Pensiun (2)

Tahun depan makin banyak senior saya akan menjalani masa purnabakti (istilah halus untuk kata pensiun). Saya hitung-hitung ada tiga orang dosen senior akan pensiun dalam tahun yang sama (tahun 2016). Kemudian, satu atau dua tahun kemudian bertambah lagi satu atau dua orang yang pensiun. Jika dihitung-hitung dengan tiga orang dosen yang sudah purnabakti dalam lima tahun sebelumnya, maka jumlah dosen yang lebih senior dari saya makin sedikit saja. Ini berarti saya dan beberapa orang teman akan beralih “status” menjadi dosen senior di lingkungan akademik saya.

Memasuki masa purnabakti adalah hukum alam yang tidak bisa ditolak. Usia akan terus merambat naik, masa kejayaan seseorang perlahan mulai sirna. Cepat atau lambat dia harus meninggalkan dunia pekerjaan yang sudah ditekuninya selama puluhan tahun. Generasi baru siap menggantikan perannya. Begitulah siklus hidup manusia yang berlangsung terus menerus, sudah sunnatullah sesuai yang digariskan oleh-Nya.

Dosen dan guru, khususnya yang berstatus pegawai negeri, memiliki keistimewaan dalam usia pensiun dibandingkan pegawai non-akademik maupun pegawai departemen lainnya di Indonesia. Jika pegawai biasa pensiun pada usia 55 tahun (sekarang diubah menjadi 58 tahun), maka guru pensiun pada usia 60 tahun. Usia pensiun dosen lebih lama lagi, yaitu 65 tahun. Kalau dosen tersebut memiliki jabatan akademik profesor, maka profesor pensiun pada umur 70 tahun.

Pegawai non-akademik (administrasi) pensiun pada usia 55 tahun, belakangan diperpanjang menjadi 58 tahun karena umur 55 tahun sebenarnya masih produktif. Masa persiapan purnabakti (MPP) adalah satu tahun, jadi tepat pada usia 56 tahun ia sudah berstatus pegawai purnanakti. Selama MPP itu jadwal kerjanya lebih fleksibel, ia boleh masuk kerja, atau boleh tidak masuk, namun gaji PNS nya tetap jalan terus. Di lingkungan akademik di kampus saya, ada fenomena pegawai administrasi tidak ingin mengambil jatah maksimal usia pensiun. Pada umur 55 tahun mereka sudah mengajukan pensiun, meskipun masa MPP masih satu tahun lagi. Bahkan ketika usia pensiun diperpanjang menjadi 58 tahun, mereka tetap ingin pensiun lebih awal. Mereka sudah ingin istirahat di rumah saja, ingin bermain dengan cucu, merawat tanaman, memperbanyak ibadah, atau menunaikan umroh, dan lain-lain.

Pekerjaan administrasi pendidikan yang berat adalah salah satu penyebabnya, selain masalah psikologis karena tekanan dari dosen yang karakternya bermacam-macam. Tahukah anda, bahwa mengurus nilai mahasiswa, mengurus surat-surat, mengatur penjadwalan seminar dan sidang Tugas Akhir, dan lain-lain merupakan pekerjaan yang menyita waktu. Ada ratusan mahasiswa dan kepentingan puluhan dosen yang harus dilayani. Tidak jarang pegawai administrasi lembur malam di kantor atau di rumah. Seorang pegawai administrasi bercerita kepada saya bahwa dia terpaksa membawa pulang pekerjaan ke rumah, menyimpan semua data ke dalam flash disk, lalu melanjutkan pekerjaan yang belum selesai pada malam hari di rumah. Dengan usia yang sudah di atas kepala lima, tentu tenaganya sudah tidak fit lagi kerja lembur di rumah. Oleh karena itu, ketika tiba masa MPP, dia langsung minta istirahat di rumah dan enggan ke kantor lagi.

Fenomena ini berbeda dengan dosen. Kalau saya perhatikan, banyak dosen yang sudah memasuki masa purnabakti, namun masih tetap betah ngantor ke kampus. Meja kerja mereka belum disingkirkan, dibiarkan tetap seperti biasa, atau ruang kerjanya tetap di sana. Ada perasaan segan di kalangan dosen yunior menyingkirkan meja kerja dosen purnabakti. Mereka adalah dosen senior yang sangat dihormati, yang telah ikut andil mengisi kapasitas keilmuan si yunior. Karakter orang Timur memang begitu, menghormati orang tua. Oleh karena itu, selama meja itu belum ada dosen baru yang mengisinya, maka ia tetap dibiarkan di situ. Dosen purnabakti itu masih sering mengunjungi ruang kerjanya, sekedar duduk bercerita, membuka komputer, atau melakukan pekerjaan apapun yang dapat dilakukannya. Pengabdiannya selama puluhan tahun di kampus tidak bisa dilupakan begitu saja. Maka, pihak dekanat tidak pernah mengusik barang-barang mereka, atau melarang mereka menggunakan fasilitas di kampus. Ini berbeda jika anda adalah pegaweai administrasi di kantor lain, begitu anda pensiun maka semua barang-barang anda disingkirkan, meja anda diisi oleh orang baru.

Pada masa-masa sebelumnya, dosen yang sudah purnabakti masih dikaryakan oleh kampus untuk mengajar satu dua mata kuliah, atau membimbing tugas akhir, tesis atau disertasi. Mungkin karena ilmunya masih dibutuhkan atau belum ada penggantinya. Mereka disebut dosen luar biasa, kalau mereka profesor maka disebut profesor emiritus. Ada kebahagiaan yang terpancar pada dosen-dosen purnabakti itu ketika merasa dirinya masih dibutuhkan. Bukan uang yang dikejar, tetapi kepuasan batin yang dicari. Setiap orang di mananpun di dunia pasti merasa dirinya dihargai kala tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan orang, bukan?

Namun sekarang, peraturan selalu berganti-ganti. Dosen yang sudah purnabakti tidak bisa mengajar atau membimbing lagi oleh kampus kami. Tugasnya dianggap sudah selesai. Saya tidak tahu alasannya, apakah karena pertimbangan anggaran atau apa. Yang jelas saya melihat ada raut kekecewaan pada wajah mereka ketika diberitahu tidak boleh mengampu mata kuliah lagi. Padahal, kalau diperbolehkan, mereka masih ingin dikaryakan kembali selama beberapa tahun sampai mereka memang sudah tidak kuat lagi datang ke kampus. Bagi saya yang mempunyai jalan pikiran bebas, selagi dosen purnabakti tersebut masih bersedia mengajar atau membimbing, apa salahnya dikaryakan. Apalagi di lingkungan akademik kami jumlah dosen masih relatif kurang, jatah dosen PNS tiap tahun hanya satu dua orang, sedangkan yang pensiun mulai banyak, maka keberadaan dosen purnabakti masih diperlukan.

Entahlah, suatu hari nanti saya pun akan memasuki kondisi serupa, purnabakti. Saya belum tahu bagaimana kondisi nanti, namun yang sudah pasti saya akan terus menulis selama hayat dikandung badan.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

3 Balasan ke Pensiun (2)

  1. katabusri berkata:

    Tetaplah berkarya pak dosen…

  2. Andik Taufiq berkata:

    Saya berharap suatu saat nanti bisa merasakan diajar oleh Pak Rin lagi.🙂
    Memang tidak dapat disangkal, kalau diajar oleh guru atau dosen favorit itu meninggalkan kenangan tersendiri.

  3. rosyidi berkata:

    meski saya bukan mahasiswa ITB tapi saya senang ada web yang bisa menjadi referensi belajar saya dalam bidang informatika. terima kasih untuk bahan belajarnya pak saya sudah download materi strategi algoritma, matematika diskrit, probabilitas dan statistik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s