Negeri Sodom Abad Modern di Tanah Amerika

Keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan sesama jenis (lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan) sontak membuat dunia heboh. Sebenarnya Amerika bukan yang pertama, legalisiasi pernikahan sesama jenis sudah duluan disahkan di beberapa negara seperti Belanda, Irlandia, Uruguay, dan lain-lain (Baca: Pernikahan Sejenis Legal di 23 Negara Ini). Tetapi, karena Amerika adalah negara besar, maka pengaruhnya tentu sangat besar pula pada negara lain di seluruh dunia. Apa yang terjadi di Amerika akan menjalar ke tempat lain dan mungkin akan ditiru pula di negara lain, cepat atau lambat. Hanya di negara-negara yang konservatif yang memegang teguh ajaran agama peraturan itu akan mendapat perlawanan keras.

Simbol pelangi mewakili kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Simbol pelangi mewakili kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender)

Semua agama menentang pernikahan sesama jenis. Tetapi di Amerika, dan juga di negara-negara Barat lainnya, agama telah dicampakkan oleh banyak warganya. Agama tidak lagi menjadi tuntunan hidup, agama tinggallah sebagai perayaan seremoni belaka. Kebebasan, kesetaraan, dan HAM menjadi ‘agama’ baru bagi warga Barat. Kalau melihat fenomena di dunia Barat di mana gereja-gereja sudah sepi ditinggalkan penganutnya, maka tidaklah mengherankan jika pernikahan sesama jenis mendapat dukungan besar warganya, terutama dari kaum mudanya.

Anehnya di Indonesia ada pula kalangan selebriti yang bangga dengan pengesahan pernikahan sesama jenis itu. Sebut saja seperti penyanyi Sherina dan sutradara Joko Anwar yang menuliskan cuitan di Twitter sebagai sebuah kemajuan peradaban. Ah, artis-artis semacam itu tidak perlu lagi menjadi tuntunan dan tontonan, karena mereka mendukung perbuatan dosa besar. Orang yang mematuhi ajaran agama tidak mungkin akan menyetujui pernikahan sesama jenis.

Hubungan sesama jenis adalah perbuatan yang nyata-nyata dilarang oleh Allah SWT. Banyak sekali ayat di dalam Alquran maupun di dalam Bibel yang menceritakan kisah umat Nabi Luth di kota Sodom. Ummat Nabi Luth melakukan perbuatan liwath yang terlarang, yaitu menyalurkan syahwat lelaki kepada lelaki dan perempuan kepada perempuan. Karena perbuatan ummat Nabi Luth itu, maka Allah SWT membinasakan kaum ini dengan membalikkan kotanya.

Sekarang, kisah kaum Sodom itu muncul lagi pada abad modern dengan dalih kebebasan dan kesetaraan. Negara memfasilitasi orang-orang melakukan liwath. Mungkin ini merupakan tanda-tanda akhir zaman. Bukan tidak mungkin azab Allah akan muncul kembali kepada negeri Sodom modern. Wallaahu alam.

Gay dan lesbian adalah perilaku yang sebagian besar terjadi karena pergaulan. Sangat jarang gay dan lesbian itu karena faktor genetik. Seseorang yang bergaul dengan kaum homoseksual akan cenderung mempunyai perilaku yang sama. Maka, boleh saya katakan kalau gay dan lesbian adalah perilaku menular. Pada zaman sekarang pergaulan anak muda begitu bebasnya, gay dan lesbian sudah menjadi gaya hidup. Banyak anak muda Indonesia yang ikut-ikutan menjadi homoseksual karena salah pergaulan. Sekali masuk ke dalam dunia itu, sukar untuk keluar.

Jika pernikahan homoseksual sudah menjadi hal yang legal, sukar membayangkan bagaimana dunia nanti. Keluarga pasangan gay dan lesbian apabila ingin mempunyai anak, maka mereka melakukannya dengan cara adopsi atau donor sperma. Konsep keluarga akan menjadi kacau. Seorang anak akan melihat “ayah ibu”-nya dari jenis kelamin yang sama. Mana ayah dan mana ibu sudah tidak jelas lagi. Anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis mempunyai peluang besar meniru kelakuan orangtuanya.

Saya memang orang yang konservatif. Saya tidak perlu bermodern-modern soal yang satu ini. Mereka, pendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis, mengatakannya sebagai kemajuan peradaban. Mengutip seorang teman, kehancuran peradaban biasanya dimulai ketika ia melawan fitrah kehidupan. Pernikahan sesama jenis adalah perbuatan yang melawan fitrah kehidupan.

Pos ini dipublikasikan di Dunia oh Dunia. Tandai permalink.

28 Balasan ke Negeri Sodom Abad Modern di Tanah Amerika

  1. renput berkata:

    justru ini kemunduran peradaban ya pak, justru dilarangnya pernikahan lawan jenis dalam islam adalah suatu kemajuan peradaban. Wallaahu alam.

  2. Indomoto berkata:

    Ini kemajuan yang mundur

  3. Informatikawan berkata:

    Kayaknya orang Indonesia ngga perlu buang2x tenaga ngimpi mengenai Gay Marriage, mending kita fokus ngurusin keadaan yg skg di beberapa tempat di Indonesia (dan kecenderungannya semakin hari semakin bertambah) dimana orang mau beribadah sesuai keyakinannya saja makin bertambah sulit, orang yang mau mencari nafkah dengan berjualan makanan pada saat bulan puasa harus berhadapan dgn aparat hukum, perempuan yang karena satu dan lain hal harus pulang malam beresiko terkena razia aparat. Nah yg kayak gini kemajuan peradaban juga, Pak ?

  4. @royandanroyan berkata:

    Naudzubillah tsumma naudzubillah… Kalau memang ini adalah awal dari kehancuran america (dengan dilegalkannya pernikahan sejenis) maka sebaiknya kita tunggu beberapa saat lagi saja. Wallahu a’lam…

  5. Adi Setiadi berkata:

    Naudzubillah tsumma naudzubillah.. hal ini menunjukan kemunduran peradaban yang dibangun barat. Momentum yang tepat bagi peradaban islam untuk bangkit, seperti bangkitnya peradaban Islam saat zaman jahiliyah dulu.. akhir zaman…

  6. abiaimar berkata:

    Bukankah dunia ini berputar? Akan ada zaman dimana suatu yang salah menjadi benar dan yang benar dipersalahkan.

    Ketika zaman itu mulai datang maka tinggal tunggu azab Allah.

  7. gantungsiwur berkata:

    Begitulah jika orang tidak beragama, kemunduran dikira kemajuan kasian banget nauzubillah min dzalik, yaa muqollibal qulub tsabits qolbi ‘ala diinik wa’ala tho’ata

  8. nelly berkata:

    Ugh, sepertinya bapak banyak kurang paham ya soal masalah ini. Biar saya jelaskan sedikit.
    Amerika itu negara sekular, artinya bukan negara yang berdasarkan suatu agama tertentu. Harusnya sangat bersukur karena Amerika itu sekular, karena jika berdasarkan suatu agama tertentu, seperti Kristen, maka kaum muslim bakal susah hidup disana, mereka akan memiliki hak2 yang kurang dibanding kaum Kristen.

    Karena sekular inilah, artinya agama dan pemerintahan tidak bisa dicampurkan. Semua orang memiliki hak. Sebagian aliran Kristen memang melarang gay, tetapi karena Amerika tidak berdasarkan agama Kristen, maka ia tidak memiliki hak untuk melarang kaum gay melakukan pernikahan.
    Dan, perlu ditekankan mengenai pernikahan itu sendiri, karena ini berdampak luas. Dengan menikah, maka pasangan gay memiliki hak-hak yang sama dengan pasangan straight. Hak-hak seperti warisan, gaji, medis, seperti mendampingi pasangan di rumah sakit, dsb.
    Hal ini penting dibanding alternatif lain yang hanya membatasi pernikahan gay sebatas status saja.
    Hal ini disebut equality, karena kaum gay juga seharusnya memiliki hak-hak yang sama dengan kaum straight, dan seharusnya pemerintah tidak mengacu kepada suatu agama tertentu saja (seperti disebutkan diatas, jika pemerintah diisi oleh hal-hal agama, maka Islam/agama lain akan susah disana).

    Setelah itu, saya ingin meluruskan padangan yang salah tentang “semua agama yang melarang gay”. Dalai Lama, seorang pemimpin Buddha, mensupport gay marriage. Beberapa gereja di US mensupport kaum gay dengan alasan bahwa Bible tidak menentang hubungan gay. Beberapa aliran baru Judaisme, juga tidak menentang hubungan gay.
    Bahkan di Indonesia, beberapa adat menganggap gay adalah sesuatu yang normal, seperti kaum bugis, beberapa adat jawa, dan papua (Bisa digoogling mengenai hal ini).
    Jadi, salah kalau mengatakan bahwa semua agama menentang gay.

    Saya juga ingin mengoreksi bahwa gay itu bukan terjadi karena pergaulan. Logikanya kalau pergaulan, maka gay akan muncul di tempat2 tertentu saja, tapi buktinya tidak. Saya seorang gay, sudah mengetahui kalau saya berbeda sejak kecil, tidak ada unsur pergaulan ketika saya merasa menjadi gay. Dan kalau memang dari pergaulan, maka di tempat2 yang mayoritas kaum gay, akan susah ditemui kaum straight, karena virus gay akan menyebar ke orang straight. Tapi ini juga tidak terbukti, karena di tempat2 yang mayoritas gay seperti San Francisco, California, dsb, straight tetap menjadi nomor satu.
    Dan coba tanyakan, jika gay adalah virus, kenapa straight juga tidak? Jika ketertarikan xxxual menjadi suatu virus, kenapa susah buat orang straight menyembuhkan orang gay? Kan logikanya, sebarkan saja virus straight ke orang gay. Kan gampang!
    Buktinya kan tidak seperti itu. Ketertarikan gender biasanya sudah dibentuk sejak kecil. Bukan tentang xxx ya, tapi ketertarikan terhadap gender, apakah itu sesama / lawan / semua jenis.
    Misalkan ketika kita kecil, kita “suka” (tanda kutip) sama teman kita A, kita tidak memikirkan tentang xxx ya? Kita hanya tertarik kepada orang itu. Mohon dipisahkan antara xxx dan ketertarikan gender. XXX adalah aktivitas di tempat tidur, sementara ketertarikan gender adalah ketika kita “menyukai” seseorang, mencintai seseorang sebagai partner equal.

    Dan kenapa banyak orang menilai pergaulan lah yang menyebabkan banyak kaum gay?
    Logikanya begini, ketika kita sendiri, sendiri, kita akan takut, bersembunyi (seperti kebanyakan kaum gay yang sebenarnya banyak, tapi mereka bersembunyi karena takut dengan hujatan masyarakat). Ketika kita bersama-sama, ketika seorang gay berkumpul dengan orang gay lainnya, tentunya rasa percaya diri akan muncul. Keberanian akan muncul, bahwa kita tidak sendiri. Hal ini dianggap sebagian orang sebagai hasil pergaulan. Padahal, mereka sudah menjadi gay sebelum bergaul.

    Kalimat ini juga salah “Anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis mempunyai peluang besar meniru kelakuan orangtuanya. “. Tidak ada korelasinya. Buktinya adalah sebaliknya. Kaum gay kan lahir dari orang tua yang straight. Justru ketika seorang anak dididik untuk menghargai sesama manusia tidak terlepas apakah orang itu gay / straight, kulit hitam/putih, islam/kristen, justru itu lebih baik kan? Toleransi kan?

    Kalau bapak mau jadi konservatif boleh saja, tapi apakah berarti tidak mau belajar? Contohnya, apakah tetap keukeuh dengan bahasa C, dan tidak mau mengetahui bahasa lain seperti Objective-C, C#, dll?
    Konservatif boleh, tetapi kemudian ketika ditunjukkan kesalahan dalam pengetahuan, tidak seharusnya menjadi bangga. Bukankah menjadi ilmuwan sejati itu berarti kita harus mau menerima ketika pengetahuan kita salah? Kecuali kalau tidak menganggap sebagai ilmuwan ya.

    Mengenai hal ini : ” Pernikahan sesama jenis adalah perbuatan yang melawan fitrah kehidupan. ”
    Apakah itu fitrah kehidupan? Apakah untuk memiliki keturunan? Tujuan hidup terbesar itu apakah untuk memiliki keturunan? Sangat sayang sekali kalau hanya itu ya. Memang memiliki keturunan adalah sesuatu yang sangat bagus, saya setuju dengan ini, tapi pendek sekali pikiran kita kalau itu menjadi fokus hidup kita. Ada hal lain dalam hidup. Pasangan gay memang tidak bisa memiliki keturunan secara alami seperti kaum straight, tapi apakah itu menjadi titik yang menentukan bahwa hidup mereka tidak setara dengan kaum straight? Apakah ketika sesudah memiliki keturunan, tujuan hidup sudah selesai?

    Seorang anak tentunya butuh kasih sayang orang tuanya, dan kaum gay bisa memberikan ini sama seperti kaum straight, terlepas apakah anak itu melalui donor atau adopsi. Kasih sayang lebih penting dibandingkan darah. Banyak juga kaum straight yang berketurunan secara alami, tapi tidak bisa mengurus dengan baik. Keturunan darah daging, meskipun sesuatu yang bagus, tidak seharusnya menjadi patokan dalam menilai keharmonisan, kasih sayang keluarga.

    Mohon dipikirkan.

    • Surel berkata:

      percuma dijelaskan panjang lebar. Wong kalau udah homophobic yah uda gak bisa sadar.

      Lagipula, homophobic itu terjadi karena dasar pergaulan loh.. Lol..

    • yn berkata:

      Cobalah berfikir sejenak, kalau kamu pernah satu kali saja dalam hidup kamu mempertanyakan jati dirimu dan kamu merasa bingung, maka sebenarnya dalam diri kamu ada pertentangan lahir dan batin. Islam tidak mengatakan lgbt sebagai virus. Islam adalah agama yg mengajarkan untuk saling menghormati. Pergaulan memang. bukan satu-satunya cara masuk kedalam dunia lgbt. tetapi mungkin kamu pernah mengalami suatu gejolak, trauma, atau pertentangan dalam diri kamu entah itu saat kamu kecil atau saat remaja. Dalam keluarga ataupun kelompok pertemanan. terkadang rasa kekecewaan dan rasa takut yang timbul dalam hidup bisa memvuat suatu pemikiran atau rasa khusus itu timvul. terutama remaja lelaki. mereka sering kali mnggunakan logika, ketika. dirundung masalah jelaa sesama teman lelaki lebih cepat ‘klik/nymbung” ketimbang harus curhat dgn perempuan yg lbh mnggunkn perasaan ktimbang logika. rasa ketertarikan bisa jadi muncul disini. tapi sesungguhnya rasa tertarik itu pda awalnya hanyalah rasa senang dan kagum karena ada yg masih peduli dan mengerti. namun lambat laun karena minim antisipasi dan adanya kemauan untuk terus bersama tanpa mencoba sesuatu yg ditakuti atau menjadi trauma akhirnya rasa itu disebut cinta. yakinlah sebenarnya dalam hati terdalam kamu yang lalu masih ada kalimat, “sebernya aku juga. tidak ingin begini” / “bkan cinta yang salah tetapi aku akan mencoba memahami takdirku”.:)

  9. Pradipta Yuwono berkata:

    Mahkamah Agung AS melegalkan pernikahan LGBT karena menggunakan dasar ilmiah bukan menggunakan dasar kitab suci. WHO telah mengeluarkan Homoseksual dari daftar penyakit kejiawaan sejak tahun 90-an. Memang sains akan terus berubah sepanjang masa, tapi saat ini akan melanggar konstitusi AS jika Mahkamah Agung AS melarang sesuatu yang belum ada bukti ilmiahnya, karena menurut konstitusi AS adalah negara sekuler bukan negara agama. CMIIW.

    • Eko berkata:

      Elu ga usah mencari pembenaran dah,,,elu Gay??elu tau ga,ada yg ga beres dlm diri lu??sadar lu,,,,pahamai kitab suci jangan banyakin ngemut k**nt*l mulu,,,

      • Surel berkata:

        Ini lah contoh orang yg lebih suka kebencian daripada persahabatan.
        Homophobic merajarela di Indonesia guys! Salut untuk yang rela dimakan para Harimau homphobic demi mendukung sesama gay! Pengorbanan kalian adalah semangat untuk kami!

  10. tom berkata:

    LGBT……belajarlah dari kaum sodom dan gomorah…..

  11. radentony berkata:

    hukum mati aja lah homo bikin jijik,,,,fitrah pala lo pitak penyakit jiwa sama mental di bilang fitrah udah ada contoh njing ,,,,kaum homo di berantas di azab msh ngeyel sini ngomong ama gw gw pecahin pala lo seneng gw bunuh homo sekalian dah bunuh penyakit menular laknat

  12. daniel berkata:

    Tinggal hitungan hari tidak lama selruh dunia akan melegalkan… itu sudah pasti terjadi, ya karena memang sudah dinubuatakan.. fokus kita sekarang ya jangan sampai ikut-ikutan ;D

  13. Astagfirullahalladziem…sepertinya panggung dunia sebentar lg akan usai (kiamat)

  14. Ika Borjun berkata:

    Dalam Kitab Suci tertulis hubungan sesama jenis spt laki2 dg laki2 disebut kekejian.. kitab Imamat. Kemesuman laki2 dg laki2 adlh sesat..kitab Roma. Pemburit tsb tidak mndapat tempat dlm Kerajaan TUHAN.. kitab 1 Korintus
    Jelas salah satu lasan mgp sodom dan gomora dimusnahkan

  15. tri berkata:

    Paling banyak oleh karena pergaulan perilaku tersebut.kecenderungan untuk hal itu masih bisa diatasi asal ada niat dan usaha.Hak asasi boleh diutarakan tapi kita hidup tidak bisa sendirian.Remaja sangat rentan terpapar itu dengan alasan menghindari terjadinya kehamilan jika melakukan seks bebas dengan sesama nya,tetapi yang tidak masuk dalam pemikiran mereka penyakit apa yang bisa datang dengan perilaku seks yang seperti itu.IMS,HIV-AIDS serta kru2 nya siap menerkam.Dengan kembali dengan tuntunan agama kita masing2 insyaAlloh selamat….

  16. djaenal berkata:

    Bejad….udh gk bener…agama adalah filter kehidupan…mari jaga keluarga kita dengan iman dan taqwa…

  17. Ping balik: Ulil, LGBT, dan Al-Quran | Catatanku

  18. Surel berkata:

    Terima kasih untuk kaum homophobic yang sudah siap mengusir kami disini, dengan bully bahkan sampai membunuh (contohnya di komen). Dengan ini kami sadar kalau hati kalian memang penuh dengan kebencian.

    Homophobic itu terjadi karena pergaulan, bukannya homo yang terjadi karena pergaulan. Haha

  19. mawaddah berkata:

    Betul sekali. Saya sangat setuju. Bahwa donor sperma tidak sama dengan donor darah. Nasab keluarga betapa sangat pentingnya. LGBT bukanlah kemajuan peradaban, melainkan kemunduran ke era jahiliyyah. Na’udzubillaah min dzaalik

  20. niswahlayyinah berkata:

    LGBT sama sekali bukan perilaku modern dan bukan kemajuan peradaban. Spt anda sebutkan d atas, kaum sodom sudah melakukannya beribu-ribu abad yang lalu. Trus darimana sisi modernnya?
    Heran jg melihat sherina dan joko anwar mengatakan ini sbg kemajuan peradaban. Bukankah agama melarang LGBT krn mmg ini sdh terjadi sjk dulu dan merupakan prilaku manusia purba tak beradab. Logikanya klo agama sdh melarang sjk dl krn berbagai mudhorotnya (sampai Allah mengazab para pelaku LGBT saking murkanya) brrti agama lbh cerdas dr liberalitas kaum barat kan masa kini kan?
    Justru ini kemunduran peradaban. Modernitas dan kemajuan teknologi seharusnya dipakai untuk mendekatkan diri kpd Allah dan bukan malah sebaliknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s