Suka Duka Memeriksa Ujian Mahasiswa

120 x 7 = 840.
Fiuh! Segitulah jumlah soal ujian UTS yang sudah selesai saya periksa selama beberapa hari ini, semua jawabannya essay, bukan pilihan berganda. Semuanya, 120 orang mahasiswa tingkat dua dikali tujuh soal. Itu baru dari satu mata kuliah, masih menunggu berkas UTS mata kuliah lain dengan jumlah mahasiswa yang sama tapi dengan sembilan soal.

Memeriksa berkas ujian adalah pekerjaan yang berulang-ulang dan menjemukan memang. Tujuh jawaban soal itu harus dibaca dengan seksama, sekali-sekali saya membuat coretan merah dan memberi skor nilai. Hal yang sama diulang untuk 119 berkas jawaban lainnya. Melelahkan, sudah pasti.

Jika tidak selesai diperiksa di kampus, maka saya bawa pulang ke rumah semua berkas ujian tersebut. Berharap bisa selesai diperiksa di rumah, eh..ternyata tidak juga. Tidak disentuh malah, sebab saya sendiri sudah sibuk dengan urusan anak-anak di rumah. Akhirnya berkas ujian yang ratusan lembar itu saya bawa lagi ke kampus. Bolak-balik wae, kata orang Sunda. Capek-capek saja membawanya pulang.

Terkadang, saya pernah juga membawa berkas ujian mahasiswa pulang mudik waktu lebaran, berharap diperiksa di sana, dan…ha…ha..ha, ternyata sama saja, sama sekali tidak bisa diperiksa, sudah sibuk ke sana ke sini, padahal itu berkas sudah melanglangbuana naik pesawat ke Sumatera. Akhirnya dibawa lagi ke Bandung. Tidak terbayang jika berkas ujian itu sampai ketinggalan di kampung halaman. Berabe.

Nah, jika sudah selesai memeriksa semuanya, senang deh rasanya. Satu beban pekerjaan beres. Tinggal membeli coklat sebagai hadiah bagi mahasiswa peraih nilai tertinggi. Memberi hadiah coklat kepada mahasiswa yang mendapat nilai tertinggi sudah kebiasaan saya sejak dulu. Say with chocolate, karena coklat adalah kesukaaan anak muda.

~~~~~

Setelah menjadi dosen selama belasan tahun, maka saya sudah hafal tipe mahasiswa. Tiap-tiap mahasiswa itu beda-beda sikapnya setelah ujian selesai dilaksanakan. Setidaknya ada dua tipe mahasiswa. Tipe pertama adalah mahasiswa yang tidak mau lagi mempersoalkan jawaban ujian setelah ujian selesai. Ya sudahlah, bagaimana nanti dapat nilainya sajalah. Pasrah. Ini tipe mahasiswa yang realistis, mereka siap menerima apapun hasilnya.

Tapi ada juga tipe yang pundungan. Ini tipe kedua. Setelah ujian berlalu bukannya melupakan, malah menjadi pikiran terus. Dia merasa ada jawaban yang salah, dan takut mendapat nilai yang kecil. Curhatlah dia ke dosen kalau tadi menjawabnya begini begitu. “Kalau hasilnya salah, jalannya (maksudnya proses) tetap dihargai nilai kan pak?”, tanyanya penuh was-was. “Ya bagaimana jawabannya, nanti saya lihat dulu”, mencoba menenangkan. Saya tahu perasaannya galau. Menurut saya ini tipe mahasiswa yang tidak siap menerima hasil buruk. Jika dapat jelek, maka akan menjadi pikirannya berhari-hari. Ini mungkin hasil didikan orangtua yang menuntut target harus bagus, jika tidak, maka amarah menanti di rumah. Siap menang tapi tidak siap kalah.

Jawaban untuk permasalahan ini adalah sesegera mungkin membagikan hasil ujian, sehingga mahasiswa yang galau ini tidak lama-lama merasa didera rasa menyesal.

Apakah kamu termasuk tipe pertama atau kedua?

~~~~~~

Setiap kali saya memeriksa berkas ujian, seringkali saya kasihan memeriksa jawaban ujian mahasiswa yang kosong. Tidak bisa menjawabnyakah, malas belajarkah, atau pikirannya lagi di manakah, ah… saya tidak tahu penyebabnya. Tapi nilai nol tidak diinginkan siapapun, termasuk saya yang memberi nilai.

Baiklah, saya pun membuat pengumuman begini: barang siapa tidak bisa menjawab suatu soal, maka tulis ulang saja soalnya di lembar jawaban, saya akan beri nilai 1 sebagai “upah menulis“. Lumayan kan daripada nol.

Adakah pengumuman itu berpengaruh? Ternyata tidak juga. Tidak banyak yang mencoba mendapat nilai 1, mungkin tawaran yang tidak menarik. Atau, mereka gengsi barangkali.

Selain jawaban yang kosong, membaca tulisan curhat mahasiswa di dalam lembar ujian sudah sangat sering saya dapatkan. Ini mahasiswa yang mungkin sudah menyerah, lalu curhatlah dia di dalam lembar ujian sebagai ungkapan kegalauan.

Anda pernah punya pengalaman serupa?

Pos ini dipublikasikan di Seputar Informatika. Tandai permalink.

4 Balasan ke Suka Duka Memeriksa Ujian Mahasiswa

  1. Jejak Parmantos berkata:

    Hehe jadi inget waktu S1 dulu, bermaksud protes nilai karena dosen melakukan kesalahan penilaian, yang kemudian saya ditunjuk jadi jubirnya temen2. Namun, apsnya nilai teman-teman saya naik, lha kok pas punya saya ajeg, mw protes lagi sudah terlanjur habis tenggang waktu protesnya… Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa sering berprasangka: Dosen itu Dewa! hehe

  2. gil berkata:

    Dulu waktu jaman kuliah dan sekolah jarang banget ada dosen ataupun guru yang mau membagikan hasil ujian yg telah diperiksa, padahal sangat saya tunggu2, mungkin karena mereka takut akan diprotes oleh mahasiswa atau muridnya, tidak seperti pak Rin yang selalu membagikan hasil ujian yg sudah diperiksa, coba waktu itu dosen saya pak Rin…

  3. Suci Su berkata:

    sepertinya saya tipe yang pertama.
    masalah gak bisa jawab biasanya saya tulis soalnya dan dengan jawaban yang ngambang sengambang ngambangnya.. ._.

  4. Faisal Riza berkata:

    saya sering banget curhat di lembar jawab pak. terutama di makul hitungan. soalnya saya sama sekali nggak mudeng. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s