Ujian Bagi Guru, Dosen, Ustad, …

“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.”
— William Arthur Ward

Saya termenung membaca ungkapan William Arthur di atas. Saya belum mampu menjadi the great teacher, yaitu dosen yang menginspirasi mahasiswanya. Masih jauhlah. Mungkin saya baru sampai menjadi the good teacher saja, itupun dengan banyak kekurangan.

Menjadi guru, dosen, atau ustadz itu banyak godaannya. Godaan yang nyata adalah merasa ‘ujub atau merasa bangga dengan ilmu yang dimilikinya.  Orang yang memiliki sifat ‘ujub merasa tinggi hati karena merasa memiliki ilmu lebih banyak, lebih dulu,  atau lebih tinggi dari para murid atau jamaahnya. Sifat ‘ujub itu sangat dekat dengan sifat riya, yaitu sifat ingin dipuji atau disanjung karena  ilmu yang dimilikinya. Jika sudah mencapai sifat riya, maka bagi seorang muslim apapun yang dilakukannya sudah tidak bernilai lagi di Mata Allah, karena sudah tidak ikhlas. Kunci dari ibadah itu adalah ikhlas, yaitu semata-mata mengharapkan  ridha Allah semata. Padahal, menjadi dosen, guru, atau ustadz itu diniatkan untuk beribadah kepada-Nya. Mengajar itu ibadah, membimbing mahasiswa itu ibadah, berbagi ilmu itu ibadah, memberi ceramah itu ibadah.

‘Ujub adalah godaan yang berat bagi seorang pendidik, tetapi ada godaan yang lebih berat lagi, yaitu mengendalikan ego. Pelajaran ini saya peroleh dari kisah Prof Damardjati Supadjar, seorang dosen UGM. Kisah tersebut saya baca pada situs web ini, yang bersumber dari akun Facebook seorang muridnya. Sangat menarik dan inspiratif.

Saya kutip kembali kisah Prof. Damardjati Supadjar seperti tertulis di bawah ini:

Setiap berkendara dari perempatan Kamdanen, ke timur ke arah Jalan Kaliurang, aku selalu melintasi rumah almarhum Prof. Damardjati Supadjar. Setiap kali pula, aku teringat sebuah percakapan dengan beliau, yang bagiku sangat inspiratif.

Tahun 90an awal, Pak Damar beberapa kali mengisi acara di Masjid Ash-Shiddiiqy, Demangan — sebuah masjid kecil yang aku turut mengurusnya. Ceramah beliau selalu sangat filosofis, sarat dengan ilmu kelas tinggi yang disajikan dengan cara amat sederhana. Ngelmu tuwo, kata beberapa jamaah senior di masjid itu.

Pada suatu kesempatan, saat turut mengantar Pak Damar pulang usai ceramah, aku bertanya pada beliau, “Pak, jadi dosen enak ya?”

“Bagi saya enak,” jawab beliau. “Tapi kalau diniati untuk kaya raya, ya jadi dosen itu tidak enak.”

“Tapi jadi dosen kan harus selalu menambah ilmu Pak,” kataku agak kurang nyambung.

“Tentu saja. Tapi itu kan otomatis berjalan, tak perlu dipaksakan.”

“Jadi tidak berat ya Pak?”

“Sama sekali tidak. Yang berat itu malah hal lain.”

“Apa itu Pak?”

“Mengendalikan ego,” jawab beliau.

Aku membuka telinga…

“Seorang dosen, juga seorang guru atau ustadz atau kyai, mudah terjerumus pada ‘ujub.” Pak Damar mulai menjelaskan. “Dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan peluang untuk berbicara di depan orang lain yang bersedia atau dipaksa mendengarkan, semua pendidik pada dasarnya punya peluang menjadi tinggi hati. Ciri pendidik yang tinggi hati adalah gemar memamerkan pengetahuan, agar nampak pandai di hadapan anak-didiknya.”

“Tapi kan itu lumrah Pak.”

“Tidak lumrah. Pendidik yang tinggi hati, sesungguhnya akan gagal mendidik. Dia hanya akan menghasilkan pengagum, bukan orang terdidik. Pendidik yang baik adalah yang mampu menekan ego di hadapan anak-anak didiknya.

“Menekan ego seperti apa Pak, maksudnya?” Aku tak paham betul apa maksud Pak Damar.

“Menekan ego untuk nampak pintar. Tugas guru dan dosen bukanlah keminter di hadapan murid-muridnya, melainkan untuk memberi inspirasi.”

“Menunjukkan kepintaran di hadapan murid kan juga bisa menginspirasi Pak?” tanyaku tetap kurang paham.

“Iya, inspirasi untuk kagum pada sang guru, bukan inspirasi untuk mencari ilmu sejati.”

Tetap tak paham, namun aku lanjut bertanya. “Soal menekan ego itu Pak, seberapa banyak pendidik yang bisa melakukannya?”

“Hanya mereka yang bisa menghayati makna ‘tidak ada ilah selain Allah’ yang bisa menekan ego.”

Aku tak yakin apakah aku betul-betul paham yang dimaksudkan oleh Pak Damar. Namun kata-kata itu selalu terngiang di benakku: “Seorang pendidik harus menekan ego untuk nampak pintar”.

Aku baru bisa mencerna dan sedikit-demi-sedikit memahami kata-kata itu beberapa tahun kemudian, setelah beberapa waktu menjadi dosen. Bahkan hingga sekarangpun, aku tak yakin apakah bisa mengendalikan ego seperti dimaksud Pak Damar itu.

Lahul faatihah…

Sumber: FB salah satu muridnya

*********

Alangkah tinggi untuk mencapai ma’rifat seperti yang disampaikan Prof. Damardjati di atas. Maafkan saya Prof, saya belum mampu mencapainya, bahkan sekadar membuang sifat ‘ujub saja tidaklah mudah, apalagi mengendalikan ego. Saya tidak ingin mahasiswa saya kagum kepada diri saya, tetapi seharusnya mereka kagum dengan ilmu yang saya sampaikan. Dari situlah saya berharap mahasiswa terinspirasi untuk mencari ilmu sejati.

Pos ini dipublikasikan di Renunganku. Tandai permalink.

2 Balasan ke Ujian Bagi Guru, Dosen, Ustad, …

  1. thoha berkata:

    Terima kasih banyak sudah mengingatkan Pak. Tulisan yang sangat inspiratif.

  2. Yudi Priadi berkata:

    Luar biasa sudah hampir 20 tahun saya menjadi guru baru sekarang saya mengerti tentang ini…..Alhamdulillah lewat blog ini saya dapat pencerahan dan jazakallah khairan kepada murid sang dosen , dan tentu saja kepada uda rinaldi khususnya. Wa bil khusus kepada sang profesor rahimahullah…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s