Jokowers vs Haters

Pilpres 2014 sudah lama berlalu, tetapi “perang dingin” antara kelompok pendukung Jokowi dan kelompok yang dulu mendukung Prabowo tampaknya masih belum padam. Setidaknya hal ini dapat dilihat dari komentar-komentar di media sosial atau media daring setiap kali ada isu atau berita yang menyangkut kinerja Presiden RI, Joko Widodo. Dari komentar-komentar itu kita dapat membaca apakah seorang netizen merupakan pendukung Jokowi atau tidak-penyuka Jokowi.

Netizen yang sering atau selalu membela Jokowi, baik membela kinerja maupun kebijakannya, diistilahkan dengan sebutan Jokower. Jokower ini ada pula kelas-kelasnya, baik pendukung yang membabi buta (fanatik) yang selalu mendukung apapun yang dilakukan Jokowi, tak peduli kebijakan itu berlawanan dengan opini umum seperti kebijakan Jokowi menaikkan harga BBM, keputusan Jokowi mengangkat pejabat Polri yang terindikasi korupsi, dan lain-lain. Tetapi ada pula Jokower yang moderat yang dulu pendukung Jokowi ketika Pilpres, tetapi saat ini tetap memiliki sisi obyektifitas untuk selalu kritis jika kebijakan Jokowi dianggap kurang elegan. Selain kedua kelas tadi ada pula kelompok Jokower yang dulu memilih Jokowi ketika Pilpres namun sekarang lebih banyak memilih diam atau tidak berkomentar ketika kinerja Jokowi tampak mengecewakan.

Para netizen yang dulu mendukung Prabowo dan sekarang selalu memandang negatif Jokowi diistilahkan oleh netizen dengan sebutan haters. Istilah haters ini sebenarnya kurang tepat karena terlalu menyederhanakan, namun sudah terlanjur dipakai kepada pihak yang mengkritisi Jokowi. Padahal, netizen yang mengkritisi Jokowi belum tentu seorang pembenci (haters) pak Jokowi, atau belum tentu juga dulu ketika Pilpres dia pemilih Prabowo. Boleh jadi dia melihat ada kebijakan Jokowi yang salah atau kurang tepat, lalu mengomentari dengan pendapatnya. Tapi naas, para Jokower yang fanatik dengan cepat melabeli si pengkritik ini sebagai haters, lengkap dengan tudingan seperti “belum move on“, “belum ikhlas”, atau yang paling menyebalkan “jika tidak mau dipimpin oleh Jokowi, pindah saja ke negara lain”.

Di musim asap kebakaran hutan yang melanda Sumatera dan Kalimantan saat ini, Jokowi menjadi sasaran tumpahan amarah dan kekesalan orang-orang yang tidak menyukainya. Bagi haters, Jokowi dianggap hanya bisa blusukan melihat-lihat kebakaran hutan, difoto lalu disebarkan oleh media pendukung, tanpa ada solusi yang konkrit bagaimana memadamkan kebakaran yanga asapnya telah membuat tepar warga di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Jokowi dianggap hanya melakukan pencitraan semata, begitu kata kelompok yang disebut haters itu. Jokower yang marah dengan komentar haters tersebut langsung memberi tanggapan yang beragam yang sifatnya membela tindakan Jokowi.

Selain keprihatinan tentang asap, femonena terpuruknya rupiah terhadap dolar juga menjadi amunisi untuk “menyerang” Jokowi. Perlambatan ekonomi yang diakibatkan keterpurukan rupiah dianggap sebagai kegagalan Jokowi. Bisa ditebak bahwa meroketnya dolar itu menjadi ajang perseteruan berikutnya antara Jokower dan haters. Sebagian haters yang ekstrim mungkin ada yang berharap rupiah semakin terus terpuruk sehingga krisis ekonomi yang membayang menjadi kejatuhan Pemerintah (seperti kejatuhan Soeharto tahun 1998) akan terulang kembali. Tentu kekacauan yang timbul akibat krisis ekonomi ini sama sekali tidak kita inginkan. Haters yang model begini tidak diharapkan, sebab keinginanya hanya menyengsarakan rakyat saja.

Sekarang rupiah sudah mulai membaik terhadap dolar, para Jokower tentu gembira, rakyat juga gembira, namun sebagian haters mengatakan bahwa membaiknya rupiah adalah karena faktor eksternal, bukan karena kebijakan Jokowi. Haters yang lain memilih diam saja. Menurut saya, suka atau tidak, membaiknya nilai rupiah adalah karena sentimen positif yang disebabkan faktor eksternal dan faktor internal. Harus diakui ada faktor kebijakan Pemerintah Jokowi di dalamnya, selain peran Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter .

Dikaitkan dengan peta politik di DKI, pendukung Jokowi umumnya juga adalah Ahoker alias pendukung Ahok yang sekarang menjadi Gubernur DKI. Jokowi dan Ahok dulu ketika Pilkada DKI memang satu paket, maka pendukung Jokowi secara implisit juga adalah pendukung Ahok (yang akan mencalonkan diri lagi menjadi Gubernur DKI). Sebaliknya, kelompok yang disebut haters itu pada umumnya juga tidak menyukai Ahok. Jadi, makin serulah perang dingin antara Jokower (dan juga Ahoker) dengan haters di dunia maya.

Namun, kita juga tidak boleh melupakan silent majority, yaitu kelompok masyarakat yang tidak mau diidentifikasi sebagai Jokower atau haters. Mereka adalah kelompok yang di tengah-tengah yang lebih banyak diam tak bersuara, tidak peduli, tidak suka politik, atau tidak mau ambil pusing. Mereka ini jumlah suaranya sangat besar, dan nanti akan diperebutkan setiap ada Pilkada atau Pemilihan Umum.

Fenomena Jokower vs haters akan selalu kita rasakan sampai akhir kepemimpinan Jokowi. Mereka akan selalu ada dan meramaikan lalu lintas silang sengketa di dunia maya. Baik Jokower maupun haters memiliki media pendukung masing-masing. Sebagian media arus utama cenderung menjadi bumper Jokowi, baik disampaikan secara mulu-malu atau terang-terangan. Sebagian media arus utama yang lain menjadi media rujukan para haters karena sifat pemberitaanya yang cenderung kritis terhadap Jokowi, namun tetap malu-malu atau terang-terangan menampakkan diri sebagai media penentang Jokowi, karena terlalu beresiko.

Apakah fenomena Jokower vs haters ini baik? Jawabannya bergantung pada cara melihatnya. Bisa baik jika perbedaan pendapat itu dianggap wajar saja sebagai bagian dari kebebasan berpendapat. Baik Jokower maupun haters anggap saja sebagai dua kelompok yang saling menyeimbang. Mendiamkan saja atau mengaminkan saja terhadap semua yang dilakukan Jokowi jelas kondisi tidak baik, ada sesuatu yang salah jika semua orang diam saja pertanda setuju. Dengan adanya suara haters maka Jokowi bisa menjadikan pendapat haters sebagai cermin untuk memperbaiki kinerja, melecut diri untuk lebih baik lagi melayani rakyat negeri ini. Menjadi tokoh publik memang harus siap dikritisi dan dinilai segala gerak geriknya. Itu sudah resiko. Sebaliknya keberadaan Jokower juga menjadi semacam dukungan bahwa Jokowi tidak sendirian. Dia masih punya pendukung setia.

Di sisi lain, perseteruan antara Jokower dengan haters bisa menjadi pertanda tidak baik jika menjurus pada fitnah. Menyebarkan berita yang tanpa dasar, hoax, atau berita yang mengandung ketidakbenaran oleh masing-masing kedua kubu hanya akan memperkeruh suasana dan membuat perpecahan bangsa ini pasca Pilpres makin parah.

Sikap terbaik bagi kita adalah menyikapi dengan bijak apapun yang dilakukan Pemerintah. Jika baik ya didukung, jika tidak baik ya disampaikan saja uneg-unegnya. Jokowi adalah presiden RI yang sah, maka kita punya kewajiban mendukungnya dan mengkritisnya, terlepas kita dulu memilihnya atau tidak. Baik Jokower maupun haters seharusnya tidak perlu sampai buta mata dan buta hati. Lihatlah dengan kacamata yang obyektif dan adil.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Jokowers vs Haters

  1. mas bro berkata:

    yang mati-matian membela atau mencela, mungkin kurang piknik….

  2. Febriyan Lukito berkata:

    Banyak yang buta dan gak mau lihat dengan lebih netral. Makanya males juga ngikutin berita.šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s