Kasihan Zainal Abidn

Diantara delapan orang terpidana mati kasus pengedaran narkoba yang diekselusi mati di Nusakambangan hari Rabu dinihari yang lalu, hanya terdapat seorang dari bangsa kita sendiri, yaitu Zainal Abidin. Tujuh lainnya berasal dari Australia, Brazil, Ghana, dan Nigeria. Pemberitaan tentang Zainal Abidin tidak segencar Mary Jane dari Filipina yang lolos dieksekusi malam itu (hukuman matinya ditunda). Pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi, Pemerintah Filipina berhasil meyakinkan Pemerintah RI bahwa Mary Jane adalah korban perdagangan manusia. Pelakunya sendiri telah menyerahkan diri di Filipina. Tidak pelak penundaan mati Mary Jane menjadi kehebohan dunia. Rakyat Filipina bersuka cita. Tagar di Twitter ramai men-twit tentang penundaan itu.

Zainal Abidin (tengah) (sumber foto: Jawa Pos)

Zainal Abidin (tengah)
(sumber foto: Jawa Pos)

Tidak hanya Filipina, Australia, Perancis, dan Brazilia termasuk negara yang all out membela warganya agar lolos dari hukuman mati. Bagaimana dengan Zainal Abidin? Dia sama sekali terabaikan oleh negaranya sendiri, tidak ada pembelaan dari Pemerintahnya. Bahkan, pemberitaan tentang dirinya tidak banyak dan tidak segencar dua Bali Nine sebelum pelaksanaan eksekusi. Dia seolah-olah dianggap memang pantas dihukum mati. Bahkan pada saat matinya pun tidak ada keluarganya yang datang ke Nusakambangan berhubung tidak punya biaya ke sana. Dia pun dikubur di Nusakambangan karena Gubernur Sumatera Selatan (daerah asal Zainal Abidin) menolak jasadnya dimakamkan di kampung halamannya.

Seperti dikutip dari sini, Koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar bingung dengan sikap masyarakat tersebut. Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih perhatian kepada salah satu warga negaranya yang juga terancam hukuman mati, Zainal. Karena dari semua terpidana mati nasib Zainal paling menyedihkan.

“Kasihan Zainal Abidin, ternyata dia satu-satunya orang Indonesia tapi malah dia enggak jelas proses hukumnya. Enggak jelas siapa lawyer-nya. Dan keluarganya malah tidak ada yang muncul. Terakhir-terakhir dia malah ditolak untuk dikubur (di Palembang),” ungkapnya.

Yang membuat saya terhenyak adalah membaca berita tentang berkas Peninjauan Kembali (PK) kasusnya yang terselip di PN Palembang selama 10 tahun tanpa diproses. Seperti yang dikutip dari sini, berkas permohonan PK telah dikirimkan Pengadilan Negeri (PN) Palembang pada 5 Mei 2005. Tapi pihak PN Palembang baru mengirim ke MA pada 10 tahun setelahnya. PK ini dikirim PN Palembang dengan surat pengantar nomor W6.U1/188/Pid.01/2015. Perkara PK Zainal Abidin diregistrasi dengan nomor perkara 65 PK/Pid.Sus/2015 pada tanggal 8 April 2015 dan distribusi berkas ke Majelis Hakim PK dilakukan pada tanggal 21 April 2015 dan majelis hakim memutus perkara tersebut pada tanggal 27 April 2015.. Berita lainnya dapat dibaca di sini.

Itu artinya tanggal 27 April adalah dua hari sebelum pelaksanaan hukuman mati terhadap dirinya. Selama sepuluh tahun hak hukumnya tidak dipenuhi, sekarang dia sudah terlanjur tewas di-dor. Benar-benar gegabah sitem peradilan di negara kita.

Sebenarnya pada pengadilan tingkat pertama di Palembang, Zainal Abidin “hanya” mendapat hukuman 15 tahun. Tetapi, Zainal Abidin melakukan banding ke pengadilan tinggi. Celakanya upaya bandingnya itu justru memperberat hukumannya menjadi hukuman mati. Upayanya melakukan Penijauan Kembali justru tidak kunjung mendapat balasan. Rupanya berkas PK-nya terselip di PN Palembang selama 10 tahun.

Saya tidak menentang hukuman mati, tetapi seharusnya pelaksanaannya dilakukan dengan sangat hati-hati, karena ini menyangkut nyawa manusia. Kejaksaan Agung harus teliti dengan cermat sampai semua proses hukum terpidana sudah dipenuhi.

Sekarang Zainal Abidin sudah mati, nyawanya tidak bisa dikembalikan lagi. Negara sudah bertindak zalim dengan mengabaikan hak hukumnya selama sepuluh tahun.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Kasihan Zainal Abidn

  1. Febriyan Lukito berkata:

    Susah berkomentar masalah narkoba dan hukuman mati ini mas. Hiks.

  2. adhyasahib berkata:

    ikut sedih😦

  3. Andik Taufiq berkata:

    Agak serem juga ya Pak, yg bisa kita lakukan di negeri yang hukumnya masih blm adil ini hanya berhati-hati dalam bergaul. Makanya tuntunan untuk bergaul dengan orang-orang sholeh itu bukan isapan jempol belaka.🙂

  4. nur ayureski berkata:

    ya Allah maafkan kelalain negara ini aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s