Toleransi yang Salah Kaprah

Sebenarnya tulisan saya ini sudah tidak up-to-date lagi, karena kejadiannya sudah berlangsung dua minggu yang lampau. Namun saya tergelitik untuk mengomentarinya karena masalah ini berkaitan dengan akidah. Yang namanya akidah atau keyakinan tidak boleh dianggap main-main. Ia merupakan hal fundamental dalam beragama.

Pada Perayaan Natal tingkat nasional tahun 2015 di kota Kupang (NTT) yang dihadiri oleh Presiden Jokowi, ada kejadian yang cukup mengagetkan banyak pihak, khususnya bagi kaum muslimin. Pada acara itu, seorang biduan menyanyikan lagu merdu berjudul Ave Maria karya Franz Schubert. Ini adalah lagu rohani saudara-saudara kita kaum kristiani. Yang mengagetkan, lagu tersebut diiringi dengan suara adzan yang dilantunkan oleh Imam Masjid Oepura, Ustad Umarba (Baca: Dengarkan Lagu “Ave Maria” dan Adzan Berkumandang, Gubernur NTT Menangis dan  Ketika Ave Maria dan Adzan Mengalun Bersama, Oh Indahnya… ).

Maksud hati Panitia Natal 2015 adalah untuk menunjukkan bahwa umat Kristen dan umat  Islam hidup berdampingan dengan damai di NTT dengan cara menampilkan lagu dan adzan tersebut secara bersamaan pada perayaan Natal. Di Propinsi NTT, seperti cerita seorang teman, toleransi antar umat beragama di sana memang terjalin dengan baik. Silakan baca komposisi demografi penduduk di NTT dari laman Wikipedia ini.

Dalam kacamata keislaman, apa yang dilakukan oleh Panitia Natal di Kupang itu bukanlah suatu bentuk toleransi beragama yang benar. Itu sama sekali tidak indah, tetapi benar-benar salah. Menurut saya, kejadian ini sudah termasuk sinkretisme, yaitu mencampuradukkan ibadah kedua agama. Mungkin bagi saudara-saudara kita kaum kristiani hal ini tidak menjadi persoalan (CMIIW), namun dalam akidah Islam hal ini adalah suatu masalah besar. Adzan adalah panggilan untuk melaksanakan  ibadah sholat bagi umat Islam, sedangkan menyanyikan lagu Ave Maria adalah bagian dari ibadah umat kristiani. Tentu tidak pantas kedua ibadah itu dicampurkan. Tidaklah layak suara adzan dilantunkan pada ibadah Natal, sebagaimana tidaklah layak menyanyikan  lagu rohani kristiani pada ibadah umat Islam.

Toleransi  antar umat beragama yang terjadi pada perayaan Natal di Kupang itu sudah salah kaprah. Toleransi beragama yang benar adalah dengan tidak mengganggu ibadah umat agama lain, memberikan rasa tenang dan nyaman buat mereka yang beribadah itu.  Orang Islam tidak diganggu ibadahnya, begitu juga orang Kristen tidak diganggu ibadahnya. Itulah wujud toleransi yang indah.

Toleransi beragama cukup dalam di dalam ranah sosial saja, bukan dalam ranah  peribadatan. Orang Islam tidak perlu ikut ibadah orang Kristen, begitu juga orang Kristen tidak perlu ikut ibadah orang Islam. Orang Islam tidak perlu ikut misa Natal di gereja, begitu juga orang Kristen tidak perlu ikut pengajian di masjid. Orang Islam tidak perlu qasidahan pada acara misa di gereja, begitu juga paduan suara orang Kristen tidak perlu menyanyikan shalawat di dalam masjid.

Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi pada masa yang akan datang. Biarlah masing-masing umat beragama berjalan sesuai dengan agamanya masing-masing.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

14 Balasan ke Toleransi yang Salah Kaprah

  1. Leto berkata:

    menurut saya kalo qasidahan bisa saja, tapi pilih lagu pop berbahasa arab tertentu. karena banyak lagu qasidahan isinya sebenarnya lagu ‘dangdut’ versi budaya arab.

    • rinaldimunir berkata:

      Jika orang Islam qasidahan pada acara misa (satu rangkaian dengan ibadah), tentu saja hukumnya haram. Sebaiknya tidak perlu dilakukan supaya tidak menimbulkan kontroversi/mis-interpretasi.

  2. Pada dasarnya, di Kupang, hari raya kristiani (Natal, Paskah), dan islam (Idul Fitri, Idul Adha), adalah perayaaan bersama. Semua ikut ambil bagian tidak perduli agama yang dianut. Itu adalah kearifan lokal disana. Semua umat beragama di NTT bersaudara. Hari raya mereka ya hari raya kita juga. Mereka menjalankan ritualnya, kita ikut bergembira mengikuti perayaaannya.

    Sejauh ini, kerukunan beragama di NTT, khususnya di Kupang adalah yang terbaik di Indonesia. Belum ada provokator yang sukses mengobok-obok kerukunan di tempat ini. Mengajak umat beragama untuk bersikap “lu-lu gue-gue” sama saja dengan membuka celah dalam kehidupan antar agama disana. Kalau kita tidak hati-hati, “celah” inilah yang nantinya bisa diisi oleh kaum radikal yang merasa memegang kunci surga untuk bermain di NTT..

    Jadi? Ya, sekali lagi inilah kearifan lokal disana. Kalau belum bisa menerima, ya cukup hargai saja. Contoh lainnya, umat kristiani di Kupang juga sering beruluk salam dengan kalimat “Assalamu’alaikum” dengan sesama mereka sendiri. Kalau ditanya, kenapa pakai salam khas Islam, jawaban mereka: “kan ucapan itu artinya baik”. Anda boleh sebut itu sinkretisme, mencampur yang hak dan batil, atau toleransi keblinger, ya silahkan saja. Tapi itu yang membuat suasana keberagamaan disini lebih adem.

    Oya, saya muslim, asli NTT.🙂

    • rinaldimunir berkata:

      Tentang sinkretisme, saya mengutip peryataan dari MUI dan ulama lain bahwa yang terjadi di Kupang itu adalah sinkretisme.
      Baca:
      1. http://www.muslimdaily.net/berita/sekjen-mui-sinkretisme-itu-semangat-kerukunan-yang-kebablasan.html#

      2. http://www.kiblat.net/2016/01/07/mui-tolak-sinkretisme-semangat-kebersamaan-yang-kebablasan/

      3. http://kupang.tribunnews.com/2016/01/05/toleransi-antar-umat-beragama-tidak-terjebak-sinkretisme

      Kehidupan beragama yang adem, aman dan tentram dapat tercipta dengan semangat toleransi, saling menghormati, saling menghargai, tanpa harus ikut-ikutan di dalam ritual ibadahnya. Semoga anda mendapat pencerahan, dan belajarlah agama lebih mendalam agar anda semakin paham.

      • 🙂 Kadang2 dalam beragama kita sulit membedakan mana ritual mana perayaan. Tidak ada muslim yang mengikuti ritual dalam bentuk kebaktian Natal di Gereja. Namun perayaan natal, adalah milik bersama. Yang dihadiri oleh Presiden Jokowi di kupang tempo hari itu jelas adalah perayaan, bukan ritual peribadatan.

        Soal belajar agama lebih mendalam, tidak perlu menjudge orang lain. Ada orang yang setelah mendalami agama, menjadi lebih terbuka dan memahami perbedaan. Ada juga yang menjadi saklek dan kaku dalam melaksanakan doktrin agamanya. Saya sendiri tidak mau menjadi golongan yang kedua ini, sedalam apapun pemahaman keagamaan saya. Maaf.

      • rinaldimunir berkata:

        Jika memang tidak bisa membedakan mana perayaan dan mana ritual agama, maka dalam agama Islam perkara tersebut dinamakan syubhat atau masih dalam keraguan. Jika ragu, maka jalan keluarnya sudah diberikan, yaitu hindari.

        Oh ya, dalam perayaan Natal yang saya lihat di TV, biasanya ada ritual agama seperti menyanyikan lagu-lagu rohani, menyalakan lilin, dan sebagainya.

        Saya tidak menjudge, hanya menyarankan anda untuk lebih banyak membaca dan belajar ajaran agama agar tahu mana yang halal dan mana yang haram. Silakan gugling saja soal hal ini. Mau mendalami agama atau tidak itu soal pilihan hidup, tiada paksaan. Ada orang yang tidak mau mendalami agama karena takut kesenangannya selama ini menjadi dibatasi. Ini adalah pandangan yang keliru, seakan-akan agama adalah penghambat. Agama adalah way of life, penuntun hidup ke jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Hidup di dunia ini hanya sementara, jangan sampai kita mati dalam kemusyrikan.

    • Sedikit koreksi saja. Belajar agama tidak bisa instan. Belajarlah lewat guru yang sanad keilmuannya jelas, dengan kitab rujukan yang juga jelas. Belajar agama hanya dari Googling, buku-buku agama yang terlalu condong ke firqah tertentu, atau lewat halaqah atau liqo’ yang murobbinya entah dapat ilmu dari mana, IMHO bukan pilihan yang bijak. Banyak orang awam yang belajar agama secara instan lewat jalur demikian, hasilnya adalah perilaku jumud, pandangan yang sempit, dan lebih parah lagi, gemar mengkafir-kafirkan atau menyesat-nyesatkan sesama muslim yang tidak sepaham. Belajar agama juga harus disertai pemikiran yang kritis, supaya tidak terseret ke arah taqlid buta.

      Tapi okelah, daripada diskusi melenceng sampai kemana-mana, saya rasa lebih baik kita sepakat untuk tidak sepakat saja. Saya menghormati pendapat anda, dan saya juga sudah cukup puas bisa menuliskan pandangan saya disini. Salam.🙂

  3. Candra Wiguna berkata:

    Yang salah kaprah itu anda.
    Anda hanya membatasi toleransi sebatas antar agama, bukan antar umat Islam itu sendiri.

    Anda harusnya paham, bahwa antar muslim pun ada pandangan berbeda untuk beberapa ajaran, misalnya ada muslim yang setuju pernikahan beda agama dan ada yang tidak, ada muslim yang setuju memerangi non muslim ada yang tidak, termasuk perbedaan pandangan dalam memaknai toleransi antar umat agama.

    Kalau anda berpandangan bahwa toleransi itu adalah tidak ikut2an misa, silahkan.
    Tapi mengapa anda ikut nyinyir terhadap umat muslim lain yang ikut melaksanakan misa?
    Mengapa anda memaksakan tafsir toleransi anda pada umat muslim lain? Ini kan namanya pemaksaan keyakinan.

    Apa anda mau dipaksa ikut memerangi muslim seperti tafsir toleransinya ISIS? Kan enggak

    Saya memang tidak begitu suka dengan gambaran toleransi seperti yang contoh yang anda paparkan, terlalu normatif, terlalu mengedepankan simbol. Tapi saya juga tidak suka dengan yang anda lakukan yaitu nyinyir pada keyakinan muslim lain.

    Udahlah, urus diri sendiri, selama tidak merugikan diri anda, ya biarkan saja.

    • rinaldimunir berkata:

      Memang salah kaprah, sudah sangat jelas. Mengikuti ibadah agama orang lain bukanlah sikap toleransi, tetapi mencampuradukkan agama. Hari ini ikut ibadah agama ini, besok ikut ibadah agama lain.

      Soal menikah beda agama, semua ulama sudah sepakat hukumnya haram. Jika ada muslim yang setuju nikah beda agama, itu tandanya dia tidak memahami ajaran agama.

      Tulisan saya ini untuk mengingatkan sesama muslim untuk berhati-hati memaknai toleransi. Toleransi adalah dalam urusan muamalah, bukan dalam urusan ibadah.

      Tentang ISIS, saya malas membahasnya. ISIS bukanlah Islam, mereka kelompok teror dengan kedok agama.

      Jika anda tidak setuju dengan ulasan saya tidak masalah. Anda juga tidak perlu mengurus ajaran agama kami. Sudah jelas, lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

      • Candra Wiguna berkata:

        SEMUA ULAMA?
        Lucu sekali, padahal tinggal googling saja bisa ketemu banyak sekali ulama yang membenarkan pernikahan beda agama.🙂
        Bahkan kalau mau Al Quran dimaknai secara literal sudah jelas ada ayat yang membenarkan pernikahan antara lelaki muslim dengan perempuan ahlul kitab.

        Saya tidak ingin menyerempet ke diskusi pernikahan beda agama, tapi dari sini saja saya bisa menyimpulkan anda suka ngawur dalam diskusi dan pengetahuan agama anda masih sempit.

        Saya tidak ingin berdebat panjang, terakhir saya hanya ingin menyampaikan bahwa batasan agama itu bukan sekadar Islam, Kristen, Hindu, dsb, tapi aliran2 dalam agama itu pun bisa dikategorikan sebagai agama yang berbeda. Islam Syiah bisa dikategorikan sebagai agama yang berbeda dengan Islam Sunni, Kristen Ortodoks bisa dikategorikan sebagai agama yang berbeda dengan Katolik, dimana antar aliran agama itu juga perlu adanya sikap saling toleransi.

        Kalau ada sebagian muslim yang berpandangan bahwa toleransi adalah ikut beribadah dengan umat agama lain, ya hargai, jangan memaksakan penafsiran anda mengenai toleransi seakan-akan bahwa toleransi anda yang paling benar.

        Definisi toleransi saya benar, definisi toleransi umat muslim yang ikut misa salah, padahal yang mereka lakukan tidak menimbulkan masalah dalam kehidupan sosial.

        Cara toleransi saya benar, cara toleransi umat muslim yang ikut misa salah karena bisa merusak akidah, padahal tidak semua muslim akidahnya lemah dan goyah hanya karena ikut misa.

      • rinaldimunir berkata:

        Terima kasih sudah dibilang pengetahuan agama saya sempit dan anda sangat luas. Sedemikian luasnya sehingga membolehkan apa saja seperti boleh ikut ibadah agama lain karena tidak punya pengaruh apa2, boleh nikah beda agama, dll. Ah, sungguh ngawur sekali cara berpiir anda ini. Ikut ibadah agama lain artinya sudah ikut menjadi bagian penganut agama tersebut, dengan kata lain sudah murtad. Cara berpikir anda mirip dengan pandangan kaum JIL atau mungkin anda salah satu dari mereka.

        Tentang nikah yang anda bawa-bawa, para ulama salaf sudah, menyatakan bahwa nikah beda agama itu haram hukumnya, mayoritas kaum muslimin meyakini hal ini hukumnya haram (baca: http://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2015/06/20/72487/pakar-hukum-ui-mui-dalam-fatwanya-melarang-nikah-beda-agama.html). Bahkan pernikahan dnegan wanita ahli kitab pun masih debatable, ada yang membolehkan namun ada pula yang melarang. Baca juga ini: http://www.kompasiana.com/raniazahra/hukum-pernikahan-beda-agama-dalam-agama-islam_552c758a6ea834fe2e8b4570

        Bahkan, Cak Nur (Nurkholis Madjid), seorang tokoh pluralisme sekalipun tetap menyatakan ketidaksetujuannya ketika putrinya menikah dnegan seorang yahudi. “Dalam surat-suratnya, Cak Nur menyebutnya sebagai skandal. “Sembilan puluh sembilan persen dalam agama kita menghukumi kamu kawin tidak sah, suatu dosa yang sangat besar, salah satu yang terbesar dalam agama kita setelah syirik, durhaka pada orangtua, membunuh, dan merusak alam,” tulis Cak Nur dalam suratnya kepada Nadia, 13 Agustus 2001.” (Sumber: http://tekhnorati.blogspot.co.id/2009/11/kontroversi-perkawinan-putri-cak-nur.html)

        Jangan mencampur yang hak adalah hak dan yang batil tetap batil, tidak bisa dicampuradukkan. Yang haram tetaplah haram, dan itu sudah tegas, tidak bisa ditawar-tawar.

        Toleransi yang benar adalah memberi kebebasan penganut agama menjalankan ajaran agamanya, memberi rasa nyaman, menghormati mereka menjalankan agamanya, namun bukan mencampuradukkan ajaran agama. Bahkan dalam pelajaran Pancasila, P4, PKN, pun sudah dijelaskan bahwa toleransi bukan berarti ikut serta dalam ibadah agama lain.

        Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini.

      • Candra Wiguna berkata:

        Apa yang menurut anda ngawur belum tentu ngawur bagi orang lain.
        Menurut muslim yang ikut misa, pemikiran anda lah yang ngawur, begitu juga dengan muslim ISIS menurut mereka anda juga ngawur jika sampai saat ini belum memerangi non muslim seperti yang mereka lakukan.

        Yang namanya keyakinan itu sifatnya pribadi, selama tidak merugikan orang lain maka keyakinan itu tidak perlu dipermasalahkan. Anda dirugikan dengan muslim yang ikut misa? Emang mereka ikut misa maka anda ikutan murtad? Kalaupun mereka kemudian murtad apa urusannya dengan anda?

        Soal nikah beda anda, nah, argumennya udah mulai plin plan, tadi bilang bahwa SEMUA UALAMA sepakat bahwa pernikahan beda agama itu haram, tapi di komentar kedua mengakui bahwa pernikahan lelaki muslim dengan wanita ahlul kitab itu masih debatable.

        Yang namanya semua itu 100%, kalau ada 1 juta utama maka 1 juta ulama itu bilang haram, kalau masih ada 1 yang tidak sependapat maka bukan SEMUA namanya.

        Jika anda membaca artikel di link kedua yang anda kasi, justru ada keterangan bahwa “Mayoritas ulama (jumhur) membolehkan seorang mu’min menikah dengan wanita ahlul kitab …”

        Tuh, ternyata mayoritas setuju pernikahan beda agama dengan batasan yang menikah itu adalah laki2 muslim dan wanita ahlul kitab. Ketahuan kan kalau anda disini kurang riset.

        Kedua, saya melihat anda disini terlalu percaya pada fatwa2 MUI, bahkan pernyataan anggota MUI yang sifatnya individual anda kutip juga, padahal realitas di lapangan tidak semua muslim mengimani fatwa MUI. Di Jawa Timur misalnya, saya menemui bahwa lebih banyak muslim yang mengikuti fatwa para kyai lokal ketimbang fatwa dari MUI.

        Lha, coba jawab, apa anda juga mengikuti fatwa dari Ahmad Cholil Ridwan yang bilang bahwa menghormat pada bendera itu hukumnya haram? Begitu juga soal PKn yang sepengalaman saya tidak pernah ada materi seperti itu, namun jika benar maka materi itu pun sebenarnya tidak perlu diikuti. Buku itu kan bagian dari pendapatnya Si Penulis, pertanyaannya apakah anda tidak bisa memikirkan sendiri apa yang baik dan tidak baik bagi diri anda? Masa iya bergantung pada pemikiran orang lain terus?
        Kalau saya sih enggak.

        Nah, yang ini benar2 komentar terakhir, kalau diskusinya terlalu panjang saya kadang ngeri sendiri. Terima kasih atas balasannya, senang berkunjung disini.

      • rinaldimunir berkata:

        Saya sebut ngawur karena ada dasarnya, yaitu menurut akidah Islam. Belum pernah saya mendengar ada ustad, guru agama, atau ulama yang membolehkan ikut kebaktian agama lain. Hanya anda yang ngomong begitu yaitu tidak apa-apa ikut misa selama tidak merugikan orang lain, padahal sudah jelas-jelas hukumnya haram.

        Silakan baca konsultasi Islam di sini: http://dinulislami.blogspot.co.id/2013/03/hukum-seorang-muslim-ikut-kebaktian-di.html

        Sana gih belajar agama yang benar, belajarlah dari ulama yang memiliki kredibilitas, jangan belajar dari intelektual JIL yang menisbikan ajaran agama.

        OK, case closed. Diskusi tentang ini ditutup.

  4. Afwan..ahsan perdebatan seperti ini di hindari, buang2 energy sementara negara kita lagi jor2an kampanye “hemat energy”..
    tulisan Pak dosen tentu mencerminkan sikap dan keberpihakan ke satu metodologi berfikir, dan yang tdk sepakat juga berpijak pada satu konsep pemikiran..silahkan saja, toh pertanggung jawaban kita nanti di hadapan Allah masing2..
    #tetap semangat belajar Islam yang shoheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s