Hukuman Mati

Ramai sekali perbincangan tentang hukuman mato di Indonesia, terutama menjelang dieksekusinya 9 orang terpidana kasus pengedaran narkoba. Dua diantara sembilan orang tersebut adalah dua warga Australia yang dikenal dengan sebutan Duo Bali Nine. Pemerintah Australia berupaya keras untuk menyelamatkan warganya dari hukuman mati. Berbagai negara pun mengecam Pemerintah RI karena masih menrapkan hukuman mati.

Di dalam negeri pun pro kontra tentang hukuman mati masih bergulir. Pihak yang menentang hukuman mati misalnya LSM Kontras dan Komnas HAM. Alasan mereka sama, yaitu negara tidak berhak menentukan hidup matinya seseorang. Hak hidup adalah hak dasar setiap manusia, negara tidak bisa menghilangkannya dengan alasan apapun.

Pandangan Kontras dan Komnas HAM tersebut berkebalikan dengan hasil jajak pendapat tentang hukuman mati. Mayoritas warga Indonesia atau sebanyak 86 persen ternyata mendukung langkah Presiden Joko Widodo menghukum mati pengedar narkoba (Sumber dari sini).

Sebenarnya hukuman mati tidak hanya ada di Indonesia. Hukuman ini terdapat di banyak negara seperti Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Tiongkok, bahkan Amerika Serikat sekalipun. Di Arab Saudi misalnya, hukuman mati diterapkan bagi pembunuh, pemerkosa, pengedar narkoba, dan murtad. Dalam tahun ini saja Arab Saudi telah melakukan 72 kali hukuman mati (sumber dari sini). Yang dihukum mati tidak hanay warga asing (seperti TKI yang melakukan pembunuhan), tetapi juga warga Saudi sendiri.

Dalam ajaran Islam, hukuman mati diterapkan pada pelaku pembunuhan dan perzinahan. Untuk pelaku pembunuhan, nama hukumannya adalah qishas, sedangkan untuk pelaku perzinahan nama hukumannya adalah rajam.

Qishas dilakukan dengan cara memenggal kepala pelaku pembunuhan dengan pedang, sedangkan rajam dilakukan dengan melempar kepala pelaku perzinahan dengan batu secara beramai-ramai sampai mati. Di dalam hukum hukum qishas, pelaku pembunuhan harus dibunuh pula, namun jika keluarga pelaku memaafkan pelaku, maka hukuman mati pun menjadi batal. Biasanya keluarga korban meminta tebusan uang yang harus dibayar oleh pelaku pembunuhan.

Di Saudi Arabia yang menerapkan hukum Islam, pengedar narkoba puin termasuk kejahatan yang dihukum mati. Pengedar narkoba memang tidak membunuh orang secara langsung, namun kejahatannya telah merampas masa depan banyak generasi muda, termasuk yang mati secara perlahan karena pengaruh narkoba yang sangat akut.

Dalam pandangan saya, hukuman mati yang adil adalah hukuman mati yang diajarkan oleh syariat Islam. Nyawa harus dibayar dengan nyawa pula. Membunuh satu nyawa berarti membunuh banyak generasi sesudahnya, karena calon keturunan si korban juga musnah. Kasihan kepada pelaku pembunuhan yang terancam dihukum mati boleh-boleh saja, namun kita juga harus kasihan kepada keluarga korban yang harus kehilangan anggota keluarganya. Namun, hukuman mati itu bisa batal apabila pelaku pembunuhan mendapat maaf dari keluarga korban. Memaafkan adalah sikap yang paling baik. Begitulah indahnya ajaran Islam.

Nah, pelaku kejahatan narkoba yang terancam hukuman mati bisa saja bebas dari hukuman jika ia mendapat maaf dari ratusan atau ribuan keluarga korban yang teraniaya karena masa depan anggota keluarga mereka menjadi hancur. Namun, apakah mudah mendapatkan maaf dari ratusan atau ribuan keluarga tersebut? Wallahualam.

Indonesia memang tidak menganut hukum Islam, karena Indonesia bukan negara agama meskipun mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Namun, sebagian hukum Islam sudah tercakup di dalam hukum positif di Indonesia, termasuk hukuman mati. Memang pelaku pembunuhan tidak selalu dijatuhi hukuman mati, banyak diantaranya hanya dihukum beberapa tahun hingga belasan tahun. Sangat jarang pelaku pembunuhan diancam hukumam mati, kecuali jika aksi pembunuhannya dilakukan dengan sangat keji. Hukuman mati adalah hukuman maksimal yang mungkin dijatuhkan. Pelaku pembunuhan biasanya mendapat keringanan hukuman misalnya karena masih muda, sopan di dalam persidangan, mengakui kesalahan, menyesali perbuatan, dan sebagainya.

Pelaku kejahatan narkoba sama saja dengan pelaku pembunuhan. Mereka dapat terancam hukuman mati jika jumlah narkoba yang dibawanya melebihi batas tertentu. Namun sebenarnya narkoba, sedikit atau banyak, telah meracuni puluhan ribu generasi muda di tanah air. Narkoba efeknya tidak langsung membunuh, tetapi pembunuhanya terjadi pelan-pelan. Jika begitu, maka kejahatan narkoba sama saja dengan kejahatan pembunuhan. Keduanya dapat diancam hukuman mati.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s