Orang Minang yang Egaliter

Kesebelasan Semen Padang dikalahkan oleh Mitra Kukar pada pertandingan final Piala Sudirman di Gelora Senayan tanggal 24 Januari 2016 yang lalu dengan skor 2-1. Penonton di Senayan mayoritas adalah pendukung Semen Padang. Mereka adalah pendukung yang sengaja datang dari kampung halaman, namun sebagian besar adalah para perantau yang tinggal di Jabodetabek. Mereka memberikan dukungan baik sebelum dan selama pertandingan. Namun ketika kesebelasan kesayangan mereka kalah, tidak ada aksi anarkis atau marah-marah melampiaskan kekesalan, baik kepada pelatih maupun kepada pemain. Mereka keluar stadion dengan wajah muram sambil membicangkan kekalahan. Kecewa, sudah pasti. Namun seperti tipikal orang Minang yang egaliter dan rasional, tampaknya kekalahan itu tidak berlarut-larut. Besoknya para perantau yang umumnya pedagang di pasar-pasar Jabodetabek beraktivitas kembali seperti biasa. Bahkan, kalau pun Semen Padang menang, saya yakin euforia yang muncul tidak akan berlebihan. Menang atau kalah itu hal yang biasa.

Egaliter. Itu satu kata untuk menggambarkan bahwa orang Minang sejatinya tidak mengkultuskan apapun, baik orang maupun kelompok. Tidak ada pemujaan atau perlakuan istimewa terhadap seorang tokoh. Semua orang dianggap kedudukannya sama, sesuai dengan peribahasa yang berlaku di ranah Minangkabau, duduk sama rendah tegak sama tinggi. Anda tidak akan pernah melihat budaya cium tangan dari rakyat kecil kepada pemimpin seperti yang kita lihat di tanah Jawa, atau cium tangan dari para jamaah kepada ustad atau tokoh agama, sebagaimana yang kita lihat pada budaya santri yang mencium tangan kyai di pesantren di tanah Jawa. Orang Minang mempertahankan egaliteriannya di hadapan orang lain.

Sifat egaliter ini dapat menjelaskan kenapa pada Pilpres 2014 kemarin Capres Jokowi kalah telak di Sumatera Barat. Capres Prabowo memenangkan pertarungan di Sumbar dengan angka yang cukup mencolok, 78% berbanding 22%. Orang Minang tampaknya tidak mempan dengan pencitraan yang dilakukan oleh Jokowi sebelum dan selama kampanye Pemilu dan Pilpres. Mereka tidak bisa ditipu dengan tayangan televisi. Jika di daerah lain Jokowi dielu-elukan dan dipuja-puji, di Ranah Minang adem ayem saja. Orang Minang adalah tipe orang yang tidak mengkultuskan atau mendewa-dewakan orang lain.  Pemilih di sana adalah pemilih yang rasional. Mereka menilai pada visi misi, kinerja, dan ketokohan calon, bukan pada pencitraan yang dibuat-buat atau digadang-gadang oleh media. Meskipun Jusuf Kalla adalah sumando orang Minang (istri Jusuf Kalla berasal dari Minangkabau), namun sentimen kedaerahan tidak mampu mengangkat kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres (analisis lainnya baca ini: 4 Faktor Prabowo-Hatta Menang Telak di Tanah Minang).

Sedikit banyaknya sifat egaliter masyarakat Minang dipengaruhi oleh dua hal: pertama bahasa, kedua agama. Bahasa Minang termasuk ke dalam varian Bahasa Melayu.  Bahasa Melayu sejatinya tidak mengenal perbedaan hirarkhi. Tidak seperti bahasa daerah di Jawa yang memiliki tingkatan bahasa yang halus (kromo) untuk orang yang lebih tua, dituakan, atau dihormati, dan  bahasa umum (ngoko) untuk pergaulan setara, maka bahasa Melayu tidak demikian. Tidak ada perbedaan “kasta” dalam bahasa Melayu (termasuk bahasa Minang). Kepada orang yang lebih tua, lebih muda, tokoh terhormat, orang awam, bahasanya sama saja.

Faktor kedua adalah agama, dalam hal ini agama Islam. Orang Minang umumnya sangat taat menjalankan ajaran agama. Agama Islam mengajarkan kesetaraan, semua orang sama kedudukannya di mata Tuhan, yang membedakan hanya ketaqwaan tiap orang. Di dalam sholat berjamaah tidak ada tempat khusus buat pejabat atau tokoh penting. Siapa yang duluan datang, dia duduk di shaf depan, yang datang belakangan duduk di shaf belakang. Ajaran Islam sudah melekat erat dalam adat istiadat, sehingga timbullah pepatah yang populer di sana yaitu adat basandi syara’, syara’ basandikan kitabullah (adat bersendikan pada syariat Islam, syariat bersendikan pada Kitab Allah, yaitu Al-Quran).

Jika anda datang ke Sumatera Barat, anda akan melihat sifat egaliter itu di lepau-lepau. Lepau atau lapau adalah kedai atau warung tempat para lelaki duduk maota (berbincang-bincang) sambil minum kopi atau makan gorengan, kadang-kadang juga sambil bermain domino. Di lepau itu apa saja dibincangkan, dari berita politik hingga berita kampung. Semua orang bebas bicara, bercanda (bagarah), atau mengolok-olok (mencemeeh). Tidak perlu ada yang marah atau tersinggung, karena di lepau itulah semua yang tersimpan di kepala ditumpahkan.

Saya belum melihat apa kelemahan sifat egeliter, yang saya lihat lebih banyak sisi positifnya. Bagi saya yang seratus persen berdarah Minang, lahir dan besar di tanah Minang, lalu merantau di tanah Jawa (tepatnya di bumi Parahyangan) sedikit banyaknya sifat egaliter ini membentuk saya untuk menempatkan kesetaraan dalam kehidupan. Budaya egaliter di kampus saya, ITB, membuat mahasiswa dan dosen dapat berbaur tanpa sekat-sekat. Saya bisa duduk sejajar dengan rektor. Mahasiswa dan dosen dapat menjabat tangan rektornya tanpa perlu protokoler. Mahasiswa bebas berdiri, berjalan, dan berbincang-bincang dengan profesornya di lorong gedung. Dosen dan mahasiswa bebas menyatakan pendapat di ruang-ruang kelas  tanpa takut.  Pendidikan tinggi di kampus memang seharusnya memperlihatkan egaliterian di antara civitas academica. Tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain, tidak ada yang merasa lebih hebat. Semuanya sama kedudukannya. Seseorang hanya dapat dinilai dari integritas akademik dan integritas moralnya. Selain itu, tidak ada perbedaan. Sebagai orang Minang, saya bangga dengan sifat egaliter itu.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Ranah Minang, Gado-gado. Tandai permalink.

5 Balasan ke Orang Minang yang Egaliter

  1. Aldi berkata:

    Sepakat pak, sebagai orang minang saya bangga dengan karakter orang-orang kita yang lebih mengedepankan rasionalitas dari pada memuja2 dan mengagung2kan suatu hal.

  2. Levan berkata:

    Menurut saya pak Rinaldi terlalu mudah percaya dan cepat menyimpulkan, bisa jadi kelemahan. Wajar sih, jika dididik di jurusan eksakta/teknik cenderung lurus jika ada bukti-bukti/premis-premis dipaparkan.

  3. Ben berkata:

    Ulasan yang menarik pak, namun perlu dikoreksi sedikit. Sependek pengetahuan saya, dalam bahasa minangkabau ada aturan dalam bertutur kata terhadap lawan bicara. Kato nan ampek. Tidak seperti dalam bahasa Jawa, bahasa Minangkabau hanya dibedakan berdasarkan usia bukan status sosial.

  4. Tere berkata:

    Org minang jaman skrg itu kebanyakan busuk hati,Cerdik buruk, pengemis, pemalak, penghalal sgala cara, dan busuk taik, gak bisa lihat org lebih dikit, iri hati, dengki, dan hanya bagak dikandang, juga banyak yg murtad,
    cuma bung hatta dan org minang jaman baholak yg hebat,
    Maaf ini kenyataan, sebagian besar begitu,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s