Anak Yatim Berhak Menerima Zakat?

Seorang rekan senior bertanya kepada saya, apakah saya mudik pada lebaran tahun ini? Tidak, jawab saya, karena saya sudah tidak punya orang tua lagi di kampung halaman. Wah, kalau begitu anda yatim piatu dong, katanya. Anda berhak menerima zakat tuh, katanya setengah bercanda.

Ha..ha, jelas tidak. Setahu saya anak yatim bukanlah salah satu dari delapan asnaf (orang yang berhak menerima zakat). Dari pelajaran agama yang saya ketahui ada delapan golongan asnaf, yaitu fakir (orang yang tidak memiliki harta), miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), riqab (hamba sahaya atau budak), gharim (orang yang memiliki banyak hutang), mualaf (orang yang baru masuk Islam), fisabilillah (pejuang di jalan Allah), ibnu sabil (musyafir dan para pelajar perantauan), dan amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat) (sumber: Inilah 8 Golongan Orang Yang Berhak Menerima Zakat)

Karena anak yatim bukan salah satu dari delapan asnaf, maka mereka tidak berhak menerima zakat, sebab anak yatim berada di bawah tanggungan orang yang berzakat (keluarganya atau famili dekat/jauh). Saya pernah membaca jawaban Pak K.H Miftah Farid (ulama tawadhu dari Bandung) tentang pertanyaan apakah anak yatim boleh menerima zakat. Jawaban Pak Miftah, kalau memberi zakat karena keyatimannya jelas tidak boleh. Namun kalau memberi zakat kepada anak yatim karena kemiskinannya, maka itu boleh.

Nah, kalau alasannya karena anak yatim itu miskin, saya sepakat (atau bisa diperluas jika ia banyak utang, fisabilillah, ibnu sabil, dst). Soalnya, anak yatim belum tentu semuanya miskin lho. Banyak juga anak yatim dari keluarga berada, mereka yang menjadi yatim karena ditinggal ayah/bundanya, namun memiliki warisan yang lumayan untuk bekal hidupnya. Saya ini sekarang anak yatim piatu, namun saya punya penghasilan memadai dan orangtua kami meninggalkan warisan yang cukuplah buat kami para anaknya, jadi saya merasa bukan salah satu dari delapan asnaf.

Yang menyedihkan, banyak lembaga sosial yang mengatasnamakan anak yatim memasang spanduk menerima zakat dan shadaqah. Jika tidak hati-hati, bisa salah paham dengan menganggap anak yatim berhak menerima zakat karena keyatimannya itu. Petugas penerima shadaqah/zakat di suatau lembaga amil zakat yang mengatasnamakan anak yatim pernah saya tanya tentang hal ini, tapi tampaknya dia tidak mengerti dengan mengatakan bahwa anak yatim kan boleh menerima zakat.

Tentu saja boleh, namun sekali jangan salah niat memberi zakat karena faktor keyatimannya, namun karena kemiskinannya. Karena kemiskinannya itu maka ia tidak mampu membayar biaya sekolah, misalnya. Supaya tidak salah paham, biasanya ketika saya memberi uang kepada anak yatim atau lembaga amal yatim, maka saya meniatkannya bukan atas nama zakat, tetapi atas nama sadaqah. Nah, kalau sadaqah bisa buat siapa saja, termasuk anak yatim.

Masalah ini menurut saya sama dengan pertanyaan apakah masjid boleh menerima zakat? Coba perhatikan, banyak Panitia Pembangunan Masjid memasang spanduk di jalanan bahwa masjidnya menerima titipan zakat, infaq, dan sadaqah untuk menyelesaikan pembangunan masjid. Karena masjid bukan manusia, maka masjid tidak termasuk salah satu dari delapan asnaf. Mungkin yang lebih tepat adalah memberikan sumbangan ke masjid atas nama waqaf, lebih tepatnya waqaf pembangunan masjid.

Pos ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

3 Balasan ke Anak Yatim Berhak Menerima Zakat?

  1. Jejak Parmantos berkata:

    Setuju Pak. Makanya ada istilah ‘menyantuni anak yatim’. Sedang ‘menyantuni’ dan ‘menzakati’ itu berlain makna. Menyantuni lebih dari sekedar menzakati, karena menyantuni itu bermakna menghidupi, menyiapkan segala kebutuhan si anak yatim.

  2. michael berkata:

    Berarti saya juga berhak menerima zakat dong pak, sebagai “orang yang banyak hutang”. Karena sebagai pengusaha, hutang saya banyak pak, sekitar USD 6 juta, hehe…

    Kadang-kadang saya berpikir, ironis ya, bahkan office boy di kantor saya lebih kaya daripada saya yang pemilik perusahaan..

  3. adhyasahib berkata:

    wah saya baru tau kalo anak yatim gak bisa diberi zakar kecuali krn kemiskinannya. terima kasih atas informasinya. kalo muallaf bisa terima zakat tapi seandainya muallafnya berkecukupan bisa mengeluarkan zakat juga kan ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s