Kerepotan Pagi

Awal masuk sekolah dimulai lagi tanggal 27 Juli kemarin, setelah sebulan lamanya libur panjang Ramadhan dan Idul Fitri. Itu artinya rutinitas pagi, yang saya sebut kerepotan pagi, dimulai kembali. Tiga anak saya yang masih sekolah semuanya masuk pukul 7 pagi, tetapi sekolahnya tidak ada yang sama, lokasinya saling berjauhan. Pagi-pagi sekali mereka harus sudah siap usai sholat Shubuh. Jadi, setelah sholat shubuh semuanya antri untuk mandi, sementara saya dan istri menyiapkan sarapan, memasak, dan menyiapkan bekal makan siang yang akan dibawa ke skolah. Istri juga menyiapkan dirinya untuk bekerja ke kantor, sementara anak yang bungsu masih minta disuapi makan. Praktis jam-jam padat dan sibuk di rumah saya adalah jam 5 subuh hingga jam 6.30 pagi. Pak pik puk, inilah rutinitas pagi dari Senin sampai Jumat di rumah kami, lalu Senin sampai Jumat lagi, begitu seterusnya.

Jam 6 pagi anak yang kedua sudah siap saya antar dengan motor ke tempat angkot untuk berangkat ke sekolahnya, kadang-kadang bareng berangkat sama ibunya. Jam 6.15 pagi, giliran si sulung siap dijemput oleh ojek langganan untuk diantar ke sekolahnya yang berjarak 8 km. Setelah itu saya melanjutkan menyuapi si bungsu sarapan, dan jam 6.30 dia sudah siap diantar ke sekolahnya (masih dekat rumah). Jam 7 pagi tinggallah saya sendiri di rumah karena istri dan anak-anak sudah berada di tempat aktivitasnya masing-masing. Jam 9 pembantu harian datang, dan sayapun siap-siap pergi ke kampus.

Kerepotan yang rutin setiap pagi saya nikmati saja dengan senang hati. Suatu masa nanti, setelah mereka sudah besar dan sudah mandiri, saya mungkin tidak bisa menikmati lagi rutinitas ini. Ada masa dimana mereka tidak membutuhkan kerepotan kita lagi, karena mereka sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Mereka sudah dewasa, menikah dan berpisah tempat tinggal dengan kita. Tinggallah orangtua di rumah dibalut rasasepi ditinggalkan anak-anaknya.

Jadi kepada orangtua, ketika anak-anakmu masih kecil, nikmatilah rutinitas mengasuh dan membesarkan mereka dengan kasih sayang. Kasih sayang orangtua itu akan berbekas pada anak-anak kita, mereka tidak akan lupa hal itu, sebagaimana kita selalu terkenang dengan kasih sayang orangtua. Tidak perlu marah-marah karena repot, tidak perlu snewen karena anak lelet atau masih ingin santai. Nikmati saja semua itu sebagai bentuk amal ibadah. Semua kerepotan itu akan dirindukan suatu hari nanti, ketika anda sudah tua.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado, Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s