Metafora Hidup Manusia

Manusia ini dipenuhi dengan banyak urusan dan masalah setiap waktunya. Selesai satu urusan, muncul lagi urusan baru, demikian seterusnya tidak pernah berakhir. Kehidupan kita ini pada dasarnya menyelesaikan aneka urusan dan masalah yang datang silih berganti. Hanya jika kita sudah mati maka semua urusan dan masalah itu berakhir. Orang-orang yang tidak kuat menanggung beban hidup di dunia ini memilih mengakhiri hidupnya sebelum waktunya tiba.

Ada banyak urusan hidup yang datang pada setiap diri manusia, ada urusan besar dan ada urusan kecil. Urusan besar misalnya hubungan kita dengan Tuhan, dengan keluarga, dengan orangtua, dengan anak, dengan istri. Urusan sedang misalnya berhubungan dengan pekerjaan, teman, sahabat, dan lain-lain. Urusan kecil misalnya bersenang-senang, rekreasi, hobby, makan di luar, dan lain-lain.

Kadang-kadang kita lebih mengutamakan urusan kecil dibandingkan urusan besar. Kita lebih mengutamakan pekerjaan di kantor daripada mendidik anak. Kita lebih mengutamakan mengurus hobby kita ketimbang memperhatikan keluarga. Ada banyak manusia seperti itu. Akhirnya yang terjadi adalah kekecewaan dan penyesalan.

Sebuah cerita di bawah ini yang mengandung metafora dan inspirasi saya peroleh dari sebuah sharing di media sosial. Apa yang lebih diprioritaskan di dalam hidup ini, dan bagaimana mengelolalnya? Sebuah mtafora yang bermakna bagi saya, dan mungkin juga anda.

~~~~~~~~~~~~

Seorang guru besar berdiri di depan audiensnya memulai materi kuliah dengan menaruh stoples bening dan besar diatas meja. Lalu sang guru mengisinya dengan bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, sudah penuh kah?

Audiens menjawab, sudah penuh.

Lalu sang guru mengeluarkan gundu (kelereng) dari kotaknya; dituangkannya gundu-gundu tadi ke dalam stoples, gundu mengisi sela-sela bola tenis hingga tidak muat lagi. Beliau bertanya, sudah penuh kah?

Audiens menjawab, sudah penuh.

Lalu sang guru mengeluarkan pasir pantai; memasukkannya ke dalam stoples tadi. Pasir mengisi sela-sela bola dan gundu hingga tidak bisa muat lagi. Semua sepakat stoples sudah penuh dan tidak ada yg bisa dimasukkan lagi.

Tapi, terakhir sang guru menuangkan secangkir air kopi, masuk mengisi stoples yg sudah penuh bola, gundu, dan pasir itu.

Kemudian beliau bertanya. Apakah pesan yang dapat diambil dari permainan ini?

Lantas beliau menjelaskan sendiri jawabannya. Hidup kita kapasitasnya terbatas seperti stoples. Tiap kita berbeda ukuran stoplesnya.

Bola tenis adalah hal-hal besar dalam hidup kita, yakni tanggung jawab terhadap Tuhan, orangtua, istri, anak-anak serta makan, tempat tinggal, dan kesehatan.

Gundu adalah hal-hal yg penting seperti pekerjaan, kendaraan, sekolah anak, gelar sarjana, dll.

Pasir adalah yang lain-lain dalam hidup kita, seperti olah raga, nyanyi, rekreasi, Facebook, BBM, nonton film, model baju, model kendaraan dll.

Jika kita isi hidup dg mendahulukan pasir hingga penuh, maka gundu tidak bisa masuk. Berarti hidup kita hanya berisi hal-hal kecil. Hidup kita habis dengan rekreasi dan hobby, sedangkan Tuhan dan keluarga terabaikan.

Jika kita isi dengan mendahulukan bola tenis, lalu gundu dan seterusnya seperti tadi, maka hidup kita berisi lengkap, mulai dari urusan besar, penting hingga hal-hal yang menjadi pelengkap.

Lesson learned-nya adalah: kita mesti mengelola hidup secara cerdas dan bijak, tahu menempatkan mana yg perioritas dan mana yg menjadi pelengkap.

Jika tidak, hidup bukan saja tidak lengkap, bahkan bisa tidak berarti sama sekali.

Lalu sang guru bertanya, adakah kalian yang mau bertanya. Semua audiens terdiam, karena sangat mengerti apa inti pesan dalam pelajaran tadi.

Namun, tiba-tiba seseorang nyeletuk bertanya. Apa arti secangkir air kopi yg dituang tadi..?

Sang guru besar menjawab sebagai penutup. Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturrahmi sambil minum kopi dengan tetangga, teman, sahabat yg hebat.

~~~~~~~~

Demikianlah metafora dalam mengelola prioritas hidup yang sebaiknya kita lakukan.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Hikmah, Renunganku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Metafora Hidup Manusia

  1. Avib Subarkah berkata:

    “Sepenuh dan sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupa masih bisa disempurnakan dengan bersilaturrahmi sambil minum kopi dengan tetangga, teman, sahabat yg hebat.”
    hahaha kalo diantara mereka ada yg ga suka kopi gimana ?? overall bagus tulisannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s