Radikalisme Ada pada Semua Agama

Kasus pembubaran sholat Ied dan pembakaran kios serta masjid oleh massa Gereja Injili di Indonesia (GIDI) di Tolikara, Papua, semakin menegaskan bahwa radikalisme ada pada hampir semua agama. Biasanya sebutan radikalisme selalu disematkan pada ormas atau kelompok Islam yang oleh media tertentu sering disebut sebagai massa intoleran. Sekarang semakin jelas bahwa radikalisme tidak memandang bulu dan keyakinan. Pada kasus agama Budha, kelompok radikal itu tergambar pada kelompok bhiksu dan massa radikal yang dikoordinir oleh Bhiksu U Wirathu di Myanmar. Mereka mengusir kaum muslim Rohignya, membunuh, dan membakar semua harta bendanya. Sedangkan di India, kelompok radikal Hindu menghancurkan Masjid Babri yang dipercaya sebagai tempat kelahiran Dewa Rama.

Pembakaran kios dan masjid di Tolikara, Papua, pada saat sholat Iedul Fitri (Sumber gambar: MetroTV news)

Pembakaran kios dan masjid di Tolikara, Papua, pada saat sholat Iedul Fitri (Sumber gambar: MetroTV news)

Ketika suatu agama mayoritas di suatu tempat, maka gejala radikalisme itu lebih mudah tumbuh sebagai bentuk eksistensi untuk mempertahankan eksklusivisme daerahnya sebagai penganut agama mayoritas. Kelompok yang radikal ini merasa “terancam” atau terusik dengan umat agama minoritas yang dianggap berulah atau macam-macam. Mereka melakukan pembatasan dan pelarangan, yang apabila tidak dipatuhi maka penyelesaian akhirnya adalah dengan jalur kekerasan. Apa yang terjadi di beberapa daerah mayoritas Islam di Indonesia, di Myanmar dan di Tolikara adalah adalah contoh nyatanya.

Namun saya yakin kelompok yang ekstrim ini jumlahnya minoritas. Tidak semua umat dalam agama itu setuju dengan kelompok radikal. Mayoritas umat setiap agama itu berada di tengah-tengah, tidak di ujung kiri (ekstrim kiri) atau tidak di ujung kanan (ekstrim kanan). Yang di tengah-tengah itu, yang jumlahnya mayoritas, lebih menginginkan hidup tenang, rukun dan damai, adem tentrem kerta rahardja, beribadah dan bekerja dengan tenang, ketimbang berkonflik yang hanya menghasilkan kebencian dan permusuhan.

Khusus kasus di Tolikara, dari penuturan orang-orang di Papua, mereka menyatakan bahwa tidak ada masalah dalam hubungan umat beragama di Papua. Papua termasuk daerah yang menjadi contoh kerukunan umat beragama, selain Manado yang saya tahu. Tidak pernah ada perang antar agama di Papua, yang ada hanyalah perang antar suku. Jadi, kejadian di Tolikara tidak mencerminkan karakter orang Papua yang pada dasarnya lemah lembut.

Jadi, radikalisme atau ekstrimisme bukanlah ajaran hakiki agama manapun. Tidak ada agama yang mengajarkan ummatnya melakukan kekerasan kepada orang lain yang tidak seagama, kecuali jika anda diserang.

Pada dasarnya orang Indonesia itu bisa hidup rukun damai dengan orang yang berbeda suku dan agama. Lihat saja di daerah-daerah yang multi agama seperti di Sumut, Sulut, NTT, Kalteng, Maluku, dll, mereka damai-damai saja. Mereka sudah berabad-abad hidup dengan keberagaman itu. Kerusuhan berbau SARA muncul ketika ada provokator dari luar yang memanas-manasi. Maluku contohnya.

Boleh saja kita berbeda agama dan keyakinan. Namun yang sering kita lupakan adalah bahwa kita ini masih satu bangsa dan satu tanah air, sama-sama hidup di Indonesia, sama-sama warga negara Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Agama. Tandai permalink.

3 Balasan ke Radikalisme Ada pada Semua Agama

  1. toto berkata:

    Sepakat, tiap umat beragama pasti ada yang radikal, mungkin ada yg sifatnya minor bisa juga mayor, namun dari sekian banyak agama cuma agama Islam yang selama ini selalu dikaitkan dengan radikalisme oleh pemerintah dan media massa kita yang notabene sebenarnya masih berisikan mayoritas umat islam itu sendiri, sementara kasus2 radikalisme oleh agama lain thd umat islam seperti sengaja disembunyikan, atau mungkin tetap dipublikasikan namun dengan konten yg berbeda dengan realita.

  2. Ruth Martini berkata:

    peristiwa tolikara cuma segelintir/kecil dibanding pembakaran greja-greja dan penyerangan pengrusakan selama ini oleh umat islam berlalu begitu aja beritanya hanya satu;dua hari beritanya langsung hilang…mari kita masing-masing intropeksi diri knapa ini bisa trjadi..

  3. partogi2014 berkata:

    Kalau dikatakan semua agama memiliki unsur radikalisme, tidaklah benar. Dalam Ajaran Agama Kristen, terutama dalam Perjanjian Baru, dapat kita lihat bahwa Yesus Kristus tidak membenarkan adanya kekeraan. Agama Kristen mengajarkan KASIH, kasih kepada semua. orang yang memusuhi kitapun harus kita kasihi, makanya dikatakan doakanlah musuhmu. Di atas penulis memberikan contoh Tolikara. Dalam hal ini penulis tidak memahami dan tidak mengetahui sama sekali kronologis peristiwa Tolikara. Dan banyak orang hanya membahas peristiwanya dan tidak pernah membahas kronologisnya, sehingga pada akhirnya yang disalahkan orang tertentu. Sebenarnya pemicunya adalah oknum tertentu yang berlaku arogan kepada masyarakat. Dan perlu diketahui, bahwa masyarakat tidak pernah memiliki keinginan untuk membakar musollah di Tolikara, namun karena berada disamping kios-kios, akhirnya ikut terbakar. Jadi jangan menyamakan Islam dengan Agama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s