Keterpurukan Rupiah dan Sikap Takabur Pengamat Ekonomi

Saya sedang membaca-baca kembali tautan berita tentang nilai kurs dolar dikaitkan dengan pemenang Pilpres. Pilpres memang sudah lama selesai, tetapi hari ini terlihat betapa bahayanya sifat takabur manusia yang mendahului Tuhannya.

Tautan berita pertama, Bank Asing: Percaya Atau Tidak, Dolar Turun ke Rp 10.000 Kalau Jokowi Presiden.

Tautan berita kedua, Jokowi Jadi Presiden, Rupiah Bisa Tembus 10 Ribu.

Nyatanya? Hari ini nilai dolar sudah tembus Rp13.800. Ini nilai terendah sejak 17 tahun terakhir (Rupiah Sentuh Rp 13.747, Nilai Terlemah 17 Tahun Terakhir). Bukan tidak mungkin nilai rupiah akan terus melemah hingga mencapai Rp20.000 per dolar. Ada joke yang mengatakan, jangan-jangan tanggal 17 Agustus 2015 nanti nilai dolar sudah mencapai Rp17.815, sebuah angka keramat!

Saya termangu-mangu saja membaca kembali semua tautan brita di atas. Ekonom yang sesumbar, yang menyatakan nilai rupiah akan membaik mencapai hingga Rp10.000 per dolar jika Jokowi menjadi Presiden, mungkin saaat ini sudah tiarap, malu sendiri dengan semua perkataannya yang salah. Bahkan ada ekonom yang mengatakan jika Prabowo Menang, Rupiah Berpotensi Tembus 13 Ribu. Sekarang, dengan kondisi nilai dolar yang sudah mencapai lebih Rp13.000, siapa yang menjadi Presiden, Jokowi atau Prabowo?

Tentu saja jika Prabowo yang menang, kurs dolar belum tentu akan lebih baik, bisa jadi malah lebih buruk. Tiada yang tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Hanya Tuhan yang tahu. Jangan mendahului takdir, apalagi jika tujuan membuat pernyataan tersebut untuk mempengaruhi opini orang tentang seorang capres sembari menanamkan citra buruk kepada capres lainnya. Sekarang terbukti Tuhan menjungkirbalikkan kesombongan manusia.

Dengan nilai dolar yang sudah tembus Rp13.800, sudah sangat terasa perekonomian negara menjadi lesu. Daya beli masyarakat menjadi turun, PHK massal segera membayang. Jika tidak disikapi dengan cepat, kenaikan dolar ini bisa merembet ke mana-mana yang ujung-ujungnya adalah chaos. Ingat, peritiwa kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 dimulai dengan kejatuhan nilai rupiah dari semula Rp3000 per dolar menjadi lebih dari Rp12.000 per dolar.

Memang kita tidak berharap Presiden Jokowi diturunkan di tengah jalan seperti tahun 1998 dulu. Kondisi tahun 1998 dan 2015 jauh berbeda. Sekarang masyarakat kita sudah jauh lebih terdidik dan menyikapi kenaikan dolar itu tidak dengan emosional. Sejauh yang saya amati, kondisi di tengah masyarakat tampak biasa-biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa (atau tidak peduli?) dengan keterpurukan nilai rupiah. Atau, mungkin pemahaman saya yang salah, mungkin masyarakat sudah pasrah dengan keterpurukan ekonomi sehingga menerima saja apa yang akan terjadi.

Meskipun kondisi di lapangan tampak biasa-biasa saja, tapi kondisi ini ibarat api dalam sekam, tidak bisa dibiarkan. Jika Pemerintah tidak bergerak cepat mengatasi kenaikan dolar, bukan tidak mungkin api di dalam sekam akan membara. Pemerintah jangan terkesan lepas tanggung jawab seperti pernyataan konyol menteri keuangan ini: Rupiah Tembus Rp13.500, Menkeu: Bukan Tanggung Jawab Pemerintah. Kalau Pemerintah tidak mau bertanggung jawab, lalu siapa lagi? Kenaikan dolar yang terus menanjak ini adalah lampu merah buat Pemerintah. Krismon jilid dua mungkin akan terulang.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Keterpurukan Rupiah dan Sikap Takabur Pengamat Ekonomi

  1. djayantinakhla28 berkata:

    Kerennnn banget sudut pandangnya. Jempol dua.

  2. djayantinakhla28 berkata:

    Eh iya, salam dua jempolšŸ˜€

  3. adhyasahib berkata:

    nice posting! duh iya ya rupiah makin melemah ini, jadi takut masa2 krismon dulu terulang kembališŸ˜¦

  4. Eko berkata:

    Apakah masih memuja Dollar dibandingkan Rupiah, momentum ekonomi kreatif dibutuhakan sekarang ini, dollar poduk asing yang bisa dipermaikan oleh mereka, banggalah akan negaramu dan kreatiflah dengan pikiranmu untuk memajukan bangsamu.

  5. Nusantara berkata:

    Gara gara dollar yah begini, semua bisa dimanfaatkan mafia masalah ekonomi.
    http://news.detik.com/berita/3000584/polisi-ada-3-importir-yang-powerful-mengendalikan-harga-daging-sapi

    Biarkanlah dollar naik seetinggi-tinginya, agar pemerintah berpikir kalau mau cari utang, mengurangi mafia import, mengurangi barang import, termasuk BBM, saatnya membangun industri lokal. kita yang sudah di anugrahi kekayaan alam dan juga sumber daya manusia. saatnya kreatif dan tidak disuap olah produk import dan menjadi broker.

  6. michael berkata:

    menurut saya BAGUS sekali momen ini.

    Agar bangsa Indonesia menyadari pentingnya membangun produk lokal yang bisa di-ekspor!!!
    TEKNOLOGI, TEKNOLOGI, TEKNOLOGI!!!!

    Tidak bosan-bosannya saya berteriak, bagi generasi muda Indonesia, belajarlah teknologi!!!

    Belajarlah Teknologi informasi, manufaktur, energi, elektronika, permesinan, kapal dan UAV!!!! masadepan ada disitu!!

    Bikin produk lokal yang bisa diekspor!!

    Di masa sekarang, para importir dan agen/distributor pada mampus, sukurin lo!!! ,

    TAPI eksportir dan outsource teknologi (manufacturer, software, elektronika) BERJAYA!!!!! INCOMENYA DOLLAR!!!!!! expense-nya rupiah!!!

    POSITIVE THINKING!!! Jangan hanya bisa menyalahkan pemerintah !!! apa yang kita bisa buat dimasa sekarang ini!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s