Sales Kartu Kredit yang Ulet

Saya seringkali menerima telepon dari sales kartu kredit bank. Kadang-kadang mereka menelpon langsung ke ponsel saya, kadang-kadang menelpon via nomor kantor. Dua bank yang sangat agresif menawarkan kartu kredit tersebut adalah Bank Mand*r* dan Bank B*I, sekali-kali ada juga dari Bank Nia*a. Darimana mereka dapat nomor telepon saya, itu bukan hal mengherankan saat ini. Banyak cara bagi pihak bank untuk mendapatkan nomor telepon pelanggan. Data pribadi kita seperti nama, alamat dan nomor telepon memang ‘berserakan’ di mana-mana, jadi tidak usah heran lagi kalau tiba-tiba saja dapat surat atau telepon dari instansi lain yang menawarkan produk atau jasa.

Kembali ke cerita sales kartu kredit tersebut. Setiap kali saya menerima telepon mereka, saya sudah dapat menduga bahwa mereka menawarkan kartu kredit. Suaranya manis (umumnya wanita), kalimat-kalimatnya seperti sudah dihafal sehingga terdengar kaku. Tanpa banyak lika-liku, mereka langsung ke inti persoalan yaitu menawarkan kartu kredit dari banknya.

Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik memiliki kartu kredit. Kartu kredit satu-satunya yang saya miliki adalah kartu kredit gratis (tanpa biaya administrasi seumur hidup) dari Bank Mand*r*, yang saya miliki karena ditawarkan dari koperasi kampus. Tapi, sesungguhnya kartu kredit tersebut sangat jarang saya pakai. Hanya satu kali saya gunakan ketika memesan hotel untuk liburan. Itu saja, dan sesudah itu tidak pernah lagi sampai sekarang. Pada dasarnya saya tidak suka berutang, saya lebih suka bertransaksi tunai. Membayar transaksi dengan kartu kredit artinya kita ngutang dulu ke bank, bank yang menalangi peembayaran transaksi kita ke pihak merchant, nanti barulah kita membayar tagihan tersebut ke bank sebelum jatuh tempo.

Kadang-kadang saya iseng melihat orang membuka dompet ketika melakukan pembayaran di kasir supermarket. Di dalam dompetnya terlihat banyak sekali kartu kredit dari berbagai bank. Wah, kaya sekali orang itu, punya banyak kartu, he..he… Saya saja satu biji nggak terpakai. Nah, ini ada sales kartu kredit yang tidak henti-hentinya menawarkan kartu kredit. Setiap kali saya tolak, maaf saya tidak tertarik, dia masih belum mau menyerah. Masih saja mencoba untuk meyakinkan saya tentang perlunya memiliki kartu kredit dari banknya, dengan aneka diskon, keunggulan, dan lain-lain.

Sebagian orang langsung menutup telpon ketika dirinya ditelpon sales kartu kredit. Atau, ada juga orang yang meletakkan teleponnya di atas meja membiarkan sales itu ngomong sendiri dan akhirnya berhenti sendiri karena tidak ditanggapi. Halo…halo…. (tutup).

Kasihan juga kalau dipikir-pikir jika orang diperlakukan seperti itu, padahal mereka sedang mencari nafkah juga, sama seperti kita. Saya yakin sales tersebut bukanlah pegawai tetap bank, mereka mungkin tenaga outsourcing yang gajinya dibawah UMR. Tiap hari kerjanya duduk di depan telepon menawarkan aneka produk bank seperti kartu, asuransi, dan sebagainya. Mereka mendapat tambahan gaji yang diperoleh dari komisi bila berhasil mendapat nasabah baru. Jadi, tidak heran mereka begitu ulet menawarkan kartu-kartu itu kepada nasabah.

Terus terang saya kagum dengan orang yang bekerja sebagai sales apapun, termasuk sales kartu kredit. Mereka adalah pekerja keras yang tahan banting. Itu sisi positifnya. Mereka harus tebal muka, harus membuang rasa malu, atau menahan perasaan jika dibentak atau diacuhkan oleh calon nasabah.

Meskipun sering terganggu dengan sales-sales kartu kredit itu, sebaiknya kita tidak perlu bersikap apriori, apalagi membanting telepon dengan keras, membiarkannya ngomong sendiri, dan sebagainya. Katakan saja permohonan maaf bahwa anda sedang ada rapat, sedang ada pekerjaan yang tidak bisa diganggu, atau belum tertarik memiliki kartu itu, sambil mengucapkan terima kasih telah dihubungi. Saya pribadi masih melayani telepon dari sales kartu kredit, namun meminta maaf tidak tertarik untuk saat ini. Saya rasa itu sudah cukup tanpa membuatnya korban perasaan.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

4 Balasan ke Sales Kartu Kredit yang Ulet

  1. adhyasahib berkata:

    dulu juga sering di tlp dari bank yg sama ditawarin bikin kartu kredit juga. kalo disini lain lagi seringnya di tlp untuk ditanyain mau ganti operator gas, listrik, sim card dll🙂

  2. Cinto Paham berkata:

    Terimakasih Pak sudah mengingatkan saya utk lebih menghargai pekerjaan para sales. In syaa Allah lain waktu jika saya menerima tawaran2 dari mereka lagi, saya akan mencoba menolaknya dgn cara yg lebih baik, tidak dengan membiarkan mereka ngoceh sampai terdengar :”… halo….halo….”.(tutup)

  3. michael berkata:

    Saking seringnya menerima tawaran kartu kredit dan KTA, saya sampai secara bawah sadar hapal pola mereka. HP selalu saya silent, jadi kalau ada telepon tidak terdaftar masuk dan nada panggil tetap berlangsung sampai bermenit-menit, sudah pasti itu bank/KTA.

    Kalau rekan bisnis atau teman (yang nomornya tidak terdaftar) pasti merasa sungkan, beberapa detik tidak diangkat pasti dia langsung menutup telepon, karena dia berpikir kita sibuk. Kalau bank/KTA kan tidak peduli orang sibuk atau tidak.

    Biasanya langsung saya blok nomor tersebut.

  4. inforiauco berkata:

    terimakasih infonya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s