Tiga anak kecil peminta-minta

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke rumahku
Pagi itu.

Sambil menengadahkan tangan, mereka berkata:
Pak, minta sedekahnya

(Diadopsi dari puisi Taufik Ismail 1966, Karangan Bunga)

**

Kemarin pagi ketika saya akan bersiap berangkat ke kampus, dua orang anak perempuan kecil – satu berusia sekitar 8 tahun dan satu lagi berusia sekitar 5 tahun- berdiri di depan pagar rumah sambil menengadahkan tangan. “Pak, minta sedekahnya”, katanya dengan suara memelas. Minggu lalu mereka juga datang ke rumah saya namun bertiga, satu lagi bocah laki-laki. Masing-masingnya mendatangi rumah tetangga meminta sedekah.

Biasanya saya menjawab: “Maaf, Dik!”, lalu mereka pun pergi. Saya memang kurang suka dan kurang setuju memberi pengemis yang  masih anak-anak itu uang. Kecil-kecil kok sudah diajar mengemis oleh orangtuanya. Tidak baik, nanti malah menjadi kebiasaan dan pemalas, begitu pikiran saya.

Namun kedatangan anak-anak itu kemarin pagi membuat saya beristighfar, tidak seharusnya saya memukul rata sikap menolak memberi sedekah kepada pengemis yang masih anak-anak.

Setelah saya mengucapkan “maaf, Dik” seperti biasanya, kedua anak itu pergi menjauh. Disitulah rasa iba saya muncul. Sungguh terlalu saya ini. Rasa ingin tahu saya pun muncul, mengapa mereka sering datang meminta-minta. Saya panggil kembali anak perempuan yang paling besar dan memberi kode akan memberinya uang. Dia pun mendekat, lalu saya bertanya kepadanya.

“Tinggal di mana, Dik?”, tanya saya.

“Di Kiaracondong”, jawabnya. Kiaraconcong adalah wilayah pemukiman padat dekat stasiun kereta api, tidak jauh dari rumah saya. Penduduk yang tinggal di dekat stasiun kereta api itu umumnya bekerja pada sektor informal, seperti buruh pabrik, tukang beca, buruh bangunan, kuli angkut, pedagang kecil, pembantu rumah tangga, dan lain-lain.

“Kenapa kok kecil-kecil sudah mengemis?”, tanya saya ingin tahu.

“Bapak saya stroke di rumah, tidak bisa mencari uang. Dulu kerjanya tukang rongsok”, jawabnya lirih.Tukang rongsok adalah sebutan orang Bandung untuk orang-orang  yang kerjanya berkeliling membeli barang rongsokan ke rumah-rumah atau memulung barang rongsokan dari tempat sampah, lalu dijual lagi ke pengepul. Barang rongsokan yang dicari umumnya koran bekas, buku bekas, karung semen, besi-besi bekas bangunan,  atau barang-barang lain yang tidak terpakai lagi.

“Kalau ibu tidak kerja?”, tanya saya lagi. Saya pikir mungkin ibunya bekerja si sektor informal juga, seperti buruh pabrik, buruh cuci, atau pembantu rumah tangga.

Nggak. Ibu di rumah saja, merawat bapak. Di rumah juga ada adek bayi“, jawabnya lagi.

Astaghfirullah, ampuni saya ya Allah. Ternyata keluarganya sedang ditimpa musibah. Ayahnya sakit stroke sehingga tidak berdaya untuk mencari nafkah, sedangkan ibunya hanya bisa di rumah untuk merawat bayi sekaligus merawat suaminya yang sakit.

“Adik disuruh orangtua untuk mengemis?”, tanya saya agak menyelidik.

“Nggak pak. Saya juga kerja mencari barang rongsok, tapi dapatnya sedikit. Karena nggak cukup, saya meminta sedekah”, jawabnya polos.

Tenggorokan saya tercekat mendengar ceritanya. Saya yakin dia tidak berbohong. Sungguh malang nasib anak kecil yang terpaksa meminta-minta untuk menghidupi keluarganya yang tidak berdaya di rumah. Ayahnya stroke, ibunya merawat ayah yang stroke. Amanat mencari nafkah keluaga ada pada pundaknya. Dia seorang anak perempuan yang masih kecil, tapi harus berjuang di tengah penderitaan hidup. Anak-anak seusianya pada jam-jam pagi itu sedang belajar di kelas, atau sedang berlarian di halaman sekolah, bercanda ria dengan teman-teman sebaya, sedangkan dia harus berhenti sekolah untuk membantu keluarganya. Oh, malangnya kamu dik, lirih saya dalam hati. Terharu.

Saya lari ke dalam rumah, mengambil beberapa lembar uang, mencari makanan yang bisa diberikan.

“Ini untuk jajan kamu dan adik-adikmu. Ini kasih ke ibumu”, kata saya sambil memberinya uang.

Setelah mengucapkan terima kasih, dia pun berlalu dengan adiknya. Saya memandang mereka sampai hilang di belokan. Anak-anak yang malang. Jika mereka datang lagi, saya ingin mencoba membantu lagi, sekedar meringankan beban keluarganya.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Tiga anak kecil peminta-minta

  1. yuktika berkata:

    Subhanallah… critanya sungguh mengharukan, kasihan adik itu

  2. todi berkata:

    semoga keluarga adik kecil dan keluarga pak Rin selalu dalam lindungan ALLAH dan membawa berkah, aamiin

  3. syarief76 berkata:

    Boleh nitip ke mereka pa dosen? kalo tidak keberatan dan tidak merepotkan. Saya transfer ke rekening bapak (email saya: syarief.rakh@gmail.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s