Tetangga, Menjadi Musuh atau Menjadi Teman?

Hidup bertetangga itu susah-susah gampang. Karena setiap hari bertemu atau berinteraksi, maka yang namanya gesekan itu pasti ada. Tidak jarang terjadi perselisihan, cekcok, dan sebagainya. Kadang-kadang hanya masalah sepele seperti masalah anak, masalah air talang hujan, masalah air pembuangan, atau tanaman tetangga yang cabangnya masuk ke halaman rumah kita. Sepele tapi bisa meletup menjadi persoalan besar.

Namun, sebaliknya tidak jarang ditemukan pula para tetangga yang selalu hidup rukun, damai, dan guyub. Kalau mendapat tetangga yang baik, maka itu adalah berkah, tetapi jika mendapat tetangga yang selalu reseh atau tidak ramah, maka alamat tidak akan bisa akur. Akhirnya yang terjadi adalah hidup nafsi-nafsi, hidup masing-masing, tanpa mempedulikan tetangga.

Ketika saya membeli rumah (rumah seken sih), maka selain utilitas vital seperti air dan listrik, maka pertimbangan saya yang lain adalah tetangga di sebelah menyebelah rumah. Jika naga-naganya tetangga sebelah orang yang ramah, setelah melihat dan kenalan sepintas, maka saya merasa nyaman jika membeli rumah tersebut. Tetapi, jika orangnya terlihat judes, kurang ramah, dan tertutup, waaah..lebih baik saya cari yang lain saja.

Gesekan antar tetangga adalah wajar. Persoalannya adalah bagaimana menyikapi gesekan tersebut sehingga tidak menjadi persoalan besar. Apakah kita ingin tetangga menjadi teman selamanya atau menjadi musuh yang selalu perang?

Ada sebuah kisah dari Tiongkok yang saya peroleh dari persebaran tulisan di jejaring sosial. Sungguh indah kisahnya, dan sungguh bermakna hikmah yang terkandung di dalamya. Begini kisahnya setelah saya rapikan tata bahasanya (terima kasih kepada orang yang pertama kali mengetikkan kisah ini, jazakllah).

Kisah Petani dan Pemburu

Dikisahkan ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yg berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing yg galak namun kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani. Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjinya, tapi ia tidak mau peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba sehingga terluka parah. Petani itu merasa tidak sabar, lalu ia memutuskan pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dan berkata; “Saya bisa saja menghukum pemburu itu, memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan kehilangan seorang teman dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?”

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

“Baik, saya akan menawari anda sebuah solusi yg mana anda harus menjaga domba-domba anda, supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga anda tetap sebagai teman.”

Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju, lalu dia pulang kembali ke desanya. Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim. Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana mereka menerima denga sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba² pak tani.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani. Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging domba & keju buatannya. Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan,
“CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN & MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAJIKAN.

Moral dari cerita ini adalah, saya petik dari penyerta tulisan di atas, sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Ingat sebuah peribahasa yang berbunyi: seribu teman itu masih sedikit, tetapi satu musuh itu terlalu banyak.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Hikmah. Tandai permalink.

5 Balasan ke Tetangga, Menjadi Musuh atau Menjadi Teman?

  1. sarutobi3 berkata:

    kalo versi Arab nya pak ada pepatah : “al jaar qabla ad daar” maksudnya memilih tetangga didahulukan dari memilih rumah

  2. Abi Asma' Salsabila berkata:

    inspiratif sekali. Memang terkadang celah seperti ini yang tidak kita temukan tanpa penghayatan mendalam. Kita kadang sibuk menyalahkan tetangga namun tidka pernah mencari solusi sendiri. ujungnya, menurut kita sudah benar tetapi tetangga berpikir lain. Itu sulitnya jika kepala berbeda. Namun dengan kejelian kita, solusi bisa ditemukan seperti cerita diatas. Menarik sekali…

  3. ryla frisqa berkata:

    benar sekali,
    apalagi sebagai wanita harus belajar bersikap bijak pada orang sekitar, wanita cenderung sensitif

  4. michael berkata:

    luar biasa inspiratif sekali post ini pak.

    Sebagai orang bisnis, pepatah “seribu teman itu masih sedikit, tetapi satu musuh itu terlalu banyak” dan cerita diatas sangat mengena sekali pak.

    Prinsip saya dalam bisnis adalah Win-Win solution bagi setiap orang, bahkan partnership dengan pesaing kita akan membawa keuntungan bagi kedua belah pihak.

  5. abiaimar berkata:

    Subhanallah sangat menginspiratif, saya sebagai pasangan keluarga muda sangat butuh kisah inspiratif. Trimakasih atas kisahnya pak. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s