Kenangan Rendang Kurban

Dulu ketika orangtua saya masih hidup, setiap usai Hari Raya Idul Adha saya selalu mendapat kiriman randang (rendang) daging kurban dari ibu saya yang tinggal di Padang. Keluarga kami di Padang selalu mendapat daging kurban, karena ayah saya yang berprofesi sebagai penjual daging, selalu diminta bantuannya oleh panitia Iedul Adha di masjid untuk memotong-motong daging sapi. Sebagai “upahnya”, maka orang-orang yang membantu pemotongan dan pendistribusian daging kurban mendapat sebagian daging kurban. Daging sapi itulah yang dimasak menjadi rendang oleh ibu saya.

Ketika ayah saya pensiun dari pekerjaannya, maka gantian mereka yang berkurban 1/7 bagian sapi ke panitia Idul Adha di masjid. Biasanya kaum muslimin yang ikut berkurban akan mendapat sebagian dari daging sapi dari panitia, daging itulah yang dimasak ibu saya menjadi rendang. Rendang barokah, karena daging kurban itu barokah.

Randang buatan ibu saya harum baunya, homemade, buatan tangan sendiri. Ibu saya yang orang Solok pandai memasak rendang yang enak. Kelapanya ditakar sekian butir sehingga pas rasanya. Bumbu-bumbunya seperti kunyit, bawang, cabe, lengkuas, dan lain-lain dihaluskan dengan batu lado. Ibu mamasak rendang selama berjam-jam sampai berwarna hitam, dagingya empuk dengan bumbu yang meresap. Kadang-kadang ada ati sapi di antara dagingnya. Rendang itu tahan selama berbulan-bulan asal tahu cara menyimpannya.

Ibu saya selalu ingat saya dan kakak saya yang kuliah di Bandung. Maka, sebagian rendang itu dikirimnya ke Bandung. Rendang dikemas di dalam kaleng susu dan dikirim via jasa Titipan Kilat (sekarang Tiki). Dua hari dikirim dari Padang paket rendang itu sudah sampai di Bandung.

Sesampainya randang ini langsung dipanaskan, demikian bunyi secarik kertas di dalam paket rendang. Tulisan itu ditulis tangan dengan gaya tulisan orang yang pernah mengenyam pendidikan sekolah rakyat pada zaman kemerdekaan. Kadang-kadang untuk membuat paket itu terlihat besar dan padat, maka selain rendang ibu saya menyisipkan makanan lain seperti samba lado merah, karupuak jangek (kerupuk kulit), bahkan kerupuk jariang (jengkol) kesukaan saya🙂.

Setiap mendengar kabar saya mendapat kiriman rendang, teman-teman saya yang satu SMA pun datang ke tempat kos untuk mencicipi rendang kurban. Saya cukup membeli nasi putih saja di warung Sunda, maka makan bersama pun menjadi hal menyenangkan. Kadang kalau mereka yang mendapat kiriman rendang, saya yang gantian datang dan makan di tempat kos mereka.

Sekarang semuanya tinggal menjadi kenangan.

Allahummaghfirlaha war hamha wa afihi wa’fuanha waj alil jannata matswaaha. Allahummaghfirlahu war hamhu wa afihi wa’fuanhu waj alil jannata matswaahu. Semoga almarhum ayah dan ibu saya bahagia di akhirat sana. Rendangnya tidak pernah tergantikan dan akan selalu teringat sepanjang hidup saya. Saya bisa berhasil saat ini salah satunya karena rendang kurban itu.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Kenangan Rendang Kurban

  1. Jejak Parmantos berkata:

    Suka sekali dengan kisahnya… Rendang barokah, insyaAllah.

  2. Istanamurah berkata:

    ya benar sekali bahwa kenangan manis bersama keluarga tidak akan tergantikan dengan apapun indahnya yang ada di dunia ini termasuk saat bersama mendapat daging qurban..🙂

  3. Mardianis Anis berkata:

    Pak Rinaldi , sy selalu mengikuti catatan 2 pak Rinaldi .kadang sy sabak menahan haru, terkadang kisah yg di tulis kok hampir sama dg kisah hidup dan perjalanan sy, kebetulan sekali sy juo urang solok. kini bakarajo di kementerian pertanian,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s