Warna-warni Kesenian Minangkabau di Gedung Sabuga ITB

(Tulisan ini sebenarnya agak terlambat di-posting, karena kejadiannya sebulan yang lalu. Meskipun demikian, masih tetap gres saya tulis di sini)

Setiap tahun, menjelang Ujian Akhir Semester, mahasiswa-mahasiswa ITB yang tergabung di dalam Unit Kesenian Minangkabau (UKM) ITB mengadakan malam pagelaran kesenian budaya Minangkabau di dalam kampus. Tempatnya di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB. Penontonnya tidak hanya para mahasiswa di dalam kampus, tetapi juga datang dari mahasiswa lainnya di kota Bandung, khususnya mahasiswa asal Sumbar, dan tentu saja para perantau Minang yang berada dia kawasan Bandung Raya. Bagi perantau Minang di Bandung, acara UKM-ITB ini adalah yang selalu ditunggu-tunggu. Hal ini tampak dari membludaknya penonton, ditandai dari antrean panjang calon penonton di pintu Sabuga dengan memperlihatkan kode pesanan tiketnya yang dipesan secara daring di Internet. Zaman sekarang menjual tiket tidak perlu berupa kertas lagi, tetapi cukup via internet seperti kita membeli tiket pesawat. Tidak hanya itu, jika anda tidak hadir di Sabuga malam itu, pertunjukan pun dapat dilihat dari seluruh dunia karena disiarkan secara live streaming melalui Internet.

Saya datang pada malam itu guna memenuhi undangan para mahasiswa Minang ITB yang saya cintai. Bandung malam itu sangat ramai dan meriah, karena baru saja usai ‘pesta’ perayaaan Konferensi Asia Afrika ke-60. Kawasan Jalan Dago dan sekitarnya macet total, karena beberapa jalan ditutup akibat adanya pertunjukan musik dan karnaval. Jadi, malam pagelaran kesenian Minang dari UKM-ITB itu bolehlah dianggap sebagai ‘ikut meramaikan’ perayaan KAA. Ketika ada seorang rekan bertanya kepada saya, apakah malam keseninan Minang di Sabuga itu dalam rangka KAA? Iya, jawab saya sekenanya sambil tersenyum. Dengan sepeda motor yang tersendat-sendat di sela kemacetan patrah Jalan Tamansari, akhirnya saya sampai juga di Gedung Sabuga.

Asesori-asesori hiasan Minangkabau sudah menyambut tamu menuju pintu Sabuga. Sepasang anak daro-marapulai (pengantin muda-muda Minang) menyambut penonton dengan ramah. Saya menyempatkan berfoto dulu bersama teman saya, seorang alumni ITB yang pernah menjadi Dirut beberapa BUMN semasa Menteri Dahkan Iskan dulu. Sambutan muda-mudi dalam balutan busana tradisionil Minangkabau bagaikan pengkondisian bahwa anda sekarang memasuki kawasan budaya Minang.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Sepasang muda-mudi Minang menyambut penonton masuk ke dalam sabuga.

Jadwal pertunjukan ternyata ngaret dari yang diagendakan. Acara dimulai dengan pembacaan tilawah Al-Quran. Sebagai orang Minang yang taat pada agama dan dengan filosofi adat yang bersendikan pada ajaran agama (Islam), tradisi pembukaan acara dengan membaca kitab Suci Al-Quran sangat jarang kita temukan pada pertunjukan kesinian manapun. Hanya di UKM-ITB itu ada. Tradisi ini sangat baik dan perlu dilestarikan pada setiap pertunjukan dari UKM-ITB.

Setelah beberapa kata sambutan dari beberapa orang, dua orang pembawa acara mulai berceloteh panjang lebar dalam Bahasa Minang yang memancing gelak tawa. Saya mencatat celotehan ini setidaknya memakan waktu hampir satu jam, waktu yang terlalu lama untuk pembawa acara yang tampak terlampau semangat bergurau di atas panggung, lupa bahwa the main course bukanlah lawakan mereka, tetapi atraksi kesenian yang ditunggu-tunggu penonton. Tidak heran jika pertunjukan berakhir sampai hampir tengah malam (23.30 WIB). Ups…, saya sudah membicarakan waktu akhir, padahal tulisan ini baru saja dimulai.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Latar belakang panggung dengan rumah bagonjong dan tampilan video mapping.

Pertunjukan kesenian Minang pada malam itu mengambil setting cerita drama tahun 2040 (wah!). Dikisahkan tentang keluarga perantau Minang di Jakarta mempunyai anak lelaki yang akan diplot menjadi datuk di kampung halaman. Namun persoalannya, di kampungnya juga ada calon datuk lain yang digadang-gadang oleh keluarganya. Persaingan menjadi datuk pun terjadi dengan aneka intrik dan taktik. Di sela-sela kisah drama itu ditampilkan aneka tarian, randai, dendang, musik, dan lagu.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Salah satu adegan drama. Video mapping di latar belakang menambah rancak suasana.

Sejatinya penonton tidak terlalu mementingkan jalan cerita drama yang mudah ditebak dan mengandung pesan-pesan yang mungkin terkesan klise saat ini, yaitu lestarikan adat dan budaya Minang. Pada setiap pertunjukan kesenian Minang di manapun, yang menjadi andalan adalah tari, musik, dan lagu. Kisah drama bolehlah dianggap sebagai pemanis belaka, celoteh bagarah-garah (lawakan) yang memancing tawa bolehlah untuk menghidupkan suasana supaya tidak garing, namun gerak tari dan lagu dengan iringan musik tradisionil itulah yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh penonton di manapun. Jiwa dari kesenian minang adalah musik, tarian (termasuk randai), dan lagu. Jadi, jiwa inilah yang harus mendapat perhatian besar bagi produser acara kesenian Minang di manapun, termasuk para mahasiswa ITB itu.

Tim musik talempong

Tim musik talempong

Gerak tari sungguh rancak dipandang mata, suara musik dan lagu memanjakan telinga. Padu padan tarian dan musik lebih baik dari tahun sebelumnya. Lho, kok tahu? Lha iya, saya selalu menonton acara ini setiap tahun🙂. Hanya sayangnya, seperti kata saya dulu, tarian yang dibawakan tidak pernah berubah, selalu yang itu-itu saja. Hanya personilnya yang berganti, sedangkan koleksi tarian masih yang dulu.

Meskipun demikian, hati sungguh terhibur dengan penampilan yang memukau mata dan telinga. Gerakan yang kompak, ritmis, dan teratur dari para penari membuat penonton tidak beranjak sampai acara selesai. Apalagi di latar belakang dihiasi dengan tampilan video mapping yang membuat acara kali ini penuh warna. Video mapping adalah hal yang bari kali ini, meskipun kepopulerannya di kota Bandung sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu ketika ada pertunjukan video mapping di dinding Gedung Sate.

Foto-foto di bawah ini dapat membawa anda terhanyut dalam warna-warni kesenian Minangkabau seperti yang saya ceritakan.

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari pembukaan, Pasambahan

Tari Indang

Tari Indang

Tari Kipeh Marawa

Tari Kipeh Marawa

Tari Randai

Tari Randai

Tari Rantak

Tari Rantak

Puncak semua tari, Tari Piring

Puncak semua tari, Tari Piring

Para mahasiswa itu telah berhasil menampilkan pagelaran kesenian Minang yang menawan. Apresiasi buat mereka, karena telah mengorbankan banyak waktu latihan di sela-sela kesibukan kuliah yang padat dan berat. Setiap sore dan malam meerka berlatih di sela-sela lantai gedung kampus yang kosong. Meskipun mereka bukan penari dan pemusik profesional, mereka sudah menampilkan pertunjukan kesenian sekelas profesional.

Tahun depan, pertunjukan macam apa lagikah yang akan mereka hidangkan?

Pos ini dipublikasikan di Cerita Minang di Rantau, Seputar ITB. Tandai permalink.

4 Balasan ke Warna-warni Kesenian Minangkabau di Gedung Sabuga ITB

  1. jtxmisc berkata:

    termakasih infonya, sangat bermanfaat , Abla

  2. jtxmisc berkata:

    termakasih infonya, sangat bermanfaat , Africa

  3. yosua maigoda berkata:

    hallo saya yosua mahasiswa seni rupa ikj, mau tanya apakah ada dokumentasi video yang bisa dilihat di internet ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s