baru sebatas dugaan) maka netizen begitu cepat bereaksi, dan ketika korupsi itu diarahkan ke DPRD maka citra lembaga legislatif yang sudah buruk semakin buruk lagi sehingga menjadi bulan-bulanan media maupun netizen. Kita tentu sepakat menolak korupsi, namun di tengah arus pemberitaan yang berat sebelah yang cenderung memihak kepada Ahok tetapi memojokkan DPRD seperti sekarang, kita belum dapat menentukan siapa yang salah dan benar dalam kasus ini. Memangnya kita tahu isi jeroan masalah ini? Memangnya kita tahu apa yang sebenarnya yang terjadi? Kebanyakan dari kita hanya terpengaruh dari pemberitaan media massa dan ikut-ikutan mengecam. Hanya Ahok dan (oknum) anggota DPRD saja yang lebih tahu apa yang sesungguhnya yang terjadi, atau jangan-jangan pelaku korupsi tersebut adalah dari pihak Pemprov DLI sendiri yang kongkalingkong dengan oknum DPRD. Wallahualam.

Ada yang menarik dari kisruh Ahok-DPRD, yaitu soal etika. Selain dianggap melanggar undang-undang karena Ahok mengajukan RAPBD 2015 ke Kemendagri tanpa persetujuan DPRD, pihak DPRD juga mempersoalkan etika Ahok yang kasar, main labrak sana sini, temparemantal, ngomong asal njeplak, main tuduh, dan lain-lain. Semua orang tahu sifat Ahok yang demikian, namun nyatanya netizen tidak mempersoalkan cara komunikasi Ahok yang tidak santun tersebut. Di jagad maya muncul ungkapan-ungkapan seperti “Buat apa santun tapi korupsi“, atau “Ahok memang kasar tetapi tidak mencuri“, “Ahok kasar tapi jujur, daripada alim tapi begal“, dan lain-lain.

Fenomena yang merendahkan perilaku baik (santun, alim, sholeh, beretika) dan membandingkannya dengan perilaku buruk (korupsi, mencuri, begal) mengingatkan saya pada situasi ketika Presiden Jokowi mengangkat Susi Pujiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan tahun lalu. Dengan cepat Bu Susi menjadi media darling karena perilakunya yang unik (bertato, suka merokok di depan umum, tampil cuek apa adanya tanpa basa-basi). Ditunjang oleh reputasinya yang sukses membangun bisnis perikanan dan transportasi, masa lalunya yang hanya lulus SMP namun bisa menjadi menteri, dan ketegasannya terhadap nelayan asing yang mencuri ikan di perairan negara kita, tiba-tiba saja Bu Susi menjadi idola baru. Media pun memberitakan sisi baik Bu Susi sebagai sosok pekerja keras, suka membantu orang miskin, bahkan fotonya yang menggendong ibunya yang sudah tua menjadi gambar yang banyak disebar melalui media sosial. Tentu saja ini berita yang bagus dan inspiratif, bukan?

Namun, entah siapa yang memulai, sosok Susi lantas dibandingkan dengan Ratu Atut (ex Gubernur Banten) yang terkena kasus korupsi dan sekarang mendekam di penjara. Bu Atut adalah sosok muslimah, dia memakai jilbab, dikenal santun, namun sayangnya dia berbuat korupsi. Lalu, bermunculanlah meme (gambar) yang membandingkan kedua perempuan ini dengan kata-kata yang bertolak belakang satu sama lain, disertai ungkapan “lebih baik bertato dan merokok daripada berjilbab tapi korupsi”..

Meme Susi vs Atut

Meme Susi vs Atut

Berbagai meme lain tentang Susi dan Atut dapat anda lihat di sini.

Baiklah, Atut memang salah, tetapi kenapa jilbabnya yang dipersoalkan? Dalam kacamata ajaran agama, Ratu Atut sudah menjalankan perintah agamanya dengan menutup aurat. Perkara jilbabnya tidak sejalan dengan perilakunya yang berbuat korupsi itu hal yang lain lagi. Sedangkan dalam kacamata netizen, perempuan yang bertato, merokok, namun pekerja keras dan bersih dari korupsi dipandang lebih baik daripada perempuan berjilbab tapi korupsi.

Dalam konteks yang lain, kita sering pula mendengar ungkapan yang mirip seperti di atas, misalnya ungkapan biar tidak sholat tetapi tidak mencuri, lebih baik tidak berjilbab namun sopan, daripada berjilbab tetapi peluk-pelukan sama pacar, atau biar dicap kafir tetapi baik hati, atau biarin berzina tetapi tidak mengganggu orang lain, dan ungkapan lainnya yang senada dengan itu. Pada kasus Ahok, netizen mangatakan biar Ahok suka ngomong kasar tetapi dia jujur, daripada santun tetapi korupsi, atau biar omong kasar tetapi tidak korupsi.

Tentu saja kita tidak bisa serta merta menyalahkan netizen yang membanding-bandingkan perilaku baik dan buruk dengan melihat contoh segelintir. Masyarakat kita sudah gemas dan muak dengan perilaku oknum manusia yang bak musang berbulu ayam, di depan tampak baik, tetapi di belakang menyambar. Di hadapan publik memperlihatkan perilaku alim, tetapi tidak tahunya diam-diam melakukan perbuatan tercela seperti korupsi. Masyarakat melihat atribut yang disandang (jilbab, simbol-simbol agama, kesalehan, dsb) seseorang sering bertolak belakang dengan perilaku orang tersebut. Akhirnya muncullah ungkapan bahwa sikap alim tidak penting, yang penting tidak korupsi. Buat apa santun, tetapi korupsi. Maka, dengan logika berpikir demikian kita bisa memahami mengapa banyak netizen membela Ahok yang diidentikkan kasar daripada DPRD DKI yang diidentikkan korup (meskipun belum dapat dibuktikan kebenarannya).

Namun, logika berpikir seperti di atas menurut saya bisa menyesatkan jika lama-lama dianggap sebuah kebenaran. Keliru. Fenomena masyarakat yang memandang etika dan keberagamaan bukan hal yang penting ketimbang perbuatan korupsi dapat membuat orang menafikan etika dan ajaran agama. Kesalehan, kesantunan, kealiman tidak lebih berharga daripada perbuatan korupsi atau mencuri. Seakan-akan mengajarkan etika sudah tidak perlu lagi dengan melihat contoh Ahok. Berjilbab tidak perlu lagi dengan melihat kasus Ratu Atut. Sholeh dan alim tidak penting lagi dengan melihat kasus LHI. Untuk apa sholat tetapi nantinya mengambil uang rakyat. Dan sebagainya, dan sebagainya. Jika demikian logika berpikirnya, maka pelajaran budi pekerti mungkin perlu dihapus dari sekolah karena tidak ada gunanya lagi. Pendidikan agama pun tidak diperlukan lagi karena alim dan sholeh nanti toh dianggap tameng semata. Kita mengajarkan anak-anak untuk tidak berkata kotor, tetapi pemimpin seperti Ahok malah mempertontonkan berbicara kasar dan kotor.

Saya katakan logika berpikir yang keliru dan menyesatkan karena perbuatan segelintir orang menjadi penghakiman bagi orang lain yang tidak terlibat. Kata orang Jawa itu namanya menggebyah ubyah. Kalau perempuan berjilbab korupsi, maka yang salah bukanlah jilbabnya, tetapi orangnya. Salah dia kenapa tidak menyesuaikan perilakunya dengan jilbabnya. Kalau orang yang dianggap sholeh dan alim (seperti kyai dan ustad) melakukan korupsi atau memperkosa santri, maka yang salah bukan sholatnya, bukan ajaran agamanya, tetapi yang salah adalah orangnya karena tidak mengaktualisasikan ajaran agama dengan perilaku sehari-hari, tidak sinkron antara yang dibaca di dalam sholat dengan tindak-tanduk.

Menurut saya kesopanan itu penting, kesantunan itu penting, ajaran agama itu penting. Kita semua tentu anti terhadap perbuatan korupsi, anti terhadap perilaku mencuri, anti terhadap perilaku membegal. Salah besar jika menganggap kesantunan berkomunikasi itu tidak lebih penting daripada sikap anti korupsi. Etika dan sikap anti korupsi sama-sama pentingnya dan tidak bisa dipertentangkan.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Budi Pekerti, Indonesiaku, Pendidikan. Tandai permalink.

15 Balasan ke Logika Berpikir yang Menyesatkan

  1. Falah Aghaditama berkata:

    Reblogged this on Manajemen Ruang Kosong and commented:
    Terkadang kita dibutakan oleh satu sisi baik, lalu menutup mata di sisi lain.
    Jika benar teriakan benar, jika salah teriakan salah!

  2. nengwie berkata:

    Paling sebel deh kalau baca itu yg membanding-bandingkan gitu..!!

    Halloooo yg bandingin ibu Susi sama jeng Atut itu pada sekolah kaaaah…?? !!!!

  3. nate berkata:

    mungkin saya salah satu pendukung ahok dan jokowi yang fanatik.
    Saya setuju kalau cara ahok untuk menyampaikan pendapat bisa disebut terlalu kasar, tapi sekarang ini mungkin itulah cara paling ampuh untuk menghadapi [sebagian] anggota DPRD yang korup itu. Paling kesal kalau yang mengeluarkan statement “ahok tidak tau etika” itu adalah para anggota DPRD yang terlibat korupsi. Pemikiran mereka mengenai etika itu mungkin hanya sebatas cara orang bertutur kata, tapi harusnya lebih jauh dari itu. Benar dalam bertindak sebagai wakil rakyat dan memperjuangan kepentingan rakyat bukankah juga salah cara menunjukkan etika? Sangat disayangkan.

    Kalau perbandingan Ibu Susi dan Ibu Atut yang dikaitkan dengan agama dan prestasi, saya juga sama sekali tidak setuju. Perbandingan yang tidak relevan.

  4. pemikirulung berkata:

    ini pernah dibahas ramai pak, banyak juga netizen yang menyangkal, kenapa susi dibandingkan dengan Atut, toh ada tokoh berjilbab lain yang bener dan ga korpusi, Bu Risma misal. emang rasanya pengen mengarah menjelekkan agamanya, jadi lebih ke paradigma liberal gitu, ga usah religius atau beragama, yang penting baik budi dan ga merugikan orang. perang pemikiran ini.

    anw, saya suka banget baca tulisan bapak, netral dan cerdas. ga ikut-ikutan seperti netizen kebanyakan

  5. Ucan berkata:

    begini mas untuk urusan membanding-bandingkan seperti itu memang saya berpikir salah, namun yang menjadi masalah adalah ketika citra mereka yang awalnya terlihat baik (memakai jilbab, tidak kawin cerai, tidak merokok) menunjukan bahwa mereka memang benar-benar orang baik, yang jadi permasalahan adalah ketika orang-orang memiliki stereotipe yang menganggap bahwa ketika mereka melakukan hal itu semua mereka adalah orang baik sehingga ketika mereka melakukan hal buruk tersebut terkesan sebagai orang munafik.

  6. Barbie berkata:

    Maaf ikutan komentar ya…
    Sejak pilpres terakhir memang masyarakat kita terpecah, dan sayangnya yg lebih dipelihara adalah fanatisme bukan akal sehat. Kondisi seperti itu berlanjut pada hubungan eksekutif & legislatif. Contohnya seperti gubernur DKI & DPRD DKI. Semua yg dari ahok adalah bernilai benar & semua yg berasal dari DPRD DKI adalah bernilai salah. Penilaian ini bersifat absolut. Sayang sekali memang, akal sehat dikesampingkan. Kalo menurut saya pribadi, masalah yg terjadi antara gubernur DKI & DPRD DKI itu sederhana saja. Yg membikin nya terkesan rumit itu adalah media dan para penonton. Media seperti biasanya, selama masalah/konflik itu laku dijual maka dijaga apinya jangan sampai padam. Sementara penonton juga masih seperti yg dulu, tidak memahami & menguasai masalah/konflik sebenarnya tapi langsung komentar ini itu dan membuat kubu2 an. Ahok & DPRD DKI sangat patut dilakukan investigasi lebih dalam. Investigasi itu untuk mendalami kenapa ada item2 yg mencurigakan di dalam RAPD DKI 2015, begitu juga investigasi kenapa ahok melakukan pelanggaran UU dengan mengirimkan RAPBD yg bukan merupakan hasil kesepakatan antara pemda & DPRD DKI.
    Tapi masalah tersebut kayaknya sulit untuk disederhanakan karena masyarakat kita suka sekali dipecah belah oleh berita media. Dan media sangat memahami situasi kebatinan itu.

    Kalo masalah pelecehan simbol2 agama Islam itu bukannya sudah biasa. Yang melakukan pelecehan itu kan orang Islam, yg dilecehkan itu orang Islam, yg paling kencang tertawanya orang Islam, yg ngipas2 in biar pelecehannya semakin menjadi2 juga orang Islam. Lantas apa nya yg salah??? Apa itu cerminan orang Islam itu bodoh? ah anda jangan menghakimi seperti itu, orang Islam itu tidak bodoh cuma sering sok pintar saja.

  7. dianramadhani berkata:

    pemimpin itu adalah teladan bagi yang dipimpin nya.. pepatah bilang guru kencing berdiri, murid kencing berlari.. kalau yang dipimpin dan menjadi pusat perhatian tidak menunjukkan sikap yang sepatutnya dapat dicontoh, bagaimana dengan yang melihat dan mencontoh nya kemudian? #pendapatpribadi

  8. gunung berkata:

    Org indonesia asli emg dasar gak punya karakter, kemana angin bertiup semua pada kesana, contohnya ya netizen2 goblok tea, belum tau duduk persoalan spt apa udh pd latah aja cuit2 cuap2 di i-net, hadeuh…

  9. n couto berkata:

    Apapun interpretasi adalah apa yang Anda katakan tentang dunia, ekspresi emosi bisa asli bisa palsu (teori) sama dengan karakter adalah tampilan (bisa asli bisa palsu), Anda Tertipu, Rakyat tertipu, semua tertipu dengan karakter, oleh ekspresi emosi maupun interpretasi. Seharusnya penulis menyimpulkan melalui teori tindakan. Bahwa sebuah tindakan adalah affect (dari dalam diri manusia), dari tindakan kelompok, dari tindakan sosial. Jadi Anda tidak terjebak dengan “karakter” dan “interpretasi”.

  10. Eko berkata:

    Kesopanan itu penting, kesantunan itu penting, ajaran agama itu penting, Pendidikan penting, kebetulan yang menjadi super Hero untuk meluruskan kondisi yang carut marut adalah orang yang terpilih dan digariskan, kita harus apresiasi siapapun dia, 2 orang sudah berpikir berbeda apalagi pikiran jutaan orang menimbulkan polemik bila diteruskan, Indonesia harus berubah dan sekarang adanya momentum, think positive and forward.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s