Seberapa Mahal Tarif Dokter Gigi?

Jika berobat ke dokter gigi, saya pasti membawa uang lebih banyak daripada mengunjungi dokter umum atau dokter spesialis. Tahu sendiri kan, tarif dokter gigi terkenal mahal. Mungkin zat/obatnya yang mahal atau alatnya yang mahal, tak tahulah mana yang lebih dulu, atau dua-duanya?

Kalau mau ongkos yang agak murah bisa saja saya pergi ke Puskesmas atau ke klinik medika kampus, atau ada yang menyarankan ke klinik dokter ko-as (calon dokter gigi) dekat kampus Unpad. Tapi karena ini sudah sore/malam hari maka tidak ada pilihan lain kecuali ke klinik dokter swasta. Puskesmas dan medika kampus sudah tutup sore hari.

Ceritanya begini, suatu sore menjelang malam saya membawa anak saya yang giginya berlubang ke klinik dokter swasta di kompleks perumahan. Sebelumnya sama dokter ini juga sih, dan sekarang disuruh datang lagi untuk memeriksa (kontrol| gigi lain yang disinyalir pada pemeriksaan terdahulu sudah berlubang. Saya sudah tahu tarifnya lebih mahal daripada tarif dokter gigi yang lain, tetapi karena sudah kadung sama dokter ini sebelumnya, maka dilanjutkan saja.

Dokter bilang bahwa di satu gigi anak saya ada tiga lubang, lalu di gigi lain satu lubang. Jadi ada empat lubang, dan dia menyarankan untuk ditambal. Langsung saya iyakan saja. Kesalahan saya adalah tidak menanyakan berapa ongkos semuanya, dan kesalahan dokter adalah tidak menyebutkan berapa ongkosnya sebelum minta persetujuan orangtua.

Tidak lama proses menambal lubang di dua gigi tersebut, hanya sekitar 20 menit sudah selesai. Setelah beres, saya tanya berapa (ongkosnya)?

“Sembilan ratus ribu”, jawab dokter itu tenang.

Ha? Saya nyaris tidak percaya, saya tanya lagi mungkin saya salah dengar. Jawabannya sama. Saya minta penjelasannya kenapa besar sekali.

“Semua ada empat lubang, pak, satu lubang tarifnya Rp225.000”, jelasnya tanpa rasa “bersalah”.

Saya tidak enak berdebat lama-lama. Saya tidak membawa uang sebanyak itu, tidak menyangka ongkosnya hampir mencapai sampai satu juta rupiah. Setengah berlari saya menuju ke ATM terdekat untuk mengambil uang tunai sambil tetap tidak percaya kok semahal itu. Biasanya tarif pengobatan gigi kan dihitung per gigi, jadi satu gigi ongkosnya sudah jelas. Ini yang ditambal dua gigi tapi tarifnya bujubune. Memang di satu gigi ada tiga lubang dan di gigi lain satu lubang. Jadi, si dokter menghitung tarifnya berdasarkan jumlah lubang, bukan jumlah gigi yang ditambal.

Bagi saya yang PNS ongkos sebesar itu jelas tidak sedikit. Mahal pisan. Saya menyerahkan uang tersebut agak kurang ikhlas, agak keberatan gitu, tapi enggan mau protes lagi. Cepat-cepat saya keluar. Kata-kata si dokter untuk kontrol lagi minggu depan tidak saya gubris, sudah terlanjur mangkel, lebih baik cari dokter gigi yang lain saja nanti.

Dokter gigi memang suka-sukanya mereka menetapkan tarif. Tidak ada standardnya. Mungkin biaya kuliah kedokteran gigi yang mahal membuat dokter gigi ingin cepat “balik modal” dengan menetapkan tarif sesuka hati? Entahlah.

Mungkin benar juga mahal murah itu relatif bagi setiap orang. Di Jakarta seorang teman bilang ada dokter gigi yang tarif prakteknya satu juta per gigi, tetapi tetap saja banyak pasiennya. Mungkin faktor kepuasan kali, sehingga mereka tidak mempermasalahkan tarif yang semahal itu.

Namun bagi saya yang gajinya tidak besar, tetap saja ongkos periksa gigi yang barusan terasa sangat mahal. Untung sekarang ada BPJS sehingga nanti kapan-kapan saya pakai BPJS saja. Tapi, apa klinik dokter swasta mau menerima BPJS? Entahlah.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

9 Balasan ke Seberapa Mahal Tarif Dokter Gigi?

  1. assa berkata:

    Oih, yo maha bana mah da Rinaldi…

    Ka baa lai da, mungkin iyo dek biaya kuliahnyo maha. Kama2 kalau ka dokter spesialis emang maha juo da.
    Askes bana bisa manolong 300 ribu kini ko nyo da, dan pelayanannyo pun kurang pueh wak da…

  2. Dhefa Rizal berkata:

    terima kasih telah menyajikan informasi yang sangat bermanfaat, silahkan kunjungi juga situs kami untuk berkonsultasi

  3. Waw ternyata segitu ya tarif ke dokter gigi,
    , sangat penting nih artikel ini buat pengalaman ku nanti! Terimakasih atas sarannya dan refensinya

  4. ogik berkata:

    Pak Rinaldi, salam kenal….
    Saya pernah berobat ke dokter gigi (di sebuah klinik dokter praktek bersama) di kota kami, sebenarnya bukan karena sakit gigi, hanya periksa rutin dan membersihkan karang gigi. Setelah selesai, saya agak kaget, biaya jasa dokternya enam ratus ribu, padahal kalau berobat di dokter gigi praktek pribadi paling tiga ratus ribu-an. Walaupun biaya berobat saya ditanggung semua oleh perusahaan, tetap saja ada perasaan nggak rela…

  5. ade nob berkata:

    Sbnrnya mahal atau murah relatif.. Sbg perbandingan di ausie tarif utk menembel gigi sktr 2000 dolar ke atas.. Bygkan dgn tarif di indonesia yg ga sebrp.. Pdhl bahan2 dan alatnya smua impor di mana harganya sgt bergantung dari nilai tukar rupiah.. Belum lagi ilmu dan tingkat kesulitan mengerjakan gigi di dalam mulut pasien..
    Jadi saya rasa wajar saja malah sbnrnya pasien di indonesia hrsnya bersyukur tarifnya cuma segitu.. Yg membedakan kita dgn di luar negri adalah krn mayoritas org indonesia tdk menganggap penting kesehatan giginya jadi apa yg berhubungan dgn kesehatan giginya dianggap “mahal”..
    Sbg analogi utk membuat lubang gigi sebesar 1 mm diperlukan wkt krg lbh 1-2 bln.. Jika lubang sdh besar dan ditarik jutaan tentunya wajar saja.. Coba hitung brp rupiah dan “kelalaian” yg sdh divuang percuma utk “merusak” gigi tsb.
    Mohon maaf bila ada kata2 yg krg berkenan, saya hanya menyampaikan opini.

  6. Rino berkata:

    lain kali gak usah ke dokter gigi pak tapi tukang gigi aja kan cuma masalah tarif bukan masalah kesehatan

  7. Salma berkata:

    Terlalu mahal. Klo pak rino terlalu ssombong anda menanggapinya, klo anda org mampu tak seberapa, klo yg sm sekali gak punya uang, dan utk makan saja sulit, apa tanggapan anda masih sprti itu. Mahal, yg semahalnya 300 sampe 400 ribu msh masuk akal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s