Ketika Situs Dakwah Diblokir

Wah, cukup lama saya tidak menulis di blog ini. Terlalu banyak yang ingin saya tuliskan sebenarnya, namun apa daya dililit kesibukan membuat waktu menulis pun berkurang. Banyak isu yang bertebaran selama dua minggu ini, saya pun tergelitik untuk menuliskan catatannya. Isu yang hangat adalah tindakan Kemkominfo yang memblokir situs-situs Islam atas rekomendasi BNPT karena alasan yang sering berubah-ubah (Baca: Kominfo Blokir 22 Situs yang Dianggap Radikal). Semula alasannya karena situs-situs web tersebut menjadi sarana mempropagandakan ISIS atau mendukung ISIS. Belakangan tuduhan tersebut berubah lagi karena menjelekk-jelekkan Jokowi, mengobarkan jihad dalam arti perang, dan terakhir tuduhannya karena mengusung paham radikal.

Meskipun definisi radikal itu sendiri masih belum jelas apa batasannya, saya setuju jika situs-situs yang mengajarkan radikalisme dilarang, tidak hanya situs yang berlatarbelakang agama, tetapi juga situs lain yang mengajarkan paham radikal lain seperti komunisme. Beberapa situs dari 22 situs yang diblokir tersebut menurut penilaian saya memang sangat keras, kalau tidak boleh dibilang menyebarkan kebencian kepada suatu golongan. Menurut saya isu-isu yang sensitif sebaiknya tidak boleh dipanas-panasi sebab dapat menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Media seharusnuya menjadi tuntunan, bukan memprovokasi. Ini juga berlaku bagi media lain yang meski tidak mengatasanamakan agama tetapi berita-beritanya menyudutkan suatu kelompok dan bernada provokatif.

Yang saya sesalkan adalah beberapa situs dakwah ikut terkena blokir, antara lain situs hidayatullah.com. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang setia membaca situs hidayatullah.com. Setahu saya situs Hidayatullah sudah lama ada sebagai pelengkap dari majalahnya yang bernama sama. Majalah Hidayatullah dan situs webnya adalah bagian dari pesantren besar di Indonesia Timur, yaitu Pesantren Hidayatullah. Pesantren Hidayatullah pusatnya di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, namun cabangnya ada di mana-mana dari Sabang sampai Merauke. Pesantren ini termasuk unik, karena mereka mengirimkan para dai ke daerah terpencil untuk membina masyarakat muslim dan kaum mualaf yang jauh dari bimbingan agama. Uniknya adalah para dai itu tidak diberi modal ketika disuruh berangkat, tetapi hanya diberi sejumlah majalah Hidayatullah untuk dipasarkan. Hasil dari penjualan majalah itulah yang digunakan untuk sekedar penyambung hidup. Para dai diminta mencari hidup sendiri, dan karena keikhlasan mereka berdakwah, ada saja orang-orang di daerah tujuan mewakafkan tanah kepada dai itu untuk mendirikan pesantren atau tempat mengajar anak-anak mengaji. Dari sanalah cikal bakal tumbuhnya cabang-cabang pesantren Hidayatullah yang betebaran di mana-mana, khususnya di kawasan Indonesia Timur yang miskin infrastruktur.

Saya tahu cerita di atas karena selalu membaca majalah dan situs webnya. Dulu saya aktif membeli majalah ini, tetapi sejak ada situs webnya saya lebih banyak membaca berita dan artikel di situs web ketimbang membaca edisi cetaknya.

Sejauh yang saya baca dan saya pahami, majalah dan situs web Hidayatullah isinya sangat jauh dari tuduhan radikal. Isi situsnya lebih banyak mengajak kaum muslimin dan muslimat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan banyak beribadah dan beramal sholeh. Menurut saya Hidayatullah.com adalah situs dakwah yang menuntun pembacanya lebih taat pada agama. Saya merasa heran saja situs dakwah ini termasuk ikut diblokir. Presiden SBY dan Wapres Jusuf Kalla saja sudah pernah mengunjungi pesantren ini. Kalau memang radikal, kenapa sekelas Pak Presiden dan Wakil Presiden sampai datang ke sana?

Memang situs hidayatullah.com pernah membahas persoalan-persoalan yang hangat di dalam Islam seperti isu Syiah, Ahmadiyah, dan aliran-aliran sesat lainnya. Apakah karena itu? Kesamaan dari semua situs yang diblokir tersebut adalah karena mereka menolak paham Syiah dan Ahmadiyah. Polemik soal Syiah, Ahmadiyah, dan aliran sesat juga banyak betebaran di banyak media, termasuk media arus utama sekalipun, tetapi media tersebut tidak dibreidel tuh. Sebagai situs Islam, sudah sewajarnya mereka membahas aliran-aliran ini guna meluruskan akidah ummat. Saya berburuk sangka, jangan-jangan pemblokiran situs merupakan pesanan kelompok liberal (termasuk kelompok Islam Liberal) yang memang menjadi tameng bagi gerakan aliran yang menyimpang. Hidayatullah menjelekkan Jokowi? Yang saya tahu mereka mengkritisi Jokowi. Menjelekkan tidak sama dengan mengkritisi. Apakah bersikap kritis sudah dilarang di negeri ini?

Hmmm…saya tidak bermaksud membela situs Hidayatullah secara khusus. Saya tidak punya kepentingan dengan situs ini. Saya hanya merasa kehilangan situs dakwah yang bagus seperti Hidayatullah. Sekarang situs ini tidak bisa diakses lagi karena terkena internet filtering yang diterapkan oleh internet provider. Saya khawatir pemblokiran situs-situs Islam tersebut merupakan bentuk pengekangan terhadap kebebasan berbicara. Lebih jauh lagi pemblokiran tersebut berdampak menimbulkan Islam0phobia. Jangan-jangan nanti bakal banyak media dan situs di Internet yang diblokir karena mengkritisi Pemerintah. Jika ini terjadi, maka sejarah Orde Baru kembali terulang dan kita mundur kembali ke belakang.

Pos ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

6 Balasan ke Ketika Situs Dakwah Diblokir

  1. darsonogentawangi berkata:

    ah, penguasa………

  2. bukanbocahbiasa berkata:

    Beberapa waktu lalu, Pak Mahladi (Pimred Hidayatullah) berbincang di Metro TV tentang ini. Ya, saya sepakat bahwa Hidayatullah adalah situs yang APIK sama sekali tak layak blokir.

  3. Muhammad Zaini berkata:

    Biarpun situsnya diblokir, aplikasi androidnya nggak diblokir. Kalau aku pake arrahmah for android | bit.ly/downloadarrahmah

  4. dianramadhani berkata:

    Semestinya aparat penegak hukum dan pemerintah dalam hal ini BNPT dan Menkominfo bertindak sesuai aturan hukum/perundangan yang telah dirumuskan secara sah oleh lembaga yang berwenang sehingga apapun tindakan di tataran praktis memiliki dasar yang bisa di pertanggungjawabkan.. kenyataan nya yang terjadi, aturan yang jelas belum ada tapi sudah berindak gegabah.. sayang sekali, proses hukum sudah seharusnya menaati hukum itu sendiri.. *opini pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s