Sudah Masuk Sekolah Favorit tetapi kok Tetap Ikut Bimbel?

Sewaktu saya mengambil rapor anak di sekolahnya pada akhir semester yang lalu, beberapa lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) membagikan brosur bimbelnya kepada orangtua yang masuk ke dalam kelas. Sambil menunggu wali kelas datang membagikan rapor, saya baca-baca brosur tadi. Cukup banyak lembarannya. Satu lembaran brosur menarik perhatian saya karena berisi daftar nama-nama siswa yang ikut bimbel lengkap dengana nama sekolahnya. Betapa terkejutnya saya, di dalam daftar tersebut banyak sekali nama siswa dari sekolah negeri favorit (SMP dan SMA) di Bandung. Lembaga bimbel tersebut seperti ingin menegaskan bahwa siswa-siswa bimbelnya adalah anak-anak pintar dari sekolah favorit. Semacam promosi barangkali. Secara etika menampilkan nama-nama siswa serta sekolahnya di brosur jelas melanggar privasi. Tetapi, ya sudahlah, di negeri ini antara privasi dan publik tidak jelas batasnya.

Bukan masalah etika yang saya persoalkan, tetapi saya merasa ada yang salah dengan kondisi ini, khususnya di kota Bandung ini. Anak-anak yang bersekolah di sekolah favorit itu sudah terseleksi secara ketat dari ribuan pendaftar ketika PPDB. Secara umum mereka anak-anak yang cerdas, NEM atau SKHUN mereka tinggi-tinggi. Kalau tidak tinggi, tentu mereka tidak bisa masuk ke sekolah yang disebut masyarakat sebagai sekolah favorit itu. Bersekolah di sekolah favorit memang kebanggaan tersendiri bagi siswa dan orangtua. Iklim belajar yang kompetitif, kualitas siswa, dan daya juang siswa-siswanyalah yang membuat sekolah tersebut unggul. Ketika masuk perguruan tinggi terkemuka seperti ITB, mereka seperti bedol desa saja, banyak banget yang diterima.

Namun, anehnya, setelah masuk sekolah favorit itu, kenapa mereka masih ikut bimbel lagi sepulang sekolah? Tidak cukupkah pelajaran dari guru-guru mereka di sekolah? Kemana rasa percaya diri mereka yang begitu tinggi ketika diterima pertama kali masuk sekolah itu?

Saya tidak anti dengan bimbel (anak saya juga ikut bimbel), tetapi saya merasa ada yang salah dengan sekolah-sekolah itu. Bimbel sebenarnya untuk anak-anak yang lamban menangkap pelajaran, kurang cepat mengerti, dan masih perlu tutor (pengajar bimbel) untuk membuat pelajaran sekolah lebih mudah dipahami. Anak-anak yang pintar sebenarnya tidak membutuhkan bimbel lagi, namun kenapa mereka masih ikut bimbel? Bagi lembaga bimbel, mendapatkan siswa pintar apalagi dari sekolah favorit tentu menguntungkan. Mengajar siswa pintar lebih mudah darpada mengajar siswa yang lamban. Siswa-siswa bimbel yang pintar itu nanti akan mendongkrak nama lembaga bimbel ketika anak-anak itu kelak diterima di sekolah favorit tahap selanjutnya atau diterima di perguruan tinggi terkemuka, yang diklaim sebagai hasil didikan lembaga bimbelnya. Mereka akan memasang iklan dan berpromosi bahwa siswa-siswa bimbel mereka banyak diterima di sekolah favorit atau PTN ternama. Makanya tidak heran, banyak lembaga bimbel yang memberikan diskon harga masuk bagi siswa-siswa yang mendapat ranking di sekolah, supaya mendapat lebih banyak siswa pintar yang akan menaikkan nama bimbel mereka nanti.

Akhirnya saya menemukan jawaban kenapa siswa-siswa dari sekolah favorit itu masih tetap bimbel meskipun nama sekolah mereka sudah menggambarkan keunggulan siswanya. Setelah mendengar cerita beberapa orangtua yang anaknya bersekolah di sekolah favorit di Bandung, akhirnya saya bisa paham. Masuk sekolah favorit bukan berarti guru-gurunya juga bagus mengajar, malah banyak yang pikasebeulen kata orang Sunda (artinya menyebalkan). Orangtua siswa sering mengeluh guru sering tidak masuk kelas. Jika guru tidak masuk, maka kadang-kadang tugasnya digantikan oleh guru piket yang menyuruh membaca bab ini atau mengerjakan bab itu. Siswa sering dilepas belajar sendiri. Untung saja mereka pada dasarnya sudah pintar sehingga tidak ada gurupun mereka masih mampu belajar sendiri.

Di sekolah anak saya yang bukan sekolah favorit, etos kerja gurunya tidak jauh berbeda dengan sekolah favorit tadi. Ada guru yang sering bolos mengajar. Macam-macam saja sebabnya, misalnya menjadi instruktur bagi guru-guru di kota lain, ada rapat di kantor Dinas Pendidikan, atau tugas lain yang intinya membuat siswanya terlantar. Ketidakhadiran guru di kelas sering ditambah lagi dengan rapat-rapat guru di sekolah sehingga kelas kosong. Karena sering tidak masuk kelas, maka beberapa materi pelajaran akhirnya tidak sempat diajarkan. Guru hanya mengatakan kepada siswa untuk mempelajari sendiri bab-bab yang tidak sempat diajarkan di rumah. Untung saja saya masih ingat dengan pelajaran sekolah, sehingga malam hari sepulang dari kampus saya ‘terpaksa’ mengajari anak saya materi pelajaran yang tidak sempat diajarkan gurunya karena sering bolos tersebut. Bagaimana dengan orangtua lain yang tidak mengerti pelajaran anaknya di sekolah, tentu tidak bisa berbuat yang sama seperti saya. Parahnya lagi, tidak ada kordinasi antar guru pelajaran yang sama di kelas paralel lainnya padahal soal ujian sama untuk seluruh kelas paralel, sehingga ketika ujian tengah semester atau ujian akhir kenaikan kelas, banyak soal yang materinya belum diajarkan akhirnya keluar. Tentu saja siswa merasa dirugikan, tapi mau bagaimana lagi, mau protes tidak ada gunanya.

Nah, kembali tentang siswa sekolah favorit tadi. Mungkin karena tidak puas dengan pengajaran guru di sekolah, akhirnya anak-anak itu lari ke bimbel. Selain itu mungkin karena tuntutan untuk meraih NEM tinggi agar dapat diterima di sekolah lanjutan favorit, atau untuk menaikkan nilai rapor agar diterima di PTN jalur undangan (SNMPTN). Guru-guru zaman sekarang merasa enak karena terbantu dengan adanya Bimbel. Mereka tidak perlu repot-repot mengajar muridnya di sekolah, toh nanti anak-anak itu akan belajar materi yang sama di Bimbel. Saya menangkap kesan guru-guru di sekolah favorit merasa “dimanjakan” dengan kondisi siswa-siswanya yang pintar-pintar, sehingga mereka tidak perlu susah-susah mengajar. Bahkan bolos mengajar pun tidak apa-apa, karena toh siswanya bisa belajar sendiri atau ikut bimbel. Hal ini tentu saja jalan pikiran yang keliru, karena siswa tidak mendapat haknya .

Saya melihat banyak sekali perbedaan etos kerja antara guru-guru di sekolah negeri dengan guru-guru sekolah swasta. Saya tahu hal itu karena dulunya anak saya bersekolah di sekolah swasta. Di sekolah swasta, khususnya sekolah swasta yang berkualitas, semuanya sudah sistematis dan terkordinasi dengan rapi. Semua siswa mendapat haknya (pengajaran). Tidak ada guru yang suka bolos mengajar. Semua materi pelajaran tuntas untuk semua kelas, soal ujian sama, bahkan soal latihan pun sama dan tercetak dengan rapi. Hasil-hasil ujian dibagikan secepatnya dan orangtua mendapat laporan prestasi belajar. Sayangnya di sekolah negeri tidak begitu, bagaimana gurunya saja mengajar atau memberi pelajaran. Padahal, dilihat dari sisi kesejahteraan, guru-guru sekolah negeri yang notabene PNS itu lebih sejahtera daripada guru-guru sekoalh swasta, termasuk sekolah swasta yang bagus sekalipun. Gaji guru-guru PNS sekarang cukup besar, mereka juga mendapat tunjangan sertifikasi guru yang bnesaranya satu kali gaji. Namun, sayangnya peningkatan kesejahteraan tidak berbanding lurus dengan kualitas belajar-mengajar.

Mindset masyarakat kitalah yang mengkotak-kotakkan antara sekolah negeri favorit dan sekolah non favorit. Yang membuat sekolah itu menjadi favorit lebih banyak disebabkan oleh kualitas siswanya yang sudah unggul dari sononya. Sementara, kualitas pengajaran dan SDM guru-guru di sekolah itu tidak jauh berbeda dengan sekolah negeri lain yang tidak favorit, sebagaimana yang saya ceritakan di atas. Jadi, karena tidak puas dengan pengajaran guru di sekolah, akhirnya murid-murid itu masih ikut bimbel lagi.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Bandung. Tandai permalink.

7 Balasan ke Sudah Masuk Sekolah Favorit tetapi kok Tetap Ikut Bimbel?

  1. yudiprtm berkata:

    Setuju pak,
    Sedangkan sekolah yang favorite (anggapan masyarakat) aja kondisinya seperti itu,
    Solusinya apa ya pak? agar predikat favorit tadi benar2 teimplementasikan dengan baik?
    Terimkasih pak

  2. achmedtaufan berkata:

    Salam kenal pak rinaldi
    Saya izin share pak

  3. Ferry berkata:

    Hmmm. saya dulu juara kelas selama 3 tahun di SMA dan selama 3 tahun itu pula selalu ikut bimbel hehe. Alasannya setuju dengan pak Rinal. Kalau belajar di sekolah saja, saya dulu merasa kurang pak hehe. Jadi harus nambah di bimbel. dan dulu seperti ada kepedean tersendiri klo anak-anak yang bimbel seperti selangkah lebih maju hehe.

  4. ikhwanalim berkata:

    mungkin soal dari sekolah kurang banyak pak.
    bimbel biasanya punya banyak bank soal.

  5. djayantinakhla28 berkata:

    Bwetulll, setuju bangett. Perlu pembenahan.

  6. Eko berkata:

    Mendapatkan prestasi setinggi tingginya adalah hal dasar yang dicari oleh manusia, jadikanlah prestasimu berguna buat masyarakat karena itu yang akan ditinggalkan oleh kita sebelum dipanggil pencipta dan dikenang oleh ketururunan kita.

  7. efrat berkata:

    Pak, apa ada suatu lembaga/badan pengawas atau hal lain yang berguna untuk meninjau langsung kualitas para guru pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s