Gaya Pengamen Anak Jalanan

Banyak pengamen dan anak jalanan mangkal di setiap perempatan jalan itu adalah pemandangan biasa. Bermacam cara mengamen dilakukan anak jalanan untuk memperoleh uang receh. Ada yang mengamen dengan gitar, gendang dari botol aqua, atau cuma kincring-kincring dari kaleng bekas tutup botol.

Suatu siang di perempatan Jalan Jakarta dan Jalan Ahmad Yani Bandung, sepeda motor saya berhenti pada saat lampu merah. Seorang bocah pengamen berbaju merah tampil berjalan di depan para pengendara yang berhenti. Dia tidak membawa alat musik apapun. Namun tidak punya alat musik bukan berarti tidak bisa mengamen. Dia ‘kan punya tubuh untuk digerakkan. Dengan membuang rasa malu, jadilah bagi bocah pengamen ini cukup jumpalitan di depan pengendara. Sambil meliuk-liukkan badannya seperti orang menari, dia menyanyi tak jelas. Hampir semua pengendara tampak tidak mempedulikan kehadirannya.

Bocah pengamen

Bocah pengamen

Setelah satu menit beraksi, dia menyodorkan botol bekas aqua mengharap sereceh dua receh dari pengendara. Saya perhatikan tidak ada seorangpun pengendara yang memberi uang. Kasihan dia, sudah beraksi seperti seorang penari, tak ada uang receh yang diperoleh.

Kasihan? Ya, antara kasihan dan tidak. Ada himbauan dari Pemkot Bandung agar tidak memberi pengamen uang. Semakin diberi, semakin betah anak-anak jalanan itu ‘mengemis’ dengan cara mengamen. Namun ada juga yang tidak setuju dengan himbauan itu. Anak-anak itu mencari uang untuk membantu orangtuanya yang miskin. Benarkah demikian? Wallahualam. Ada laporan yang menyatakan bahwa uang mengamen itu tidak hanya untuk konsumsi makanan, tapi juga digunakan untuk membeli rokok, ngelem, dan hal yang tidak baik lainnya.

Seharusnya bocah berbaju merah di atas sedang berada di sekolah siang itu. Kehidupan jalanan yang keras dan kejam tidak cocok baginya. Dia akan kehilangan masa depan. Dinas Sosial kota harus membina anak-anak jalanan seperti ini.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

3 Balasan ke Gaya Pengamen Anak Jalanan

  1. Kasusnya memang jamak terjadi di negara kita, pak. Hati kita pun campur aduk, antara kasihan dan harapan. Blog bapak menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis pak, terima kasih, mudah-mudahan saya konsisten. Saya alumni FIS UNP (Padang), tinggal di Palembang, dan Insya Allah lanjut studi ke Bandung. Slam kenal pak..😀

  2. Sekar berkata:

    kalau nggak salah, pemkot ada program 1 hotel 1 pengamen apa ya? pernah ngikutin dulu di twitter pak emil. Belum merata sepertinya ya..

  3. Abdurrohman berkata:

    mereka sebetulnya anak berpotensi, hanya saja belum ada sarana dan prasana untuk menyalurkan potensinya…

    rakyat kecil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s