Sony Sugema dan Fenomena SSC-nya

Hari minggu yang lalu ada berita duka yang cukup mengejutkan. Sony Sugema, pendiri bimbingan belajar SSC (Sony Sugema College) dan sekolah SMP/SMA Alfa Centauri dipanggil oleh Allah SWT karena penyakit jantung (Baca: Sony Sugema Wafat Saat Sholat Tahajud). Bagi orang Bandung dan kalangan pelajar SMA, nama Sony Sugema tidak asing lagi. Meskipun tidak mengenal orangnya, namun banyak pelajar mengenal nama Bimbel-nya. Dia adalah raja Bimbel, SSC mempunyai cabang di mana-mana di seluruh Indonesia dalam benytuk waralaba, berkejar-kejaran dengan bimbingan belajar lain yang juga mendominasi, Ganesha Operation (GO).

Saya tidak mengenal almarhum secara pribadi, bahkan bertemu muka juga tidak pernah, namun saya punya cerita tentang almarhum. Pada tahun 90-an awal saya menjadi pengajar di  bimbingan belajar Karisma Salman ITB.  Bimbel di Bandung belum seramai sekarang dan belum banyak saingan. Murid-murid kami  cukup banyak waktu itu. Namun pada tahun 1991  saya mendengar cerita dari murid-murid bimbel kami tentang kehebatan bimbel baru bernama SSC. Memang tidak ada murid bimbel kami yang berpindah, namun teman-teman mereka yang tidak ikut bimbel akhirnya mendaftar ke bimbel SSC.

Kehebatan bimbel SSC terletak pada dua pengajar mereka yang fenomenal. Pertama Sony Sugema itu sendiri, kedua Dimitri Mahayana. Sony saya tidak kenal, tetapi Dimitri adalah teman saya satu angkatan di ITB. Dimitri dikenal sebagai mahasiswa Teknik Elektro yang jenius (belakangan saya juga mendengar Sony juga mahasiswa Teknik Sipil yang jenius). Kedanya memiliki persamaan, Sony dan Dimitri menikah muda. Sony menikah kala tingkat satu, sedangkan Dimitri menikah pada tingkat dua. Istri mereka sama-sama berusia tiga tahun lebih tua dari usia mereka sendiri. Bedanya, Sony memilih mengundurkan diri dari mahasiswa ITB pada tahun pertama itu, sedangkan Dimitri tetap lanjut kuliah dan menjadi dosen ITB hingga sekarang (Baca: Obituari Sony Sugema, Raja Bimbel SSC.)

Dua orang ini membuat siswa-siswa SMA ternganga-nganga, karena keduanya menyelesaikan soal-soal Matematika, Fisika, dan Kimia yang sulit-sulit itu dengan cara cepat yang dikenal dengan dengan nama the fastest solution. Mereka berdua menulis buku-buku penyelesaian soal-soal Sipenmaru (sekarang SBMPTN) dengan teknik (rumus) cepat itu. Buku-buku tersebut laris bak kacang goreng. Banyak siswa SMA membelinya sebagai persiapan tes Sipenmaru. Dimitri sendiri, selain sebagai pengajar idola di SSC, dia sering memberikan ceramah-ceramah futuristik yang memukau. Kloplah dua orang itu membesarkan SSC sehingga menjadi terkenal.

Saya sendiri kurang setuju mengajarkan rumus cepat menyelesaikan soal kepada murid-murid SMA. Kurang mendidik dan tidak memberikan pemahaman konsep, begitu alasan saya kepada murid-murid bimbel kami. Namun, kebanyakan murid SMA tentu berbeda paham dengan saya, bagi mereka yang penting adalah  dapat menjawab soal ujian dengan benar dan singkat, karena dengan waktu ujian yang hanya dua jam, puluhan soal Sipenmaru harus dilibas dengan cepat. Sebagian besar siswa SSC itu menargetkan masuk ITB, dan memang terbukti banyak dari siswa mereka lulus masuk ITB kala itu.

Nama SSC berkibar di kalangan siswa SMA di Indonesia. Waktu itu SSC hanya ada di Bandung. Bagi siswa yang menargetkan masuk ITB, mereka rela memesan tempat jauh-jauh hari untuk mendapatkan kursi bimbingan intensif di SSC (yang tentu saja dengan biaya mahal). Usai Ebtanas (sekarang UN), siswa-siswa dari seluruh Indonesia itu menyerbu Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar intensif di SSC selama satu bulan lebih hingga tes Sipenmaru. Nama SSC seolah-olah menjadi jaminan mutu, sehingga bimbel lain tampaknya kurang terlalu dilirik. Ingat Sony Sugema, ingat SSC, begitu sebaliknya.

SSC berkembang pesat, tetapi di tengah jalan Dimitri keluar dari SSC. Saya mendengar alasan Dimitri keluar adalah karena SSC dikelola oleh keluarga Sony sehingga Dimitri merasa tidak nyaman di dalamnya. Namun, sepeninggal Dimitri, SSC tetap masih eksis, karena mereka merekrut pengajar dari mana-mana (ITB, Unpad, UPI). Sony tetap mengajar di sana.

Berkembangnya bisnis SSC membuat Sony Sugema mencoba membuat eksperimen lain. Dia mencoba mendirikan perguruan tinggi informatika yang bernama (kalau tidak salah) Sekolah Tinggi Informatika Sony Sugema (tetap memakai namanya sebagai brand). Namun dari pengamatan saya, sekolah tinggi ini tidak terlalu berhasil dan kurang peminat.

Selanjutnya dia mencoba misi yang lain. Sony mendirikan sekolah untuk kalangan dhuafa, bernama SMA Alfa Centauri. Sekolah di sini menerapkan sistem subsidi silang. Siswa yang mampu mensubsidi siswa dari kalangan miskin. Siswa dari kalangan miskin gratis sekolah di sana. Sony Sugema memang dikenal sebagai seorang dermawan, dia punya keinginan untuk mengangkat derajat siswa dhuafa dengan sekolah gratis di tempatnya. Saya tiap hari lewat sekolah itu di jalan Supratman. SMA Alfa Centauri saat ini sudah mulai dikenal sebagai sekolah elit, para siswanya bermobil, uang masuknya mahal, namun saya tetap berkeyakinan siswa-siswa miskin diakomodasi dengan sistem subsidi silang itu.

Dikutip dari seorang teman, pada tahun 2002 Sony bersama Pramono Anung dan I Gde Wenten menerima ITB82 award, yang diserahkan langsung oleh Rektor ITB saat itu (Kusmayanto Kadiman) dan Rektor ITB tahun 80-an Pak Hariadi Soepangkat. Sony sengaja membawa ibunya saat itu, dan dalam pidatonya Sony berkata : “Bu, kalau dulu ibu kecewa karena saya tak jadi diwisuda di ITB, saat ini ada dua Rektor yang mewisuda saya”. Kontan saja hadirin bertepuk tangan standing applause untuk Sony.

Selamat jalan Sony. Meskipun saya tidak mengenal secara pribadi, namun kebajikan dan amal soleh yang sudah anda perbuat semoga mendapat balasan pahala dari Allah SWT dan selalu menginspirasi orang lain untuk berbuat amal soleh. Amin.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Bandung. Tandai permalink.

3 Balasan ke Sony Sugema dan Fenomena SSC-nya

  1. mas bro berkata:

    semoga beliau khusnul khatimah

  2. adhyasahib berkata:

    semoga beliau di terima disisinya dan keluarga yg di tinggalkan diberi ketabahan, amiin

  3. Ikhwan Alim berkata:

    inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. semoga beliau menerima amal jariyah atas apa yang beliau perjuangkan di dunia.

    saya adalah salah satu peserta sekaligus “produk” instant dari bimbel SSC. saya ingat betul, tahun 2005, SSC sengaja membuat program khusus utk siswa dari sekolah kami di Magelang.

    tidak seperti program biasa, program yang kami ikuti sangat customized: senin-sabtu. pukul 08.00-12.00. khusus untuk hari selasa, kamis, dan sabtu ditambah lagi pukul 15.00-21.00. waktu pelaksanaan hanya 3-4 pekan. kalau tidak salah hanya 3 pekan, malah. dengan lokasi kelas bukan di jalan sumur bandung, melainkan di kampus ITHB di jalan dipati ukur.

    alhamdulillah berkat program tersebut, saya dan rekan-rekan berhasil masuk di kampus yang kami kehendaki🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s